Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Cara Membuat MOL (Mikro Organisme Lokal) dari Bonggol Pisang

Februari 08, 2018
Pengertian Mikroorganisme Lokal (MOL)

Mikroorganisme lokal (MOL) adalah mikroorganisme yang dimanfaatkan sebagai starter dalam pembuatan pupuk organik padat maupun pupuk cair. Bahan utama MOL terdiri dari beberapa komponen yaitu karbohidrat, glukosa, dan sumber mikroorganisme. Bahan dasar untuk fermentasi larutan MOL dapat berasal dari hasil pertanian, perkebunan, maupun limbah organik rumah tangga. Karbohidrat sebagai sumber nutrisi untuk mikroorganisme dapat diperoleh dari limbah organik seperti air cucian beras, singkong, gandum, rumput gajah, dan daun gamal. Sumber glukosa berasal dari cairan gula merah, gula pasir, sebagai sumber energi, air kelapa dan urin sapi sebagai sumber mikroorganisme. Larutan MOL yang telah mengalami proses fermentasi dapat digunakan sebagai dekomposer dan pupuk cair untuk meningkatkan kesuburan tanah dan sumber unsur hara bagi pertumbuhan tanaman. Mikroorganisme merupakan makhluk hidup yang sangat kecil, mikroorganisme digolongkan ke dalam golongan protista yang terdiri dari bakteri, fungi, protozoa, dan algae (Darwis, 1992).

Menurut Fardiaz (1989) semua mikroorganisme yang tumbuh pada bahanbahan tertentu membutuhkan bahan organik untuk pertumbuhan dan proses metabolisme. Mikroorganisme yang tumbuh dan berkembang pada suatu bahan dapat menyebabkan berbagai perubahan pada fisik maupun komposisi kimia, seperti adanya perubahan warna, kekeruhan, dan bau asam.

Membuat MOL ( MICRO ORGANISME LOKAL) Dari Bonggol Pisang

Sekilas kelihatannya bonggol pisang sangat sepele tapi sebenarnya kalau dimanfaatkan bisa luar biasa. lebih jauh tentang MOL tersebut. Sebenarnya yang bisa dibuat mol bukan hanya bonggol pisang saja tetapi batangnyapun bisa digunakan untuk MOL, tetapi kalau MOL batang pisang manfaatnya tidak sehebat bonggol pisang. Dalam mol batang pisang lebih banyak mengandung unsur hara P atau phospat sehingga banyak digunakan sebagai penambah nutrisi tanaman.

Kalau begitu apa kandungan MOL bonggol pisang ?
Menurut beberapa literatur dalam MOL bonggol pisang mengandung Zat Pengatur Tumbuh Giberellin dan Sitokinin. Selain itu dalam mol bonggol pisang tersebut juga mengandung 7 mikroorganisme yang sangat berguna bagi tanaman yaitu  : Azospirillium, Azotobacter, Bacillus, Aeromonas, Aspergillus, mikroba pelarut phospat dan mikroba selulotik. Tidak hanya itu MOL bonggol pisang juga tetap bisa digunakan untuk dekomposer atau mempercepat proses pengomposan.

Bahan pembuatan MOL bonggol pisang :
1. 1 kg bonggol pisang
2. 2 ons gula merah
3. 2 liter air beras.

Cara membuat MOL bonggol pisang :
1. Bonggol pisang dipotong-potong kecil lalu ditumbuk-tumbuk
2. Iris – iris gula merah lalu masukkan dalam air cucian beras dan aduk-aduk sampai larut
3. Campurkan air cucian beras yang sudah ada gulanya ke dalam bonggol pisang.
4. Masukkan dalam jerigen dan tutup rapat, setiap 2 hari atau jika menggelembung buka tutupnya.
5. Dari pengalaman maspary setelah 15 hari biasanya siap digunakan.
Coba kalau kita praktekkan dan kita terapkan resep-resep MOL, pasti bisa sangat mengurangi biaya usaha kita. Paling tidak bisa mengurangi biaya pembelian pupuk kimia maupun pupuk organik cair ( POC).

Semoga dengan resep sederhana tentang MOL bonggol pisang ini bisa bermanfaat bagi  para petani-petani kreatif Indonesia.

Iklim, Kondisi Lahan, dan Pengolahan Tanah untuk Budidaya Tanaman Jagung

Januari 28, 2018
Jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi yang akhir-akhir ini semakin meningkat pula, jagung biasanya digunakan sebagai pakan dan bahan industri. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan produksi benih jagung nasional dan tampaknya telah membawa hasil yang nyata. 

Iklim, Kondisi Lahan, dan Pengolahan Tanah untuk Budidaya Tanaman Jagung

Budidaya Jagung Hibrida dan bersari bebas memiliki beberapa tahap antara lain sebagai berikut:

Iklim
Faktor-faktor iklim yang terpenting adalah jumlah dan pembagian dari sinar matahari dan curah hujan, temperatur, kelembaban dan angin. Tempat penanaman jagung harus mendapatkan sinar matahari cukup dan jangan terlindung oleh pohon-Pohonan atau bangunan. Bila tidak terdapat penyinaran dari matahari, hasilnya akan berkurang. Temperatur optimum untuk pertumbuhan jagung adalah antara 23 – 27 C.

Kondisi Lahan 
Jagung di Indonesia kebanyakan ditanam di dataran rendah  baik di tanah tegalan, sawah tadah hujan dan beriirigasi serta sebagian kecil di tanam di dataran tinggi. Tanaman jagung umumnya ditanam pada akhir musim hujan (oktober-nopember) dan menjelang musim kemarau.

Tanah yang baik untuk jagung adalah gembur dan subur, karena tanaman ini memerlukan aerasi dan drainase yang baik. Jagung tumbuh baik pada berbagai jenis tanah asalkan mendapatkan pengelolaan yang baik. Tanah dengan tekstur lempung berdebu adalah yang terbaik untuk pertumbuhan. Tanah-tanah dengan tekstur berat masih dapat di tanami jagung dengan hasil yang baik bila pengolahan tanah di kerjakan secara optimal, sehingga aerase dan ketersediaan air dalam tanah berada dalam kondisi baik. 

Kemasaman tanah biasanya erat sekali hubungannya dengan ketersediaan unsur-unsur hara tanaman. Kemasaman tanah (pH) yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung berkisar antara 5,6 – 7,5 (Aldrich, dkk. 1975)

Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menyediakan tempat tumbuh bagi tanaman jagung sehingga perakaran tanaman dapat berkembang dengan baik. Dengan demikian absorbsi hara oleh tanaman berada dalam kondisi optimal. Pengolahan tanah diusahakan agar kondisi air tanah dapat terpelihara dengan baik.

Pada tanah-tanah bertekstur berat, pengolahan tanah sebaiknya dilakukan secara intensif untuk mendapatkan drainase dan aerasi tanah yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman jagung. Untuk menghemat tenaga dan waktu serta memanfaatkan air tersedia dalam tanah, pengolahan tanah secara minimum dapat dilakukan terutama pada tanah bertekstur ringan. Pengolahan tanah secara minimum yaitu dengan merotor atau mencangkul tanah pada barisan yang akan ditanami selebar 40 cm, pda tanah bertekstur ringan tidak memberikan perbedaan hasil yang berarti bila dibandingkan dengan pengolahan tanah secara sempurna/seluruh permukaan tanah.

Setelah pertanaman jagung tumbuh kira-kira 4-5 minggu lalu dilakukan pembumbunan. Pembumbunan, disamping untuk memperbaiki drainase dan aerasi tanah, juga dimaksudkan sekaligus untuk mengurangi gulma yang ada pertanaman jagung. Pembumbunan ini nyata dapat meningkatkan hasil biji jagung. Pembumbunan yang dilakukan pada pertanaman jagung semula tanahnya hanya diolah pada bagian yang akan ditanami saja dan pembumbumbunan juga dapat meningkatkan hasil produksi.

Definisi, Tujuan, dan Sejarah Irigasi Teknis

Januari 26, 2018
Sejarah Irigasi

Arsip paling awal yang di gali dalam penggunaan irigasi pertama adalah Bangsa Mesir sepanjang sungai Nil sekitar 5000 SM.

Definisi, Tujuan, dan Sejarah Irigasi Teknis


Tahun 2100 SM merinci sistem yang digunakan salah satunya saluran sepanjang 19 km (12 mil) yang menyalurkan Sungai Nil untuk dialirkan ke danau Moeris.

Bangsa Sumeria membuat irigasi yang lebih besar disertakan Mesopotamia (sekarang Selatan Iraq) sejak 2400 SM. Cina mempunyai irigasi sejak 2200 SM.

Peru juga membangun sistem canggih sebelum Masehi, dan pada waktu yang sama orang Amerika Asli mempunyai lebih dari 101,000 hektar (250,000 akre) lahan yang diairi di Salt River Lembah Arizona.

Diantara alat untuk pengangkatan air dari sungai ketempat yang tinggi adalah bangsa Mesir Shadoof, yang mana suatu keranjang ditempatkan pada ujung sebatang kayu suatu kutub counterweighted. Sedangkan kincir air digunakan oleh bangsa Persia dan India sejak saat ini, juga termasuk Indonesia.

Suatu metode yang jauh lebih maju adalah pembuatan bendung, dimana tinggi air dapat di atur sesuai kebutuhan dengan mengatur tinggi bendung. Air bisa diangkat untuk suatu tingkatan yang diinginkan. Air kemudian mengalir dengan gaya berat melalui saluran atau areal yang lebih rendah yagn diinginkan.

Metoda ini telah dipraktekkan secara besar-besaran pada awal peradapan, penggunaan struktur tanah yang sederhana. Hal itu merupakan prinsip yang sama pada irigasi modern, dengan menggunakan struktur beton besar seperti Bendungan Great Coulee di Washington.

Definisi Irigasi Teknis

Irigasi secara umum didefinisikan sebagi penggunaan air pada tanah untuk keperluan penyediaan cairan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman (Vaughn E. Hanson dkk. Dasar-Dasar dan Praktik Irigasi, 1984).

Irigasi adalah penyaluran air yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman ke tanah yang diolah dan mendistribusikannya secara sistematis. Perancangan irigasi disusun terutama berdasarkan kondisi meteorologi di daerah yang bersangkutan dan kadr air yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman (Suyono Sosrodarsono. Hidrologi untuk Pengairan. 1977).

Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pembuatan bangunan air untuk menunjang usaha pertanian, termasuk didalamnya tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan (Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, 2009).

Irigasi merupakan suatu sistem yang tidak bersifat mandiri, melainkan saling bekaitan dengan sistem lainnya yang lebih luas. Sebagai contoh irigasi sebagai unit produksi merupakan subsistem dari pertanian dan merupakan unit hidrologis dari subsistem Daerah Aliran Sungai (DAS). (Efendi Pasandaran dan Donald C. Taylor, 1982).

Irigasi teknis adalah jaringan irigasi ini terdapat pemisahan antara saluran pembawa dan pembuang, setiap bangunan pembagi/sadap selalu dilengkapi dengan alat ukur debit.

Peran irigasi teknis sangat penting dalam pemenuhan produksi pangan nasional. Dari luas  wilayah irigasi yang telah di bangun pemerintah sampai dengan tahun 2009 adalah 7.2 juta ha, menyumbang produksi beras nasional seperti pulau Jawa dan Sumatera memnerikan kontribusi paling besar dan disusul dengan Sulawesi, Kalimantan dan Nusa Tenggara serta Bali, sementara Maluku dan Papua merupakan lumbung pada yang mulai dikembangkan. Demikian dikatakan Plt  Direktur jenderal Sumber Daya Air Moch. Amron dalam dialog dengan RRI Pro2 fm 15 Maret 2010.

Dari beberapa sawah beririgasi teknis seluas 799 ribu ha (11.05%)  mendapatkan pasokan air irigasi dari waduk dan 6.4 juta ha (88.95%) mendapatkan pasokan air langsung dari sungai. Perhitungan produksi beras yang dihasilkan adalah luas irigasi dengan intensitas tanam untuk sawah yang terdiri oleh waduk atau bendungan dikalikan produktivitas tanam.

Tujuan Irigasi Teknis
Tujuan irigasi teknis secara umum adalah untuk:
1. Menambah air kedalam tanah untuk menyediakan cairan yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
2. Menyediakan jaminan panen pada saat musim kemarau yang pendek
3. Mendinginkan tanah dan atmosfer, sehingga menimbulkan kondisi lingkungan yang baik untuk pertumbuhan tanaman.
4. Mengurangi bahaya pembekuan.
5. Mencuci dan mengurangi garam dalam tanah.
6. Mengurangi bahaya erosi tanah.
7. Melunakan pembajakan dan gumpalan tanah.
8. Memperlambat pembentukan tunas dengan pendinginan karena penggumpalan.

Sedangkan tujuan irigasi secara spesifik adalah untuk mengambil air dari sumbernya (diverting), membawa atau mengalirkan air dari sumber ke lahan pertanian (conveying), mendistribusikan air kepada tanaman (distributing), dan mengatur serta mengukur aliran air (regulating and measuring).

Konsep irigasi yang akan diterapkan harus sesuai dengan keadaan lingkungan. Berdasarkan ketersediaan air irigasi, konsep irigasi dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Irigasi aliran kontinue, pemberian air irigasi secara terus menerus biasa diterapkan di daerah dengan kondisi air irigasi melimpah.
2. Irigasi putus-putus, pemberian air irigasi secara berkala dengan interval tertentu disesuaikan dengan kebutuha tanaman biasa diterapkan pada lahan dengan kondisi air irigasi kurang atau tidak berlimpah.
3. Irigasi aliran balik, penggunaan iar irigasi secara berulang biasa dilakukan di daerah dengan kondisis air irigasi sangat kurang.

Pemberian air irigasi dapat dilakukan dengan lima cara yaitu dengan cara penggenangan (flooding), menggunakan alur besar atau kecil, mengguanakan air bawah tanah sebagai subirigasi sehingga air permukaan tanah naik, penyiraman (sprinkling) dan sistem cucuran (trickle).

Aplikasi irigasi teknis alternatif adalah aplikasi irigasi teknis yang bukan berbasis kepada jaringan saluran air yang hanya mengandalkan gravitasi air dari sungai atau waduk.  Aplikasi irigasi alternatif hampir selalu membutuhkan pemompaan air. Cara yang lazim dipergunakan dewasa ini di Indonesa, khususnya di Pulau Jawa, umumnya mengandalkan kepada pemompaan dengan motor berbahan bakar minyak bensin atau solar. Untuk tanaman palawija di Pulau Jawa misalnya, dibutuhkan biaya untuk pembelian bahan bakar minyak sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu  untuk irigasi per hektar pada setiap hari irigasi pada kondisi kesulitan air. Biaya irigasi tersebut sebenarnya lebih besar dari itu, karena masih harus ditambahkan biaya pembelian motor dan pompa, serta upah tenaga kerja untuk irigasi.   Percobaan awal yang dilakukan pada field station oleh pengaju proposal ini, mengindikasikan bahwa ongkos total irigasi tersebut bisa diturunkan menjadi hanya 15%-25%, artinya penurunan ongkos antara 75% hingga 85%, bila digunakan aplikasi irigasi alternatif berbasis prime mover kincir angin – dengan berbagai alternatif sistem pemompaan dan penyaluran, sekalipun pada wilayah dengan angin berkecepatan rendah di Indonesia. Potensi penurunan total ongkos tersebut menjajikan prospek terobosan teknologi yang perlu untuk dikaji lebih lanjut untuk kondisi-kondisi spesifik tertentu, karena berpotensi untuk mempunyai dampak yang signifikan untuk membantu petani, termasuk potensi untuk mengurangi kemiskinan di perdesaan, dan mendukung upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Kesimpulan
1. Arsip paling awal yabg di gali dalam penggunaan irigasi pertama adalah Bangsa Mesir sepanjang sungai Nil sekitar 5000 SM.

2. Irigasi teknis adalah jaringan irigasi ini terdapat pemisahan antara saluran pembawa dan pembuang, setiap bangunan pembagi/sadap selalu dilengkapi dengan alat ukur debit.

3. Tujuan irigasi secara umum adalah untuk:
a. Menambah air kedalam tanah untuk menyediakan cairan yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
b. Menyediakan jaminan panen pada saat musim kemarau yang pendek
c. Mendinginkan tanah dan atmosfer, sehingga menimbulkan kondisi lingkungan yang baik untuk pertumbuhan tanaman.
d. Mengurangi bahaya pembekuan.
e. Mencuci dan mengurangi garam dalam tanah.
f. Mengurangi bahaya erosi tanah.
g. Melunakan pembajakan dan gumpalan tanah.
h. Memperlambat pembentukan tunas dengan pendinginan karena penggumpalan.

Memanfaatkan dan Menggunakan Daun Mimba Sebagai Pestisida Nabati

Januari 25, 2018
Pengertian Pestisida Nabati

Kardinan (2008), mengatakan bahwa pestisida nabati merupakan kearifan lokal di Indonesia yang sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), guna mendukung terciptanya sistem pertanian organik. Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan atau bagian tumbuhan seperti akar, daun, batang atau buah. Pestisida nabati relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas juga oleh karena terbuat dari bahan alami /nabati,maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang.

Memanfaatkan dan Menggunakan Daun Mimba Sebagai Pestisida Nabati


Pestisida nabati bersifat ” pukul dan lari ” ( hit and run), yaitu apabila diaplikasikan akan membunuh hama pada waktu itu dan setelah hamanya terbunuh maka residunya akan cepat menghilang di alam. Dengan demikian tanaman akan terbebas dari residu pestisida dan aman untuk dikonsumsi. Penggunaan pestisida nabati dimaksudkan bukan untuk meninggalkan dan mengganggap tabu penggunaan pestisida sintetis, tetapi hanya merupakan suatu cara alternatif dengan tujuan agar pengguna tidak hanya tergantung kepada pestisida sintetis (Anonimous, 2009).

Kandungan Kimia Daun Mimba  sebagai Pestisida Nabati

Mimba, terutama dalam biji dan daunnya mengandung beberapa komponen dari produksi metabolit sekunder yang diduga sangat bermanfaat, baik dalam bidang pertanian (pestisida dan pupuk), maupun farmasi (kosmetik dan obat-obatan). Beberapa diantaranya adalah azadirachtin, salanin, meliantriol, nimbin dan nimbidin Azadirachtin sendiri terdiri dari sekitar 17 komponen dan komponen yang mana yang paling bertanggung jawab sebagai pestisida atau obat. Mimba tidak membunuh hama secara cepat, namun mengganggu hama pada proses makan, pertumbuhan, reproduksi dan lainnya (Senrayan, 1997).

Azadirachtin berperan sebagai ecdyson blocker atau zat yang dapat menghambat kerja hormon ecdyson, yaitu suatu hormon yang berfungsi dalam proses metamorfosa serangga. Serangga akan terganggu pada proses pergantian kulit, ataupun proses perubahan dari telur menjadi larva, atau dari larva menjadi kepompong atau dari kepompong menjadi dewasa. Biasanya kegagalan dalam proses ini seringkali mengakibatkan kematian (Wiwin, 2008).

Salanin berperan sebagai penurun nafsu makan (anti-feedant) yang mengakibatkan daya rusak serangga sangat menurun, walaupun serangganya sendiri belum mati. Oleh karena itu, dalam penggunaan pestisida nabati dari mimba, seringkali hamanya tidak mati seketika setelah disemprot (knock down), namun memerlukan beberapa hari untuk mati, biasanya 4-5 hari. Namun demikian, hama yang telah disemprot tersebut daya rusaknya sudah sangat menurun, karena dalam keadaan sakit (Ruskin, 1993).

Meliantriol berperan sebagai penghalau (repellent) yang mengakibatkan serangga hama enggan mendekati zat tersebut. Suatu kasus terjadi ketika belalang Schistocerca gregaria menyerang tanaman di Afrika, semua jenis tanaman terserang belalang, kecuali satu jenis tanaman, yaitu mimba. Mimba pun dapat merubah tingkah laku serangga, khususnya belalang (insect behavior) yang tadinya bersifat migrasi, bergerombol dan merusak menjadi bersifat solitair yang bersifat tidak merusak (Sudarmadji, 1999).

Nimbin dan nimbidin berperan sebagai anti mikro organisme seperti anti-virus, bakterisida, fungisida sangat bermanfaat untuk digunakan dalam mengendalikan penyakit tanaman. Tidak terbatas hal itu, bahan-bahan ini sering digunakan dan dipercaya masyarakat sebagai obat tradisional yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit pada manusia (Kardinan, 2003).

Manfaata Ekstrak Daun Mimba Sebagai Pestisida Nabati

Manfaat daun mimba sebagai pestisida nabati sangat mengguntungkan bagi para petani dalam pengendalian hama secara biologis dan selain itu juga dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk kesehatan. Tanaman Mimba sebagai pestisida nabati memiliki daya kerja yang efektif, ekonomis, aman, mudah didapat dan ramah lingkungan.  Zat-zat racun yang ada di dalam tanaman mimba bermanfaat untuk insektisida, repelen, akarisida, penghambat pertumbuhan, neumatisida, fungisida, anti virus.Racun tersebut sebagai racun perut dan sistemik. Mimba memiliki efek anti serangga dengan azadirachtin sebagai komponen yang paling paten (Taryono, 2003).

Ekstrak daun dapat berefek sebagai fungisida alami pada pengendalian penyakit antraknosa pada apel pasca panen, berefek insektisida terhadap larva Aedes aegypti. Toksisitas dapat menyebabkan iritasi mata dan jaringan lunak, serta kemungkinan sebagai penyebab konjugtivitas dan inflamasi.  Sudah sejak lama mimba digunakan sebagai pestisida nabati dengan kemanjuran dan peruntukan yang luas (Broad spectrum), baik digunakan secara sederhana di negara berkembang, maupun digunakan secara terformula di negara maju, seperti Amerika Serikat. Pada awalnya hanya diperuntukan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada tanaman yang bukan untuk dikonsumsi, namun belakangan ini sudah diperkenankan dipergunakan untuk mengendalikan OPT pada tanaman pangan (food crops) (Ruskin, 1993).

Menurut Anonimous (2009), bahwa untuk menghasilkan pangan sehat dan aman (toyibanfood) antara lain dapat melalui gerakan pertanian organik, yang melarang penggunaan pestisida kimia sintetis, menggantinya dengan pestisida nabati yang bersahabat dengan lingkungan dan aman bagi kesehatan manusia . Pestisida nabati dapat membunuh atau mengganggu serangga hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal. Cara kerja pestisida nabati sangat spesifik, yaitu : Merusak perkembangan telur, larva dan pupa, menghambat pergantian kulit, mengganggu komunikasi seangga, menyebabkan serangga menolak makan, menghambat reproduksi serangga betina, mengurangi nafsu makan, memblokir kemampuan makan serangga, mengusir serangga, dan menghambat perkembangan patogen penyakit.

Keunggulan dan Kelemahan Daun Mimba sebagai Pestisida Nabati

Keunggulan Mimba (Azadirachta indica)

Menurut  Rembold (1989) Pengendalian hama dengan menggunakan mimba sebagai insektisida nabati mempunyai beberapa keunggulan antara lain :
• Di alam senyawa aktif mudah terurai, sehingga menghasilkan produk pertanian yang sehat karena bebas residu pestisida kimia.
• Cara kerja spesifik, sehingga relatif aman terhadap vertebrata (manusia, lingkungan dan ternak)
• Tidak mudah menimbulkan resistensi, karena jumlah senyawa aktif lebih dari satu.
• Murah dan mudah dibuat oleh petani, , tidak menyebabkan keracunan pada tanaman, sulit menimbulkan kekebalan terhadap hama, kompatibel digabung dengan cara pengendalian yang lain.

Kelemahan mimba (Azadirachta indica)

Menururt Ruskin (1993) beberapa  kelemahan mimba sebagai pestisida nabati antara lain :
• Persitensi insektisida yang singkat kadang kurang menguntungkan dari segi ekonomis, karena pada populasi yang tinggi diperlukan aplikasi yang berulang-ulang agar mencapai keefektifan pengendalian yang maksimal.
• Biaya produksi lebih mahal, sehingga harga jualnya belum tentu lebih murah dari insektisida sintetik.

• Daya kerjanya relatif lambat, tidak membunuh jasad sasaran secara langsung, tidak tahan terhadap sinar matahari, kurang praktis , tidak tahan disimpan dan  kadang-kadang harus disemprotkan berulang-ulang.

Pengaruh Pupuk Organik Granul (POG) Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Buncis

Januari 24, 2018
Pupuk Organik Granul (POG)

Pupuk Organik Granul (POG) merupakan pupuk organik berbentuk curah atau butiran yang berasal dari sisa hayati yang familiar dan mudah didapat di lingkungan sekitar kita seperti kotoran ternak, limbah agroindustri, sisa-sisa tumbuhan dan dedaunan, dan lain sebagainya yang bersifat organik. POG mampu menyediakan fungsi hara makro dan mikro lengkap dengan senyawa organik komplek (enzim dan asam organik komplek) serta mendukung keberadaan mikrooragnisme yang menguntungkan (Silvi, 2010).

Pengaruh Pupuk Organik Granul (POG) Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Buncis

Menurut Isroi (2008),   POG memiliki kandungan hara lengkap tetapi kandungan hara tersebut rendah, meskipun demikian kelebihan POG adalah selain memiliki senyawa-senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman seperti asam humik dan asam fulvat yang memiliki peranan seperti hormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Mikroba-mikroba yang digunakan sebagai biofertilizer termasuk golongan mikroba Plant  Growt Promoting Rhizobacteria (PGPR) atau dapat dikategorikan sebagai pupuk two in one yakni pupuk organik dan pupuk hayati.

Menurut Silvi (2010), manfaat POG juga sangat bagus dan menguntungkan seperti mampu memperbaiki kesuburan sifat fisik tanah dalam jangka panjang dan memacu aktivitas makro dan mikroorganisme tanah, menghemat biaya dari pemakaian pupuk anorganik sintetik dan mengandung ekstrak biofertilizer dan pestisida hayati, bebas spora cendawan atau jamur, biji gulma, telur parasit atau hama, bakteri pathogen, termasuk gas beracun, tidak berbau dan meningkatkan produksi tanaman secara keseluruhan (kuantitas, kualitas penampilan, rasa, warna, aroma, dan daya tahan penyimpanan).

Sebagaimana umumnya pupuk alami (organik), pupuk organik granul tidak mempunyai efek samping yang merugikan bagi tanaman dan lingkungan, serta produk hasil tanaman aman bagi kesehatan manusia. Dibuat dari campuran kompos, zeolit, dolomit, phosphate alam, phosphate guano dan abu janjang sawit serta bakteri probiotik lainnya (Budi, 2010).

Praktis dapat diaplikasikan sebagai pupuk dasar, menghemat pemakaian pupuk kimia (anorganik) sebesar 35-50% , dapat dipakai sebagai pupuk dasar dan atau pupuk susulan. Dosis Pemakaian untuk tanaman pangan (padi, kedelai, jagung, kacang tanah, padi huma dan sejenisnya) : 1–2 t.haˉ¹ diberikan sebelum tanam (setelah pengolahan tanah) dengan cara ditabur. Pemberian granul pada tanaman pangan dapat juga ditaburkan pada usia padi 20–25 hari, untuk tanaman hortikultura (sayuran, cabe, kentang, kubis dan sejenisnya) 2–4 t.haˉ¹, diberikan pada sebelum atau saat tanam dengan pembuatan larikan atau di sekitar tanaman dan untuk tanaman Perkebunan: 2, 5 – 5 kg/pohon, diberikan di sekitar perakaran dengan cara membuat parit melingkar pada jarak 2-3 proyeksi kearah tajuk (kanopi daun) serta dapat pula digunakan untuk tanaman hias dan pembibitan (media) sebagai campuran dengan sekam, tanah dan media tanam lainnya (Budi, 2010).

Menurut Isroi (2008), jika dilihat dari sisi kemudahan aplikasi bentuk granul lebih menguntungkan dengan alasan kebutuhan lebih sedikit karena kadar airnya rendah, lebih mudah ditabur, lebih mudah dalam transportasi dan penyimpanan. POG yang beredar dikalangan petani ada bermacam-macam merk tetapi spesifikasi jenis hara makro, mikro dan biofertilizer yang terdapat pada pupuk-pupuk tersebut hampir sama. Analisis laboratorium untuk parameter kimia pupuk ini dapat dilihat pada Lampiran 6.

Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Buncis

Pertumbuhan tanaman adalah perubahan secara kuantitatif selama siklus hidup tanaman yang bersifat tak balik (irreversible). Pertumbuhan adalah proses pertambahan ukuran sel atau organisme. Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif/ terukur. Perkembangan adalah proses menuju kedewasaan pada organisme.  Proses ini berlangsung secara kualitatif. Baik pertumbuhan atau perkembangan bersifat irreversibel. Bila kita menanam biji tanaman, dapat diamati bahwa dari hari ke hari terjadi perubahan tinggi. Secara kualitatif, terlihat bentuk awal (biji) yang demikian sederhana menjadi bentuk tanaman yang lengkap (Yulianita, 2008).

Pertumbuhan juga menunjukkan pertambahan ukuran dan  berat kerong yang tidak dapat balik dan mencerminkan pertambahan protoplasma, sedangkan perkembangan mencakup diferensiasi sel dan ditunjukkan oleh perubahan yang lebih tinggi menyangkut spesialisasi anatomi dan fisiologi. Pada tanaman yang sedang tumbuh, terlihat adanya pembentukan organ-organ baru. Misalnya daun semakin banyak, akar semakin panjang dan bertambah banyak. Secara umum pertumbuhan dan pekembangan pada tumbuhan diawali untuk stadium zigot yang merupakan hasil pembuahan sel kelamin betina dengan jantan. Pembelahan zigot menghasilkan jaringan meristem yang akan terus membelah dan mengalami diferensiasi. Pertumbuhan terbagi atas dua macam yaitu pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder. Pertumbuhan primer terjadi sebagai hasil pembelahan sel-sel jaringan meristem primer. Berlangsung pada embrio, bagian ujung-ujung dari tumbuhan seperti akar dan batang. Pertumbuhan sekunder merupakan aktivitas sel-sel meristem sekunder yaitu kambium dan kambium gabus. Pertumbuhan ini dijumpai pada tumbuhan dikotil, gymnospermae dan menyebabkan membesarnya ukuran (diameter) tumbuhan (Yulianita, 2008).

Menurut Faperta (2010), perkembangan tanaman adalah semua perubahan fisiologis yang mencakup doferensiasi sel dan ditunjukkan oleh perubahan yang lebih tinggi menyangkut spesialisasi anatomi dan fisiologi. proses perubahan secara kualitatif atau mengikuti pertumbuhan tanaman atau bagian-bagiannya. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dibagi ke dalam 4 fase yaitu fase embryonis, fase muda (juvenil/vegetatif), fase dewasa (mature/reproduktif/generatif), pase menua dan aging (seniil/senescence) yang semuanya terjadi dalam tubuh tanaman selama siklus hidupnya (Yulianita, 2008).


Menurut Yulianita (2008),ada beberapa faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman yaitu hormon pertumbuhan (uksin, giberelin, sitokinin, dan lain-lain), nutrisi (hara makro dan mikro essensial), gen dan lingkungan (cahaya, air, suhu, keasaman tanah, kerapatan tanaman, mineral dan bahan organik tanah, dan lain-lain).

Budidaya Tanaman Buncis di Lahan Rawa Lebak

Januari 23, 2018
Menurut Noor (2007), rawa lebak adalah kawasan rawa dengan bentuk menyerupai cekunagn dan merupakan wilayah yang dibatasi oleh satu atasu dua tanggul sungai (levee) atau antara daratan tinggi dengan tanggul sungai. Rawa lebak adalah salah satu agroekosistem yang dimiliki Indonesia dengan luas sekitar 13,28 ha, terdiri dari rawa lebak dangkal seluas 4.166.000 ha, lebak tengahan seluas 6.076.000 ha dan lebak dalam seluas 3.039.000 ha. Potensi rawa lebak ini belum banyak dimanfaatkan atau dikembangkan. Petani di Kalimantan Selatan memanfaatkan rawa lebak untuk membudidayakan pertanaman padi dan sayuran pada lebak dangkal dan tengahan. Untuk Kalimantan Selatan sendiri dari luas 1.238.573 ha lahan pertanian yang tersedia untuk dikembangkan, sekitar 409.101. ha (33,0%) diantaranya diarahkan untuk komoditas tanaman tahunan, 494.791 ha (39,9%) untuk komoditas tanaman semusim dan sisanya 334.681 ha (27,0%) di arahkan untuk padi sawah dan untuk peta ketersediaan lahan untuk pengembangan pertanian di Kalimantan Selatan dapat dilihat pada Lampiran 3 (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2010).

Budidaya Tanaman Buncis di Lahan Rawa Lebak

Menurut Farina (2008), lahan rawa lebak merupakan lahan yang dipengaruhi oleh iklim tropika basah dengan curah hujan antara 2.000-3.000 mm per tahun. Bahan induk tanah rawa lebak umumnya berupa endapan alluvial sungai, endapan marin, atau gambut. Sifat fisik tanah dari lahan rawa lebak umumnya tergolong masih mentah, sebagian melumpur, kandungan lempung (clay) tinggi atau gambut tebal dengan berbagai taraf kematangan. Lapisan bawah sering berupa lapisan pirit (FeS2) yang berpotensi masam; atau pasir kuarsa yang miskin hara menjadikan sifat kimia dan biologi tanah pada lahan rawa lebak  tergolong sedang sampai sangat jelek.

Kesuburan tanah yang cenderung jelek ini juga disebabkan oleh hidrologi atau sistem tata air yang buruk. Ketersediaan sarana dan prasarana tata air yang belum memadai sehingga kinerja pengatusan (drainage), pelindian (leaching), dan penggelontoran (flushing) belum mampu mempercepat perkembangan tanah (Farina, 2008).

Lahan rawa lebak hampir merata terdapat di wilayah Kalimantan Selatan, begitu juga dengan Hulu Sungai Utara yang merupakan salah satu kabupatennya. Potensi lahan rawa lebak di Kabupeten Hulu Sungai Utara terbilang cukup luas, dari 37.498 ha luas potensial baru 24.182 ha yang telah dimanfaatkan untuk budidaya pertanian khususnya padi. Lahan rawa lebak di Kabupaten Hulu Sungai Utara merupakan lahan yang kondisi airnya dipengaruhi oleh air hujan, baik yang turun di daerah setempat maupun di daerah hulunya. Berdasarkan genangan airnya lahan ini dibedakan dalam 3 zona hidrotopografi (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Hulu Sungai Utara, 2004).

Zona lebak pematang yaitu lahan dengan genangan airnya relatif dangkal (< 50 cm) potensi zona ini seluas 9.134 ha, yang telah dimanfaatkan seluas 5.949 ha. Zona lebak tengahan yaitu lahan dengan gengangan air relatif dalam (50-100 cm) potensi zona ini seluas 15.377 ha, yang telah dimanfaatkan seluas 13.462 ha. Zona lebak dalam yaitu lahan dengan genangan airnya relatif sangat dalam (> 100 cm) dengan potensi lahan 12.987 ha, dan yang telah dimanfaatkan seluas 4.771 ha (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Hulu Sungai Utara, 2004).

Lahan rawa lebak yang digunakan dalam penelitian ini merupakan lahan yang berada di Desa Jumba Kecamatan Amuntai Selatan Kabupaten Hulu Sungai Utara yang secara geografis terletak pada 02'17,2 LS - 02'27 LS, 115'05 BT - 115'15,2 BT. Luas wilayah kecamatan Amuntai Selatan adalah 183,16 km per segi (18.316 ha). Berdasarkan penggunaan tanah di bidang pertanian di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara , sawah seluas 23.853 ha, kebun  campuran seluas 1.859 ha, hutan rawa seluas 22.768 ha. Secara jelasnya, penggunaan tanah pada masing-masing kecamatan yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan analisis laboratorium untuk tanah rawa lebak yang ada di Desa Jumba dapat dilihat pada tabel yang tertera pada Lampiran 4 dan 5. (Badan Pusat Statistik Kabupaten Hulu Sungai Utara, 2009).

Seperti pada umumnya lahan rawa lebak memiliki beberapa permasalahan baik dari segi fisik, kimia dan biologinya. Rendahnya kesuburan lahan dan pH tanah, adanya zat beracun (Al, H2S dan Na), hidrologi yang buruk, pertumbuhan gulma yang sangat cepat dan adanya hama dan penyakit yang seringkali menyerang tanaman budidaya menjadi kendala dalam pengembangan tanaman pangan dan hortikultura (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Hulu Sungai Utara, 2004).

Budidaya buncis pada lahan jenis ini memerlukan tindakan pemupukan, hal ini perlu dengan alasan hara tanaman yang disediakan oleh media tumbuh tanaman dalam jumlah yang terbatas. Pada lahan rawa sangat rentan sewaktu-waktu zat hara akan berkurang karena tercuci ke dalam lapisan tanah, terbawa erosi bersama larutan tanah, hilang melalui proses evaporasi dan diserap oleh tanaman itu sendiri. Apabila keadaan tersebut dibiarkan terus menerus tanpa adanya perbaikan, maka makin lama persediaan hara dalam tanah makin berkurang sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman terganggu. Untuk mencukupi kebutuhan hara tersebut perlu tambahan dari luar melalui pemupukan. Diharapkan dengan pemupukan akan mengembalikan dan meningkatkan kandungan hara tanah sehingga tanaman akan subur dan produksinya melimpah (Kuring, 2007).

Membudidayakan tanaman buncis di lahan rawa lebak maka agar pertumbuhan dan perkembangan serta produksinya optimal sangatlah memerlukan unsur hara baik makro maupun mikro untuk meningkatkan kesuburan tanah yang dapat dilakukan dengan cara perbaikan teknik budidaya, salah satunya dengan pemberian pupuk. Budidaya tanaman buncis memerlukan jumlah pupuk yang cukup besar yaitu pupuk kandang sebagai pupuk dasar sebanyak 25 t.haˉ¹, sedangkan untuk standar kebutuhan pupuk anorganik/kimia untuk pupuk urea sebanyak 110-220 kg.haˉ¹, pupuk SP-36 sebanyak 280-556 kg.haˉ¹, dan pupuk KCl sebanyak180-250 kg.haˉ¹ (Cahyono, 2003).


Saat ini pupuk anorganik terbilang mahal dan langka bahkan ada beberapa pupuk tersebut palsu tetapi beredar di pasaran, selain itu penggunaan pupuk anorganik sintetik pun saat ini tidak dianjurkan sebab menurut penelitian penggunaan pupuk anorganik dalam jumlah dan jangka waktu yang lama justru akan merusak dan menurunkan kualitas tanah. Maka untuk mengatasi masalah tersebut serta untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas tanaman buncis perlu dikembangkan potensi sumberdaya hayati yang bersifat ramah lingkungan dan dapat dijadikan sebagai substitusi pupuk anorganik sintetik, salah satunya adalah Pupuk Organik Granul (POG) (Isroi, 2008).

Inilah Syarat Tumbuh dan Hama Penyakit Tanaman Buncis

Januari 22, 2018
Syarat Tumbuh Tanaman Buncis

Menurut Kuring (2007), tanah yang cocok bagi tanaman buncis ternyata banyak terdapat di daerah yang mempunyai iklim basah sampai kering dengan ketinggian bervariasi namum tanaman ini sangat cocok dengan jenis tanah andosol dan regosol karena mempunyai drainase yang baik. Tanah berwarna hitam, bahan organiknya tinggi, bertekstur lempung hingga debu, remah, gembur dan permeabilitasnya sedang, bisa pula ditanam pada tanah bertekstur pasir sampai berbutir tunggal dan permeabel.

Inilah Syarat Tumbuh dan Hama Penyakit Tanaman Buncis

Menurut Cahyono (2003), tanah liat yang berat tidak cocok untuk budidaya buncis karena memiliki daya ikat air atau daya serap air sangat rendah sehingga tanah mudah tergenangi air selain itu tanah liat juga memiliki aerasi yang buruk. Ketersediaan unsur hara tanah juga tergantung dari pH, tanah yang memiliki pH  kurang dari 5,5 miskin unsur hara Magnesium (Mg), Boron (B) dan Molibdenum (Mo). Di samping itu, beberapa unsur hara dapat menjadi racun bagi tanaman jika tanah terlalu asam, antara lain Besi (Fe), Aluminium (Al) dan Mangan (Mn). Begitu pula dengan sifat biologis tanah juga sangat berpengaruh terhadap kesuburan tanaman dan produksi polong. Tanaman buncis dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi jika ditanam pada tanah yang banyak mengandung bahan organik dan organisme pengurai bahan organik tersebut. Sifat biologis tanah yang baik juga dapat menyimpan kelebihan zat makanan (hara), membantu proses nitrifikasi, menekan pertumbuhan patogen, memperlancar aerasi di dalam tanah sehingga dapat menetralisir gas-gas beracun di dalam tanah, meningkatkan jumlah oksigen di dalam tanah dan peresapan air.

Tanaman buncis dapat tumbuh dengan baik dan produksinya tinggi pada kisaran suhu udara antara 20-25 ºC. Keaadaan udara lebih dari kisaran tersebut dapat menyebabkan kualitas polong sangat rendah, bahkan polong buncis tidak berisi (tidak berbiji) dan jika suhu lebih rendah dari batas kisaran tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang baik dan pembentukan polong sangat sedikit. Kisaran suhu yang lebih rendah atau lebih tinggi dari batas-batas tersebut juga dapat mengakibatkan kematian pada tanaman buncis (Cahyono, 2003).

Kelembaban udara dan tanah yang optimum bagi tanaman buncis adalah sedang (cukup kering) yaitu berkisar antara 50-60%. Kelembaban udara yang terlalu rendah (kering) atau terlalu kering dan pengairan tanah yang kurang dapat menyebabkan tanaman buncis tumbuh kurang baik dan produksi polong rendah baik kualitas maupun kuantitasnya (Cahyono, 2003).

Curah hujan sebaiknya cukup merata sepanjang tahun, daerah yang memiliki curah hujan antara 1.500-2.500 mm/th sangat cocok untuk budidaya tanaman buncis. Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan buncis menjadi kurang baik sedangkan curah hujan yang rendah dapat menyebabkan banyak bunga yang gugur dan polong yang dihasilkan pendek-pendek serta bengkok (Cahyono, 2003).

Tanaman buncis dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi memmerlukan penyinaran cahaya matahari penuh sepanjang hari yaitu 10-12 jam atau memerlukan cahaya banyak sekitar 400-800 footcandles, untuk mendapatkan sinar matahari penuh penanaman harus ditempat terbuka (Cahyono, 2003).

Angin yang kencang dan terus menerus dapat merobohkan atau merusak tanaman buncis, dapat mempercepat evaporasi sehingga tanah cepat mengering dan keras (memadat). Oleh karena itu, pemilihan lokasi untuk budidaya buncis harus memperhatikan keadaan angin. Daerah yang keadaan anginnya tenang dan tidak sering terjadi angin kencang sangat cocok untuk budidaya buncis (Cahyono, 2003).

Hama dan Penyakit Tanaman Buncis

Menurut Cahyono(2003), hama yang sering menyerang pada tanaman buncis antara lain adalah ulat jengkal (Plusia Sp), ulat grayak (Spodoptera litura), ulat penggerek polong (Etiella zinckenella), ulat penggulung daun (Lamprosema Sp), ulat polong (Helicoverpa armigera), lalat bibit (Agromyza Sp), kutu daun (Aphis gossypii), ulat tanah (Agrotis Sp), kepik pengisap polong (Riptortus linearis dan Nezara viridula), nematoda bengkak akar (Meloidogyne Sp), kumbang daun (Henosepilachna signatipennis atau Epilachna signatipennis), tungau merah (Tetranychus cinnabaricus Boisd) dan siput (Cahyono, 2003).

Beberapa jenis penyakit yang sering menyerang tanaman buncis adalah penyakit bercak coklat pada daun (Cercospora), penyakit karat yang disebabkan oleh cendawan Uromyces phaseoli (pers) Wint Var. Typica Arth, penyakit antraknosa yang disebabkan oleh cendawan Colltotrichum lindemuthianum (Sacc. et Magn) Briosi et Cav, penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum, penyakit daun berkerut (Mosaik), penyakit bercak hitam pada batang (hawar batang), penyakit embun tepung, penyakit hawar daun, penyakit busuk lunak dan penyakit rebah semai (Cahyono, 2003).

Taksonomi dan Morfologi (Botani) Tanaman Buncis [Lengkap]

Januari 21, 2018
Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan salah satu tanaman sejenis polong-polongan yang dapat dimakan. Buah, biji, dan daunnya bisa dimanfaatkan sebagai sayuran. Sayuran ini kaya akan protein dan vitamin serta dapat membantu menurunkan tekanan darah serta mengawal metabolisme gula dalam darah dan sangat sesuai dimakan oleh mereka yang mengidap diabetes atau hipertensi. Kandungan serat dan enzim yang tinggi dapat membantu penurunan berat badan (Wikipedia, 2010.)

Taksonomi dan Morfologi (Botani) Tanaman Buncis [Lengkap]

Menurut Depe (2010), kandungan gizi buncis cukup tinggi terutama pada karbohidrat dan protein. Buncis juga mengandung serat larut yang dapat membantu mengatur fungsi pencernaan sehingga dapat mencgah ambien. Untuk keterangan lebih lanjut tentang kandungan gizi buncis dapat dilihat pada Lampiran 1.

Buncis dapat ditanam di daerah dataran tinggi dan dataran rendah, tergantung pada varietasnya. Tanaman  buncis dapat tumbuh baik dan produksinya tinggi bila ditanam di dataran rendah dengan ketinggian tempat 200-300 meter dari permukaan laut (m dpl) untuk tanaman buncis tipe merambat dapat tumbuh baik dan produksinya tinggi bila ditanam di daerah dataran tinggi dengan ketinggian tempat 1.000-1.500 m dpl. Tanaman buncis tipe merambat dapat juga ditanam di daerah yang berketinggian antara 500-600 m dpl namun hasilnya tidak sebaik yang ditanam di dataran yang lebih tinggi (Cahyono, 2003).

Buncis peka terhadap salinitas, kekeringan, genangan dan kelebihan boron tanah, sifat-sifat tanah yang baik untuk buncis adalah gembur, remah, subur dan agak asam paling disukai, keasaman (pH) optimum berkisar antara 5,5-6,5, dan selama penanaman biji tidak boleh bersinggungan langsung dengan pupuk (Naturindonesia, 2010).

Di Indonesia umumnya tanaman buncis dibudidayakan di daerah dataran tinggi, tetapi ada beberapa varietas yang adaptif pada daerah dataran rendah. Luas pertanaman buncis di Indonesia sampai tahun 2007 telah mencapai 31.330 ha dengan rata-rata hasil 7,59 t.ha ˉ¹, padahal potensi hasil tanaman buncis rata-rata di atas 25 t.haˉ¹. Bertambahnya jumlah penduduk yang disertai dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi, mengakibatkan permintaan buncis mengalami kenaikan (Hodiyah, Kurniati dan Puspita, 2009).

Menurut SIPUK – Bank Sentral Reublik Indonesia (2007), sentra produksi sayuran buncis berada di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kabupaten ini juga menjadi satu-satunya pemasok utama sayuran buncis bagi pemenuhan konsumsi masyarakat di wilayah/kabupaten sekitarnya termasuk Kabupaten Hulu Sungai Utara. Data ini menunjukkan bahwa peluang agribisnis buncis cukup menjanjikan sebab budidaya buncis pada lahan rawa lebak di Kabupaten Hulu Sungai Utara belum bahkan hampir tidak pernah diusahakan secara besar-besaran dan serius, sehingga data statistik untuk jenis tanaman ini pun belum terdata oleh Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Taksonomi Tanaman Buncis

Tanaman buncis dalam ilmu tumbuhan, diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta (tanaman berbiji)
Subdivisi : Angiospermae (biji berada di dalam buah)
Kelas : Dicotyledoneae (biji berkeping dua atau biji belah)
Ordo : Leguminales
Famili : Leguminoceae (kacang-kacangan)
Subfamili : Papilionaceae
Genus : Phaseolus
Species : Phaseolus vulgaris

Morfologi Tanaman Buncis

Menurut Depe (2010),  sayuran ini sangat kaya akan protein dan vitamisn yang spesial yang dapat membantu menurunkan kadar kolesterol, mencegah kanker, menstabilkan tekanan darah serta mengontrol insulin dan gula darah, jadi sangat cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes.

Menurut Cahyono (2003) buncis (Phaseolus vulgaris L.) termasuk jenis sayuran polong semusim (berumur pendek) seperti halnya kacang kapri, kacang panjang, kecipir, cabe, pare, labu, mentimun dan sebagainya. Tanaman buncis berbentuk semak atau perdu. Tinggi tanaman buncis tipe tegak berkisar antara 30-50 cm tergantung pada varietasnya sedangkan tinggi tanaman buncis tipe merambat dapat mencapai 2 meter. Secara morfologi bagian atau organ-organ penting tanaman buncis adalah akar, batang, daun, bunga, polong dan biji.

Tanaman buncis berakar tunggang dan berakar serabut. Akar tunggang tumbuh lurus ke dalam (vertikal) hingga kedalaman sekitar 11-15 cm sedangkan akar serabut tumbuh menyebar (horizontal) dan tidak dalam. Perakaran tanaman buncis dapat tumbuh dengan baik bila tanahnya gembur, mudah menyerap air (porous) dan subur. Perakaran tanaman buncis tidak tahan terhadap genangan air. Akar tanaman buncis merupakan bagian dari organ tubuh yang berfungsi untuk berdirinya tanaman serta penyerapan zat hara dan air (Cahyono, 2003).

Batang tanaman buncis berbengkok-bengkok, berbentuk bulat, berbulu atau berambut halus, berbuku-buku atau beruas-ruas, lunak tetapi cukup kuat. Ruas-ruas batang mengalami penebalan. Batang tanaman berukuran kecil dengan diameter batang hanha beberapa milimeter, berwarna hijau, tetapi ada pula yang berwarna ungu tergantung pada varietasnya, bercabang banyak yang menyebar merata sehingga tanaman tampak rimbun (Cahyono, 2003).

Daun tanaman buncis berbentuk bulat lonjong, ujung daun runcing, tepi daun rata, berbulu atau berambut sangat halus dan memiliki tulang-tulang menyirip. Kedudukan daun tegak agak mendatar dan bertangkai pendek. Setiap cabang tanaman terdapat tiga daun yang kedudukannya berhadapan. Ukuran daun buncis sangat bervariasi tergantung pada varietasnya. Daun yang berukuran kecil memiliki ukuran lebar 6-7,5 cm dan panjang 7,5-9 cm sedangkan daun yang berukuran besar memiliki ukuran lebar 10-11 cm dan panjang 11-13 cm (Cahyono, 2003).

Menurut Cahyono (2003), bunga tanaman buncis berukuran kecil, berbentuk bulat panjang (silindris) dengan ukuran panjang 1,3 cm dan lebar bagian tengah 0,4 cm. Kelopak bunga berjumlah 2 buah dan pada bagian bawah atau pangkal bunga berwarna hijau, tangkai panjang sekitar 1 cm. Bagian lain dari bunga buncis adalah mahkota bunga yang memiliki warna beragam ada yang berwarna putih, hijau keputih-putihan, ungu muda dan ungu tua tergantung pada varietasnya. Mahkota bunga berjumlah 3 buah, dimana yang 1 buah berukuran lebih besar daripada yang lainnya.

Bunga tanaman buncis merupakan malai (panicle). Tunas-tunas utama dari panicle bercabag-cabang dan setiap cabang tumbuh tunas bunga, tergolong ke dalam jenis bunga sempurna atau berkelamin ganda (hermaphrodit) karena benang sari atau tepung sari dan kepala benang sari atau kepala putik terdapat dalam satu tandan bunga. Persarian bunga tanaman buncis dapat terjadi dengan bantuan serangga atau angin. Bunga buncis tumbuh dari cabang yang masih muda atau pucuk muda (Cahyono, 2003).

Polong buncis memiliki bentuk dan warna bervariasi tergantung pada varietasnya, ada yang berbentuk pipih dan lebar yang panjangnya lebih dari 20 cm, bulat lurus dan pendek kurang dari 12 cm serta berbentik silindris agak panjang sekitar 12-20 cm. Polong buncis ada yang berwarna hijau tua, ungu, hijau keputih-putihan, hijau terang, hijau pucat dan hijau muda. Memiliki struktur halus, tekstur renyah, ada yang berserat dan tidak berserat, ada yang bersulur pada ujung polong dan ada yang tidak. Polong buncis tersusun bersegmen-segmen. Jumlah biji di dalam 1 polong bervariasi antara 5-14 buah tergantung pada panjang polong (Cahyono, 2003).

Biji buncis yang telah tua agak keras dan warnanya sangat bervariasi tergantung pada varietasnya, ada yang berwarna putih, hitam, coklat, coklat keunguan, coklat kehitaman, merah dan ungu tua. Memiliki rasa hambar, dengan ukuran agak besar, berbentuk bulat lonjong dengan bagian tengah (mata biji) agak melengkung (cekung), berat biji buncis berkisar antara 16-40,6 g (berat 100 biji) tergantung pada varietasnya (Cahyono, 2003).

Varietas buncis yang cocok untuk dataran rendah dan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buncis tipe merambat dari salah satu varietas hibrida unggul yang diintroduksi dari negara Thailand yaitu Lebat-3. Varietas ini cocok ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi. Daya tumbuh benih mencapai 90%. Pertumbuhan tanaman kuat, merambat dengan tinggi mencapai 2 meter. Bentuk buah silindris atau gilig dengan panjang ± 16, 6 cm, diameter ± 0,8 cm. Buah berwarna hijau muda dengan permukaan kulit halus dan biji berwarna putih. Tekstur buah renyah tidak berserat dengan rasa yang manis.umur panen ± 42 hari setelah tanam (hst) dengan potensi hasil 1,4 kg/ tanaman dan kebutuhan bibit ± 15 kg.ha ˉ¹, dengan jarak tanam 40 x 50 cm (Pitojo, 2010).

Kriteria tanaman buncis siap panen adalah warna polong agak muda dan suram, biji dalam polong belum menonjol, bila polong dipatahkan akan menimbulkan bunyi letupan kecil dengan ukuran panjang polong ± 15-17 cm tergantung pada varietas. Umumnya pemanenan dilakukan secara bertahap yaitu setiap 2-3 hari sekali atau ± sebanyak 7 kali panen. Rentang waktu yang cukup singkat juga cocok dengan kondisi iklim yang saat ini cenderung ekstrim, tidak menentu dan diprediksikan lagi (Kuring, 2007).

Masalah yang Sering Dihadapi Pada Lahan Sawah Irigasi

Januari 07, 2018
Sawah adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh pematang (galengan), saluran untuk menahan/menyalurkan air, yang biasanya ditanami padi sawah tanpa memandang dari mana diperolehnya atau status tanah tersebut. atau Sawah adalah lahan usahatani yang secara fisik permukaan tanahnya rata, dibatasi oleh pematang, dapat ditanami padi dan palawija / tanaman pangan lainnya.

Masalah yang Dihadapi Pada Lahan Sawah Irigasi

Kebanyakan sawah digunakan untuk bercocok tanam padi. Untuk keperluan ini, sawah harus mampu menyangga genangan air karena padi memerlukan penggenangan pada periode tertentu dalam pertumbuhannya. Untuk mengairi sawah digunakan sistem irigasi dari mata air, sungai atau air hujan.

Lahan sawah memiliki multifungsi dalam bentuk mitigasi banjir, mengendalikan erosi dan sedimentasi, pendaur ulang sumberdaya air, mitigasi peningkatan suhu udara, penampung dan pendaur ulang sampah organik, mengurangi kadar nitrat air tanah, detoksifikasi kelebihan unsur hara dan residu pestisida, serta penambat karbon (Agus dan Irawan, 2004).

Berdasarkan pengairannya lahan sawah dibedakan atas berbagai macam salah satunya adalah Sawah Berpengairan (Irigasi) yaitu lahan sawah yang memperoleh pengairan dari sistem irigasi, baik yang bangunan penyadap dan jaringan-jaringannya diatur dan dikuasai dinas pengairan PU maupun dikelola sendiri oleh masyarakat.

Lahan sawah irigasi terdiri atas :
a) Lahan sawah irigasi teknis.
b) Lahan sawah irigasi setengah teknis
c) Lahan sawah irigasi sederhana.
d) Lahan sawah irigasi non PU

Sebagian besar wilayah lahan sawah irigasi telah dilakukan pertanaman dengan indeks pertanaman (IP) 200, yaitu di awal musim hujan 1 kali (panen Januari – April) dan akhir musim hujan 1 kali (panen Mei – Agustus). Sistem pertanaman dilakukan secara serentak, baik saat tanam maupun panen. Hal ini dilakukan agar memudahkan dalam pengaturan tata air, pendampingan oleh petugas lapangan dan memudahkan dalam mengendalikan hama-penyakit yang mungkin timbul.

Penyebaran aktivitas kegiatan usahatani yang merata sepanjang tahun bagi masyarakat tani di pedesaan penting untuk diupayakan. Pengelolaan usahatani di lahan sawah irigasi yang dibangun dalam upaya memberikan tambahan pasokan air irigasi memiliki peluang untuk dapat diupayakan mampu memberikan lapangan kerja bagi petani sepanjang waktu di pedesaan.

Masalah yang masih dihadapi pada lahan sawah irigasi ini antara lain adalah sebagai berikut :
1) Intensitas pertanaman (IP) masih rendah,

2) Pada saat penyiapan lahan dan panen raya yang berlangsung serentak mengalami kekurangan tenaga kerja dan sulit memperoleh saprodi,
3) Penggunaan alat mesin pertanian (traktor, RMU, box drier), tenaga kerja maupun infrastruktur tidak efektif, karena dalam 1 tahun hanya digunakan ± 3 bulan saat tanam dan panen,
4) Harga jual gabah merosot saat panen raya dan penyediaan benih sangat kurang saat tanam serentak, dan

5) Sistem tunda jual hasil padi tidak memberikan nilai tambah yang layak dan bahkan membutuhkan biaya tambahan, karena pemerintah menetapkan harga dasar sebagai penyangga sehingga harga gabah relatif sama.

Selain digunakan untuk pengairan sawah irigasi, air irigasi dapat juga digunakan untuk aspek lainnya diantaranya aspek pemanfaatan air irigasi adalah digunakan untuk sebagai berikut :

1. Embung
Bangunan kolam dengan ukuran relatif jauh lebih kecil dibanding waduk yang berfungsi untuk menampung air permukan (Run-off) dari suatu areal tangkapan air yang tidak terlalu luas di musim penghujan, kemudian dimanfaatkan airnya pada musim kemarau pada saat diperlukan.

2. Check-dam
Bangunan pengendali sedimen hasil erosi yang dibangun pada jurang / alur drainase alami menyerupai bendung sehingga selain berfungsi sebagai pengendap meterial dan partikel kasar tanah, air yang ada dapat dimanfaatkan untuk keperluan irigasi, budidayaikan, keperluan domestik, dan lain – lain.

3. Sumur Resapan
Bangunan sumur untuk menangkap aliran permukaan yang ada yang dapat dibangun dihulu maupun dihilir baik dikawasan pemukiman, industri, hutan, dan lain - lain. Bermanfaat untuk: mengurangi aliran permukaan, mencegah banjir, erosi, tanah longsor, meningkatkan penyediaan air tanah, mencegah intrusi air laut, memelihara mata air, dll.

4. Bendungan
Adalah usaha untuk menaikkan tinggi permukaan air, mengarahkan air sungai dengan cara membendung sungai mengumpulkannya dengan reservoar sebelum dialirkan ke saluran pembawa. Dengan demikian pada musim hujan air dapat disimpan dan dialirkan pada musim kemarau, selain untuk air pengairan digunakan juga untuk air minum dan energi.

5. Daerah Irigasi
Adalah kesatuan wilayah yang mendapat air dari satu jaringan irigasi yang bisa disingkat dengan D I.

6. Dam Parit
Adalah Bangunan / dam yang ditempatkan pada alur-alur hidrologi alam untuk menekan laju run-off dan menampungnya untuk dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi.

7. Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air
Adalah istilah umum untuk wadah kelembagaan dari sejumlah Perkumpulan Petani Pemakai Air yang memanfaatkan fasilitas irigasi yang bersepakat bekerjasama dalam pengelolaan suatu daerah pelayanan irigasi.

8. Irigasi
Adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang usaha pertanian.

9. Irigasi Setengah Tekhnis
Keadaan airnya dapat diukur disetiap tingkatan penyaluran dan pembagian air, biasanya dibangun dan dikelola pemerintah.

10. Irigasi Sederhana
Keadaan airnya tidak dapat diukur disetiap jenis penyaluran dan pembagian air biasanya dibangun dan dikelola oleh petani / masyarakat.

11. Irigasi Tadah Hujan
Sumber air berasal dari air hujan jatuh langsung dipetakan, dilengkapi dengan saluran pembawa dan pembuang di TUT.

12. Jaringan Irigasi
Adalah saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan air irigasi yang mencakup penyediaan, pengambilan, pembagian.

13. Jaringan Tersier
Adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana pelayanan air di dalam petak tersier yang terdiri dari saluran pembawa yang disebut saluran tersier, saluran pembagi yang disebut saluran kuarter dan saluran pembuang, berikut saluran bangunan turutan serta pelengkapnya. Termasuk dalam hal ini jaringan irigasi pompa yang luas areal pelayanan disamakan dengan areal tersier.

14.  Jaringan Utama
Adalah jaringan irigasi yang berada dalam satu sistem irigasi, mulai dari bangunan utama (bendung/ bendungan) saluran induk/primer, saluran sekuder dan bangunan sadap serta bangunan pelengkapnya.

15. Perkumpulan Petani Pemakai Air
Adalah istilah umum untuk kelembagaan pengelola irigasi termasuk irigasi pompa atau reklamasi rawa yang menjadi wadah petani pemakai air dalam suatu daerah pelayanan irigasi termasuk irigasi pompa atau reklamasi rawa yang dibentuk secara demokratis.

16. Saluran Sekunder
Adalah saluran pembawa air irigasi yang mengambil air dari bangunan bagi di saluran primer yang berada dalam jaringan irigasi.

Pengendalian Kutu Daun (Ferrisia virgata Cockerell) dengan Beberapa Pestisda Nabati

Januari 06, 2018
Ferrisia virgata Cockerell adalah kutu bertepung putih yang tergolong hama utama pada jarak pagar. Hama ini selalu ditemukan pada pertanaman terutama pada akhir musim hujan dan selama musim kemarau di KIJP Pakuwon (Karmawati dan Rumini, 2006).

Pengendalian Kutu Daun (Ferrisia virgata Cockerell) dengan Beberapa Pestisda Nabati

Ciri-cirinya adalah ukuran tubuh cukup besar, bentuk oval, panjang sampai 4 mm, agak pipih, beberapa dengan benjolan-benjolan pendek di sepanjang sisi tubuhnya. Kutu ini meng- hasilkan sekresi lilin berwarna putih dalam tepung untuk melindungi tubuhnya (Kalshoven, 1981).

Penyebarannya sangat dibantu oleh angin, hujan, dan semut. Kutu dapat bersifat sebagai vektor. Seluruh bagian tanaman jarak pagar dapat diserang seperti pucuk, daun, bunga, dan buah. Petani sampai saat ini belum dapat melepas- kan diri dari pestisida. Walaupun harganya relatif mahal, tetapi mudah sekali digunakan dan hasilnya dapat dilihat langsung setelah perlakuan. 

Untuk menghadapi tantangan yang demikian, perlu dipilih alternatif yang cara kerjanya mirip dengan insekti- sida tetapi tidak memberikan efek terhadap lingkungan. Satu alternatif pengendalian hama yang murah, praktis, dan relatif aman terhadap kelestari- an lingkungan adalah insektisida yang bahan baku nya berasal dari tumbuhan. Insektisida tersebut dapat dibuat dengan pengetahuan yang terbatas dan mudah terurai di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan sekitarnya termasuk manusia dan he- wan. 

Secara evolusi tumbuhan telah mengem- bangkan bahan metabolit sekunder sebagai alat pertahanan alami terhadap serangan organisme pengganggu. Tumbuhan sebenarnya kaya bahan bioaktif. Lebih dari 2.400 jenis tumbuhan yang ter- masuk ke dalam 235 famili dilaporkan mengan- dung bahan pestisida (Kardinan, 1999). 

Apabila tumbuhan tersebut dapat diolah menjadi bahan pes- tisida, maka masyarakat petani akan sangat terban- tu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya.

Ada 4 kelompok insektisida nabati yang telah lama dikenal (Oka, 1993) yaitu (1) Golongan nikotin dan alkaloid lainnya, bekerja sebagai insektisida kontak, fumigan atau racun perut, terbatas pada serangga yang kecil dan bertubuh lunak, (2) Piretrin, berasal dari Chrysanthemum cinerarifolium, bekerja menyerang syaraf pusat, dicam- pur dengan minyak wijen, talk atau tanah lempung digunakan untuk lalat, nyamuk, kecoa, hama gudang, dan hama penyerang daun, (3) Rotenon dan rotenoid, berasal dari tanaman Derris sp. dan bengkuang (Pachyrrhizus eroses) aktif sebagai racun kontak dan racun perut untuk berbagai serangga hama, tapi bekerja sangat lambat, (4) Azadirachtin, berasal dari tanaman mimba (Azadirachta indica), bekerja sebagai “antifeedant” dan selektif untuk serangga pengisap sejenis wereng dan penggulung daun, baru terurai setelah satu minggu.

Percobaan ini dilaksanakan di rumah kaca Balittro, Bogor dari bulan Februari–September 2007. Bibit jarak pagar IP-1P telah disiapkan sebelumnya sejumlah yang diperlukan selain untuk perbanyakan F. virgata dan perlakuan. Perlakuan yang dicobakan 7, yaitu 4 pestisida nabati (organeem, biji mimba, daun tembakau, kacang babi), 2 jenis pestisida yang berbahan aktif klorpirifos dan kontrol. 

Perlakuan jamur B. bassiana juga dicoba- kan secara terpisah dan dibandingkan dengan kon- trol. Satu unit percobaan terdiri atas 10 tanaman dan diulang tiga kali. Perlakuan disusun dalam ran- cangan acak kelompok. Penyemprotan (aplikasi perlakuan) dicoba dua macam, yaitu 1 minggu sekali dan 2 minggu sekali. Parameter yang diamati adalah populasi hama hidup. 

Investasi kutu daun F. virgata pada awal percobaan dimulai dengan jumlah yang sama, yaitu 10 ekor per tanaman. Pengamatan yang dilakukan tergantung pada aplikasi, kalau aplikasi hanya 4 kali dalam 2 bulan maka pengamatan empat kali. Kalau aplikasi 8 kali, maka pengamatan 8 kali sesudah aplikasi. Populasi hama pada masing-masing perlakuan sangat berfluktuasi oleh sebab itu untuk menampilkan populasi secara keseluruhan digunakan histogram. 

Terlihat bahwa penyemprotan satu kali dalam seminggu lebih dianjurkan dibandingkan dengan penyemprotan dua kali karena keempat jenis pestisida nabati dapat menekan populasi sampai 50 kutu daun per 10 tanaman dibandingkan dengan penyemprotan dua minggu sekali yang malah menaikkan populasi dari 50 menjadi 300 per 10 tanaman. Pengendalian dengan bahan kimia memang paling efektif, namun dapat membunuh serangga berguna lainnya, berdasarkan pengalaman proporsi serangga yang berguna lebih banyak dibandingkan proporsi serangga hama (Rumini, 2006).

Posisi populasi, pengaruh aplikasi pestisida nabati tidak berbeda satu sama lain kecuali dengan pestisida kimia.    

Pengaruh jamur B. bassiana cukup signifikan bila dibandingkan dengan kontrol (tanpa perlakuan). Berbeda dengan pengaruh pestisida nabati, aplikasi 2 minggu sekali tidak berbeda dengan 1 minggu sekali.  

KESIMPULAN
Pestisida nabati mudah terurai bahan aktifnya  di lapangan oleh sebab  itu  penyemprotan  seminggu sekali lebih baik hasilnya dibandingkan dua minggu sekali. Populasi F. virgata lebih rendah bila dibandingkan tanpa dikendalikan sama se- kali, tapi lebih tinggi bila dibandingkan pestisida kimiawi. Penggunaan B. bassiana lebih baik dibandingkan pestisida nabati karena populasinya lebih stabil dan lebih rendah dari kontrol.

Pengendalian Kutu Daun dengan Pestisida Nabati dan Beuveria Bassiana

Januari 05, 2018
Keberadaan hama di pertanaman ditentukan oleh fenologi tanaman dan keadaan iklim, misalnya Ferrisia virgata, walaupun ada sepanjang tahun pada pertanaman, tetapi populasinya selalu meningkat dengan berkurangnya curah hujan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis pestisida nabati dan jamur Beauveria bassiana terhadap populasi F. virgata di rumah kaca.

Pengendalian Kutu Daun dengan Pestisida Nabati dan Beuveria Bassiana

Empat  jenis pestisida nabati yang digunakan adalah mimba, organeem, kacang babi, dan daun tembakau. Pada penelitian yang terpisah dicobakan jamur B. bassiana yang hanya di- bandingkan dengan kontrol. Rancangan yang digunakan adalah rancangan kelompok dengan tiga ulangan. Satu unit percobaan menggunakan 10 tanaman. 

Pada tanaman diinokulasikan dulu F. virgata yang telah diperbanyak di laboratorium, sesudah ini diperlakukan dengan pestisida nabati, B. bassiana dan kimia. Parameter yang diamati adalah jumlah serangga yang masih hidup akibat perlakuan pestisida dan jamur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat jenis pestisid nabati dapat menekan populasi kutu daun dibandingkan dengan kontrol bila disemprot seminggu sekali. Begitu pula dengan penggunaan jamur B. bassiana dapat menekan kenaikan populasi dibandingkan kontrol.

Ferrisia virgata Cockerell adalah kutu bertepung putih yang tergolong hama utama pada jarak pagar. Hama ini selalu ditemukan pada pertanaman terutama pada akhir musim hujan dan selama musim kemarau di KIJP Pakuwon (Karmawati dan Rumini, 2006).

Ciri-cirinya adalah ukuran tubuh cukup besar, bentuk oval, panjang  sampai 4 mm, agak pipih, beberapa dengan benjolan-benjolan pendek di sepanjang sisi tubuhnya. Kutu ini meng- hasilkan sekresi lilin berwarna putih dalam tepung untuk melindungi tubuhnya (Kalshoven, 1981).

Pe- nyebarannya sangat dibantu oleh angin, hujan, dan semut. Kutu dapat bersifat sebagai vektor. Seluruh bagian tanaman jarak pagar dapat diserang seperti pucuk, daun, bunga, dan buah.

Petani sampai saat ini belum dapat melepaskan diri dari pestisida.  Walaupun  harganya  relatif mahal, tetapi mudah sekali digunakan dan hasilnya dapat dilihat langsung setelah perlakuan. Untuk menghadapi tantangan yang demikian, perlu dipilih alternatif yang cara kerjanya mirip dengan insekti- sida tetapi tidak memberikan efek terhadap ling- kungan.

Satu alternatif pengendalian hama yang murah, praktis, dan relatif aman terhadap kelestarian lingkungan adalah insektisida yang bahan bakunya berasal dari tumbuhan. Insektisida tersebut dapat dibuat  dengan pengetahuan  yang terbatas  dan mudah terurai  di alam, sehingga  tidak mencemari lingkungan  sekitarnya  termasuk  manusia  dan  hewan.

Secara evolusi tumbuhan telah mengem- bangkan bahan metabolit sekunder sebagai alat pertahanan alami terhadap serangan organisme pengganggu. Tumbuhan sebenarnya kaya bahan bioaktif. Lebih dari 2.400 jenis tumbuhan yang termasuk  ke  dalam  235  famili  dilaporkan  mengan- dung bahan pestisida (Kardinan, 1999). Apabila tumbuhan tersebut dapat diolah menjadi bahan pes- tisida, maka masyarakat petani akan sangat terban- tu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya.   

Ada  4  kelompok   insektisida   nabati yang telah lama dikenal (Oka, 1993) yaitu (1) Go- longan nikotin dan alkaloid lainnya, bekerja seba- gai insektisida  kontak,  fumigan  atau  racun  perut, terbatas pada serangga yang kecil dan bertubuh lu- nak, (2) Piretrin, berasal dari Chrysanthemum cine- rarifolium, bekerja menyerang syaraf pusat, dicam- pur dengan minyak wijen, talk atau tanah lempung digunakan untuk lalat, nyamuk, kecoa, hama gu- dang, dan hama penyerang daun, (3) Rotenon dan rotenoid, berasal dari tanaman Derris sp. dan  engkuang (Pachyrrhizus eroses) aktif sebagai racun kontak dan racun perut untuk berbagai serangga hama, tapi bekerja sangat lambat, (4) Azadirachtin, berasal dari tanaman mimba (Azadirachta  indica), bekerja sebagai “antifeedant” dan selektif untuk serangga pengisap sejenis wereng dan penggulung daun, baru terurai setelah satu minggu.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk me- ngetahui pengaruh beberapa insektisida nabati dan jamur (Beauveria bassiana) terhadap populasi F. virgata.

Percobaan  ini  dilaksanakan  di  rumah  kaca Balittro,   Bogor   dari   bulan   Februari–September 2007. Bibit jarak pagar IP-1P telah disiapkan sebe- lumnya sejumlah yang diperlukan selain untuk per- banyakan   F.  virgata   dan  perlakuan.   Perlakuan yang  dicobakan  7, yaitu 4 pestisida  nabati  (orga- neem, biji mimba, daun tembakau, kacang babi), 2 jenis pestisida yang berbahan aktif klorpirifos  dan kontrol. 

Perlakuan jamur B. bassiana juga dicoba- kan secara terpisah dan dibandingkan dengan kon- trol.  Satu unit  percobaan  terdiri  atas  10  tanaman dan diulang tiga kali. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok. Penyemprotan (aplikasi perlakuan) dicoba dua macam,  yaitu 1 minggu se- kali dan 2 minggu sekali. Parameter  yang diamati adalah populasi hama hidup.

Investasi kutu daun F. virgata pada awal percobaan dimulai dengan jumlah yang sama, yaitu 10 ekor per tanaman. Pengamatan  yang dilakukan tergantung  pada  aplikasi,  kalau  aplikasi  hanya  4 kali dalam 2 bulan maka pengamatan  empat  kali. Kalau aplikasi 8 kali, maka pengamatan 8 kali se- sudah aplikasi. Populasi hama pada masing-masing perlakuan sangat berfluktuasi  oleh sebab itu untuk menampilkan  populasi secara keseluruhan  diguna- kan histogram.

Terlihat bahwa penyemprotan  satu kali  dalam  seminggu  lebih dianjurkan  dibanding- kan dengan penyemprotan dua kali karena keempat jenis pestisida nabati dapat menekan populasi sam- pai 50 kutu daun per 10 tanaman dibandingkan de- ngan penyemprotan dua minggu sekali yang malah menaikkan populasi dari 50 menjadi 300 per 10 tanaman. Pengendalian dengan bahan kimia memang paling efektif, namun dapat membunuh serangga berguna lainnya, berdasarkan pengalaman proporsi serangga yang berguna lebih banyak dibandingkan proporsi serangga hama (Rumini, 2006).

Posisi populasi terakhir disajikan, pengaruh aplikasi pestisida nabati tidak berbeda satu sama lain kecuali dengan pestisida kimia.

KESIMPULAN
Pestisida  nabati  mudah  terurai  bahan aktif- nya  di lapangan oleh sebab  itu  penyemprotan  seminggu  sekali  lebih  baik  hasilnya  dibandingkan dua minggu sekali. Populasi  F. virgata lebih ren- dah bila dibandingkan tanpa dikendalikan sama se- kali,  tapi lebih tinggi  bila dibandingkan  pestisida kimiawi. Penggunaan B. bassiana lebih baik diban- dingkan pestisida  nabati  karena populasinya  lebih stabil dan lebih rendah dari kontrol.

Contoh Judul Skripsi Prodi Agroteknologi Jurusan Pertanian

Januari 04, 2018
Berikut contoh judul skripsi Prodi Agroteknologi Jurusan Pertanian:

Contoh Judul Skripsi Prodi Agroteknologi Jurusan Pertanian

Fauzi Rahman
NPM : 2011.01.0032
Pengaruh Pemberian Pupik Organik Terhadap Tanaman Tomat Pada Lahan Rawa Lebak.
Pengaruh Pemberian Pupuk Organik yang berbeda Terhadap pertumbuhan Tanaman Tomat (nama latin) di Lahan Rawa Lebak

Hipni 
NPM : 2011.01.0038
Respon Kacang Kedelai Tehadap Pemberian Pupuk Granol Pada lahan Tegalan.
Respon Kacang Kedelai (nama latin) Tehadap Pemberian dosis Pupuk Granol yang berbeda lahan Tegalan.

M. Zikri Rahman
NPM : 2011.01.0048
Respon Pemberian Pupuk Organik Cair Terhadap Tanaman Timun Hibrida Pada Daratan Tinggi.
Respon Pemberian Pupuk Organik Cair yang berbeda Terhadap Tanaman Timun Hibrida (nama latin) di lahan rawa.

Muhammad Noor
NPM : 2011.010058
Respon Pemberian Pupuk Organik Cair Terhadap Tanaman Jagung Pada Lahan Rawa Lebak.
Respon Pemberian Pupuk Organik Cair yang berbeda Terhadap Tanaman Jagung (nama latin) di Lahan Rawa Lebak.

Misna Hartati
NPM : 2010.01.0056
Pengaruh lama perendaman dan Kedalaman Lubang Tanam Terhadap perkecambahan benih Pare.
Pengaruh lama perendaman Terhadap proses perkecambahan biji Pare (nama latin).

Mahdianor Nasrullah
NPM : 2010.01.0044
Analisis Pemberian Hormon Giberelin Terhadap Perkecambahan Benih Kemiri.
variasi Pemberian dosis Hormon Giberelin yang berbeda Terhadap Perkecambahan Benih Kemiri (nama latin).

Ismail saleh
NPM : 2010.010035
Analisis Pemberian Trikoderma Terhadap Layu Fusarium Pada Tanaman Cabe Merah.
variasi Pemberian dosis Trikoderma yang berbeda Terhadap Layu Fusarium Pada Tanaman Cabe Merah (nama latin)

Khalifah
NPM : 2010.01.0036
Respon Pertumbuhan Bayam Terhadap Pemberian Kotoran Kelelawar.
Efektivitas pemberian dosis kotoran kelelawar yang berbeda terhadap pertumbuhan bayam (nama latin) 

Heriyanto
NPM : 2010.01.0078
Respon Tanaman Kacang Panjang tehadap Pemberian Pupuk Cair di Lahan Kering.
Variasi pemberian dosis pupuk cair yang berbeda terhadap produktivitas kacang tanah di lahan kering

Akhmad
NPM: 2011.01.0012
Judul : “Respon Jangung Hibrida Terhadap Pemberian Unsur Hara Yang Berbeda” 
Respon pertumbuhan Jangung Hibrida (nama latin) Terhadap Pemberian Unsur Hara NPK” 

M. Noor 
NPM : 2011.01.0058
Pengaruh Pemberian pupuk Kandang Pada Tanaman Jagung.
Pengaruh Pemberian jenis pupuk Kandang yang berbeda terhadap pertumbuhan Jagung (nama latin).

Syahran
NPM : 2010.01.0096
Perkembangan Tanaman Jagung di Lahan Tadah Hujan Terhadap Pupuk Organik.
Penggunaan pupuk kompos yang berbeda terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung di Lahan Tadah Hujan.

M. Makie
NPM : 2010.01.0110
Reaksi Pupuk Organik Tehadaphasil dan Pertumbuhan Tanaman Jagung di Lahan Rawa Lebak.
Reaksi pertumbuhan jagung (nama latin) terhadp pemberian jenis pupuk organik yang berbeda

Muhammad Ansyari
NPM : 2010.01.0118
Pengaruh Pupuk Urea Terhadap Tanaman Jagung Hibrida.
Pengaruh pemberian dosis Pupuk Urea yang berbeda Terhadap produktivitas  Jagung Hibrida (nama latin).

Maya Rubiyanti
NPM : 2010.01.0052
Pengaruh pemberian dosis Bokashi Kayambang yang berbeda  Terhadap produktivitas  Tomat (nama latin) di Lahan Rawa lebak.

Salpiana
NPM : 2010.01.0083
Pengaruh Pemberian Pupuk Organik dan Kimia Terhadap Hasil Tanaman Buncis.
Efektivitas  Pemberian Pupuk Organik dan Kimia Terhadap produktivitas  kacang Buncis (nama latin).

Nordiana
NPM : 2010.01.0062
Pemanfaatan Pupuk Organik (limbah rumah tangga) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang panjang.
Pemanfaatan Pupuk kompos limbah rumah tangga untuk meningkatkan  produktiviitas  kacang panjang (nama latin)).

Wardatul Jannah
NPM : 2011 01 0098
Pengaruh perlakuan biji pada perkecambahan terhadap hasil bibit padi (oryza sativa).  Buat judul baru yang lebih mudah dipahami, ambil salah satu obyek penelitian kemudian kembangkan jadi judul, judul yang tertulis cukup sulit untuk diaplikasikan, ok 

Dina Marida
NPM 2010.01.0018
Peranan eceng gondok sebagai media tanam dan pengaruhnya terhadap tanaman seledri.
Efektivitas penggunaan bokasi eceng gondok untuk meningkatkan produktivitas tanaman seledri (nama latin)

Fathur Rahman
NPM : 2011 01 0031
Pengaruh Sistem Pengelahan Tanah dan Pemberian Mulsa Organik Pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Hibrida ( Zea mays L.).
Pengaruh Sistem Pengolahan Tanah yang berbeda terhadap produktivitas Jagung Hibrida ( Zea mays L.).

Selamat W
NPM 2011 01 0086
Efektifitas pemberian dosis pupuk gandasil daun pada tanaman kangkung (Ipoemea oquatica) di lahan tada hujan.
Efektifitas pemberian dosis pupuk gandasil daun yang berbeda terhadap produktivitas kangkung (Ipoemea oquatica) di lahan tada hujan.

Hardianti
NPM 2010 01 0032
Pengaruh pemberian pupuk urea terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung.
Pengaruh pemberian dosis pupuk urea yang berbeda terhadap produktivitas tanaman jagung (nama latin).

Fahma surahmi
NPM 2010 01 0024
Respon pertumbuhan tanaman tomat terhadap pupuk NPK pada rawa padang surut.
Pengaruh  pertumbuhan tanaman tomat (nama latin) terhadap pemberian pupuk NPK di rawa padang surut.

Rahmatullah
2010 01 0074
Respon pertumbuhan terong terhadap pemberian pupuk agrobos pada lahan rawa lebak.
Pengaruh  pertumbuhan terong (nama latin) terhadap pemberian dosis pupuk agrobos yang berbeda di lahan rawa lebak.

Rahmi Yati
2011 01 0066
Respon pertumbuhan dan hasil tanaman kembang kol (brassica oleracea) terhadap berbagai dosis pupuk kompos di lahan kering.
Produktivitas kembang kol (Brassica oleracea) terhadap variasi pemberian dosis pupuk kompos yang berbeda di lahan kering.

Juni.
2011 01 0042
Pengaruh pemberian penyedap rasa terhadap tanaman seledri.
Variasi  pemberian penyedap rasa terhadap pertumbuhan tanaman seledri (nama latin).

Zainal Ilmi
2010 01 0104
Respon pertumbuhan padi sawah Var. IR 66 terhadap pup[uk kandang dengan sistem satu lubang tanam satu anakan.
Pengaruh  pemberian jenis pupuk kandang yang berbeda terhadap pertumbuhan jenis padi Varietas IR 66 (nama latin)

Reza Rifqi
2011 01 0068
Pengaruh pemberian pupuk urea terhadap pertumbuhan terung.
Variasi  pemberian dosis pupuk urea yang berbeda terhadap pertumbuhan terung (nama latin).

Ilawati
NPM : 2011.01.0040
Upaya meningkatkan produktivitas  Seledri (nama latin) dengan  variasi dosis Pupuk Kotoran Sapi yang berbeda di Lahan Rawa Lebak.

Nurhayati
NPM : 2011.01.0086
Efektifitas Pemberian Pupuk Organik Padat Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kacang Tanah Pada Lahan Rawa Lebak.
Efektifitas Pemberian Pupuk Organik Padat Terhadap produktivitas Kacang Tanah di Lahan Rawa Lebak

EFRIYADI
NPM 2011.01.0018
Pengaruh pupuk kandang,pupuk hijau dan pupuk mutiara terhadap pertumbuhan dan prokduksi padi.
Efektivitas penggunaan pupuk hijau dan pupuk mutiara terhadap produktivitas  padi ciherang (nama latin)

Anita Ridha Muliani
NPM : 2011.01.0020
Pemberian Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan Kacang Pnajang di Lahan Kering.
Efektivitas pemberian dosis  Pupuk NPK yang berbeda Terhadap Pertumbuhan Kacang Panjang (nama latin) di Lahan Kering

Khusnul Khatimah
NPM : 2011.01.0044
Respon Pertubuhan Tanaman Padi C. Hirang Terhadap pupuk Organik di Lahan Rawa Lebak.
Variasi pemberian jenis pupuk organik yang berbeda terhadap produktivitas tanaman padi Ciherang (nama latin)