Tampilkan postingan dengan label Asuransi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asuransi. Tampilkan semua postingan

Cara Menghitung Harga Premi Asuransi Mobil

Desember 10, 2017
Apakah kendaraan pribadi sangat penting untuk anda? Mungkin bagi sebagian orang kendaraan pribadi sangatlah penting khususnya kendaraan beroda empat. Banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan jika kita memiliki mobil dalam kehidupan sehari – hari. Yang pertama, kita bisa memanfaatkan mobil sebagai alat transportasi pribadi yang nantinya akan jauh lebih mudah di bandingkan kita harus menggunakan kendaraan umum dengan fasilitas seadanya.

Cara Menghitung Harga Premi Asuransi Mobil

Selain dimanfaatkan sebagai alat transportasi, mobil juga kita bisa pergunakan sebagai alat bantu untuk melakukan pekerjaan bisnis kita seperti,  berjualan barang dagangan pakaian dalam jumlah besar biasanya kita akan repot jika tidak memiliki mobil. Tapi, bukan tanpa resiko jika kita memiliki kendaraan pribadi. Banyak hal - hal buruk yang kadang tidak pernah kita duga datang menerpa. 

Semakin tingginya angka kriminalitas dan tingginya tingkat kecelakaan adalah salah satu faktor utama yang bisa diterima para oleh pemilik kendaraan pribadi jika mereka lengah. Terjadinya tabrakan di dalam perjalanan, bersenggolan dengan kendaraan lain, mobil yang mengalami kebakaran pada mesin, perampasan kendaraan, bahkan sampai  tindak pencurian kendaraan anda yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. 

Sebelum kita mengalami kejadian yang tidak kita inginkan ada baiknya kita juga harus terus berjaga – jaga dengan mendaftarkan kendaraan kita kepada perusahaan asuransi yang ada di Indonesia. Dengan menggunakan asuransi kendaraan segala kerugian finansial dapat kita hindari. 

Anda cukup membayar premi pertahunnya saja kepada perusahaan asuransi. Namun anda perlu mengetahui juga bahwa setiap perusahaan asuransi tidak bisa seenaknya memberi nilai premi yang tinggi, karena OJK (Otoritas Jasa Keuangan) telah menetapkan berapa nilai premi terendah sampai yang tertinggi yang boleh dikeluarkan setiap perusahaan asuransi mobil pada para nasabahnya

Berdasarkan situs CekPremi.Com, Berikut ini adalah hitungan biaya premi asuransi Mobil menurut aturan OJK: 

Perusahaan asuransi mobil biasanya memiliki dua perlindungan pada produk asuransinya yang pertama adalah All Risk dan yang kedua adalah TLO, pertama saya akan menjelaskan perhitungan biaya premi jika anda menggunakan jenis All Risk :

- Misalnya, Anda sudah membeli mobil baru dengan merek Corolla Altis dengan harga Rp 402.600.00,00. Tentunya, mobil tersebut akan Anda asuransikan dengan menggunakan fasilitas perlindungan gabungan atau comprehensive. Untuk mengetahui berapa besar premi yang Anda bayar berikut perhitungannya :

Jika Anda menginginkan perluasan jaminan pihak ketiga berarti premi yang harus Anda bayar adalah  dengan rincian:

Selanjutnya ini perhitungan biaya premi yang anda harus keluarkan jika menggunakan jenis asuransi TLO :

Misalnya, Anda baru saja memiliki mobil pribadi dengan merek Kijang Innova dengan harga di pasaran senilai Rp 306.800.000,00. Anda akan mengasuransikan dengan perlindugan TLO plus jaminan banjir dan huru hara. Untuk mengetahui berapa premi yang dibayar ini rinciannya:

Itulah perhitungan kedua jenis produk asuransi yang harus anda bayarkan jika mendaftar pada perusahaan perusahaan asuransi. Banyak sekali manfaat yang bisa anda terima dan biaya preminya pun bisa terbilang murah dengan segala keuntungan yang bisa anda dapatkan.

Implementasi Akuntansi Islam pada Asuransi Syariah

Desember 09, 2017
Implementasi Akuntansi Islam pada Asuransi Syariah
a. Akuntansi syariah dengan akad mudharabah.
Dalam akad ini terdapat pemisahan pengelolaan dana antara dana pemegang saham(DPS) dengan dana peserta asuransi (DPA). Perusahaan bertindak sebagai pemegang amanah untuk mengelola kontribusi yang diterima dari peserta yang digunakan apabila di antara para peserta terjadi musibah.

Perbedaan Sistem Akuntansi Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Di lain pihak ,peserta menyetujui Bahwa dana ynag disetor akan dikelola secara professional oleh operator. Jika pada akhir periode, peserta yang tidak mendapatkan musibah akan memperoleh bagi hasil. Dengan demikian, dalam akad ini dana yang disetorkan partisipan merupakan milik peserta, dan tidak dapat dipergunakan untuk kepentingan pemegang saham. Konsikuensinya, system akuntansi yang diterapkan harus dipisahkan antara akuntansi Dana Pemegang Saham (DPS) dengan akuntansi Dana Peserta Asuransi (DPA).

b. Akuntansi syariah dengan akad wakalah.
Dalam akad ini tidak terdapat pemisahan penegelolaan dana antara pemegang saham dengan dana peserta asuransi. Perusahaan menerima dana tabarru’ dari peserta dan berhak digunakan untuk seluruh kegiatan perusahaan. Dana yang berasal dari pemegang saham dengan dana peserta dicampurkan. Sehingga, konsekuensinya, akuntansi tidak harus dipisahkan antara akuntansi dana pemegang saham dengan akuntansi dana peserta asuransi.

Simpulan
Berdasarkan uraian bab sebelumnya penulis dapat mengemukakan simpulan sebagai berikut.
• Asuransi merupakan sebuah lembaga keuangan Non-bank yang bertujuan untuk memberikan perlindungan atau proteksi atas kerugian keuangan yang ditimbulkan oleh peristiwa yang tidak diduga sebelumnya.

• Asuransi Syariah, merupakan sebuah sistem dimana para peserta menginfaqkan atau menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim, jika terjadi musibah yang dialami oleh sebagian peserta. Peranan perusahaan disini hanya sebatas pengelolaan operasional asuransi dan investasi dari dana-dana atau kontribusi yang diterima/dilimpahkan kepada perusahaan.

• Prinsip-prinsip yang dijalankan oleh asuransi syariah dalam mengoprasikan kegiatannya antara lain Saling bekerja sama atau bantu-membantu, Saling melindungi dari berbagai kesusahan dan penderitaan satu sama lain, saling bertanggung jawab, dan menghindari unsur-unsur yang mengandung gharar, maysir dan riba.

• Perbedaan yang paling mendasar antara asuransi syariah dengan asuransi kovensional adalah pada keberadaan Pengawasan Dewan Syariah (PDS), akad, Investasi dana, kepemilikan dana, pembayaran klaim dan keuntungan.

Perbedaan Sistem Akuntansi Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Desember 08, 2017
Perbedaan Sistem Akuntansi Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional
Konsep akuntansi Islam dan akuntansi konvensional memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda. Sebab dasar-dasar akuntansi Islam adalah syariat Islam yang diimplementasikan dikalangan masyarakat muslim, yang prosesnya ditangani oleh para akuntan yang mengombinasikan kemampuan dan kecakapan dengan kejujuran kerja.

Perbedaan Sistem Akuntansi Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Berdasarkan pengertian, landasan syar’i dan prinsip-prinsip akuntansi syariah serta keterangan-keterangan diatas, dapat kita simpulkan sifat-sifat spesifik akuntansi syariah diantaranya sebagai berikut. :

• Kaidah-kaidah dasar akuntansi Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah nabawiyah serta fiqih para ulama

• Akuntansi Islam dilandasi oleh kaidah yang kuat, iman, serta pengakuan bahwa Allah itu adalah Tuhan, Islam adalah agama, Muhammad adalah Rasul, dan juga percaya pada hari akhir.

• Akuntansi Islam berlandaskan pada akhlak yang baik. Karenanya, seorang akuntansi yang melaksanakan proses akuntansi harus mampu mempunyai sifat amanah, jujur, netral, adil, dan professional. 

• Dalam Islam, seorang akuntan dianggap bertanggung jawab di depan masyarakat dan umat Islam tentang berapa jauh kesatuan ekonomi yang dipengaruhi oleh hokum syariat Islam, terutama yang berkaitan dengan muamalah.

• Berdasarkan keistimewaan-keistimewaan yang bersifat kaidah dan akhlak, akuntansi dalam Islam juga berkaitan dengan proses-proses keuangan yang sah.

• Akuntansi dalam Islam sangat memperhatikan aspek-aspek tingkah laku sebagai unsur dan juga berperan dalam kesatuan ekonomi.

Dalam system akuntansi syariah memiliki beberapa perbedaan system akuntansi dengan akuntansi konvensional. Mohamed Arif bin Abdul Rashid, CEO PT. Syarikat Takaful Indonesia, dalam Eccounting Concept In Takaful Busines menjelaskan beberapa perbedaan tersebut sebagai berikut:

a) Cash Bases
Dalam praktik akuntansi konvensional, premi asuransi diakui sebagai pendapatan, walaupun premi asuransi belum dibayarkan. Sedangkan dalam praktik akuntansi takaful atau asuransi syariah, angsuran atau premi dan laba dari investasi benar-benar diakui sebagai pendapatan jika perusahaan telah menerimanya secara tunai. Praktik akuntansi ini memiliki arti yang penting yang berkaitan dengan system bisnis yang berperinsip pada mudharabah dimana akad mengikat antara peserta dengan perusahaan dalam kesepakatan bagi hasil.

b) Technical Reserve
Cadangan teknis merupakan bagian dari premi asuransi yang belum dihasilkan atau dikenal sebagai cadangan premi yang belum dihasilkan. Dalam system akuntansi takaful, cadangan teknik dihitung dengan menggunakan metode 1/365. Premi akan diakui sebagai pendapatan serta ditentukan menurut jumlah hari yang sebenarnya selama periode akuntansi dan masa perjanjian/kontrak Tafakul. Premi yang tidak digunakan selama masa perjanjian dianggap cadangan.  

c) Beban Retakaful
Dalam praktik asuransi konvensional beban reasuransi selama masa perjanjian, diakui sebagai asuransi awal yang dikover. Praktik akutansi ini sesuai dengan standar yang diterima, yaitu perbandingan pendapatan dengan beban yang terjadi pada periode berjalan. Dalam system akuntansi Takaful, beban retakaful selama masa perjanjian diakui sebagai utang sampai angsuran atau premi Takaful dibayar oleh peserta. Akan tetapi, beban retakaful ini akan diakui sebagai pendapatan juika seluruh premi dibayar lebih awal oleh peserta.

d) Surplus (Pada Asuransi Jiwa)
Dalam asuransi konvensional, surplus dari investasi ditrasfer ke pemegang saham sebagai pendapatan. Tetapi, di Takaful keluarga (jiwa), perusahaan tidak berhak mengakui surplus ini sebagai pendapatan. Pada Takaful keluarga hanya laba dari dana investasi dibagikan antara peserta dan perusahaan sesuai yang diperjanjikan (misalnya 70:30 atau 60:40). Setelah dikurangi bagian keuntungan bagi perusahaan, sisa dari keuntungan ini merupakan pendapatan bagi peserta Takaful yang dikreditan kerening peserta. 

e) Surplus (Pada Asuransi Kerugian)
Laba dari Takaful Umum (kerugian) dibagikan berdasarkan rasio pembagian keuntungan yang telah disepakati antara perusahaan dan peserta Takaful. Keuntungan dibayarkan jika peserta tafakul masih terikat perjanjian atau kontrak. Aspek teknis akuntansi, asuransi Tafakul menggambarkan nilai tambah atau keuntungan yang diungkapkan secara adil dan transparan. 

Sehingga, baik perusahaan maupun peserta asuransi tafakul tidak merasa dirugikan. Keuntungan lain yang bersifat jangka panjang bahwa adanya nilai kebersamaan, tolong-menolong, dan saling menaggung jika di antara peserta terjadi klaim kerugian. Inilah sisi kemungkinan yang didapatkan dari asuransi Takaful.

Inilah 4 Sumber Biaya Operasional Asuransi Syariah

Desember 07, 2017
Dalam operasionalnya asuransi syariah yang berbentuk bisnis seperti Perseroan Terbatas (PT), sumber biaya operasional menjadi sangat menentukan dalam perkembangan dan percepatan pertumbuhan industri. Lain halnya dengan asuransi syariah yang berbentuk sosial, mutual atau koperasi, disini peran pemerintah harus dominan terutama dalam memberikan subsidi ditahap awal berdirinya asuransi tersebut. 
Inilah 4 Sumber Biaya Operasional Asuransi Syariah

Asuransi syariah yang bersifat sosial tentu tidak terlampau mengutamakan aspek bisnis atau perolehan profit. Tetapi lebih mengutamakan aspek manfaat sebesar-besarnya bagi anggotanya sebagaimana fungsi utama asuransi syariah, yaitu wataawanu alal birri wattaqwa’ saling menolong dalam kebajikan dan taqwa‟. 

1. Bagi Hasil Surplus Underwriting 

Menurut Sula (2004:180) bagi hasil surplus underwriting adalah bagi hasil yang diperoleh dari surplus underwriting, yang dibagi secara proporsional antara peserta (shohibul mal) dan pengelola (mudhorib) dengan nisbah yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan, untuk produk-produk non saving dalam asuransi jiwa, surplus underwriting juga merupakan sumber biaya operasional. Surplus underwriting diperoleh dari kumpulan dana peserta yang diinvestasikan, lalu dikurangi biaya-biaya atau beban asuransi seperti reasuransi dan klaim. Kemudian surplus tersebut dibagi hasil antara peserta dan perusahaan. Bagian perusahaan inilah yang diambil sebagai biaya operasional sebelum menjadi profit perusahaan. 

Menurut Richard Bailey dalam Sula (183:2004), Tujuan underwriting membuat taksiran risiko dan penetapan calon tertanggung kedalam kelompok-kelompok risiko, sasaran underwriting perusahaan adalah menyetujui dan menerbitkan polis yang: 

1. Adil Bagi Nasabah (Equitable to The Client) : 
Salah satu prinsip dasar asuransi ialah bahwa masing-masing tertanggung membayar premi yang proporsional terhadap risiko yang ditaksir perusahaan terhadap tertanggung tersebut. Dengan diterimanya aplikasi asuransi jiwa, perusahaan harus menetapkan tingkat risiko dan harus membebani premi secara adil atas risiko tersebut. 

2. Dapat Dijual oleh Agen (deliverable by the agent) : 
Pembeli membuat keputusan terakhir apakah polis asuransi tertentu dapat diterima. Jika pembeli memutuskan tidak membeli polis jika agen berusaha menjual polis tersebut, dikatakan bahwa polis tidak dapat dijual (undeliverable) atau tidak dibeli (not taken). Satu di antara alasan-alasan sebuah polis tidak dibeli ialah karena keputusan underwriting yang tidak menguntungkan dengan hasil pembebanan premi antisipasi yang lebih tinggi. Misalnya, jika underwriter telah memutuskan beban premi lebih tinggi dari premi normal untuk satu penutupan atau membatasi uang pertanggungan atau jenis benefit tambahan atau rider yang dikehendaki, maka calon tertanggung mungkin menolak polis. 

Adapun syarat diterimanya suatu polis adalah: 
 Polis harus menyediakan benefit yang memenuhi kebutuhan pembeli. 
 Premi yang ditetapkan oleh polis harus dalam batas kemampuan keuangan pembeli. 
 Premi yang dibebankan untuk asuransi harus bersaing dengan pasar. 

3. Menguntungkan Perusahaan (profitable to the company) 
Underwriter harus membuat keputusan yang menguntungkan perusahaan. Semua perusahaan asuransi, apakah itu perseroan terbatas, asuransi jiwa bersama, atau fraternal, meminta underwriting yang sehat untuk meyakinkan hasil keuangan yang menguntungkan. Perseroan terbatas membayar deviden kepada pemegang saham. Dan dalam beberpa kasus, asuradur (penanggung) perusahaan mutual maupun fraternal membayar deviden kepada pemegang polis (peserta). 

2. Bagi Hasi Investasi 

Menurut Sula (2004:180) bagi hasil investasi adalah bagi hasil yang diperoleh secara proporsional berdasarkan nisbah bagi hasil yang telah ditentukan, baik dari hasil investasi dan rekening tabungan peserta maupun dari dana rekening tabarru’. Setelah dana peserta dibayarkan, dan terkumpul dalam total dana peserta, kemudian diinvestasikan. Profit yang diperoleh dari investasi kemudian dilakukan bagi hasil antara peserta dan pengelola atau perusahaan asuransi. 

3. Dana Pemegang Saham 

Dana pemegang saham adalah dana yang disiapkan oleh para pemegang saham sebagai modal setor bagi perusahaan, baik pada tahap awal berdirinya perusahaan maupun penambahan dana setelah perusahaan berjalan, beserta hasil investasi atas dana tersebut atau dengan kata lain, akumulasi laba ditambah modal yang disetor oleh pemegang saham. 

4. Loading (Kontribusi Biaya) 

Menurut Sula (2004:181) loading adalah kontribusi biaya yang dibebankan kepada peserta, yang biasanya pada asuransi konvensional diambil dari premi tahun pertama dan kedua. Pada beberapa asuransi syariah di Indonesia, loading dikenakan sebesar kurang lebih 25 persen dari premi tahun pertama atas sepengetahuan peserta dan terutama diperuntukkan untuk biaya komisi agen. Adapun jumlah kontribusi yang diambil berpulang kepada kebijakan perusahaan masing-masing dengan mempertimbangkan aspek keadilan dan aspek market. 

Perusahaan asuransi syariah seperti Syarikat Takaful di Malaysia, dan sebagian asuransi syariah di Indonesia seperti Asuransi Syariah Mubarokah tidak membebankan loading kepada peserta dengan alasan bertentangan dengan kaidah syara‟. Sementara sebagian yang lain seperti Takaful Keluarga, MAA syariah dan asuransi syariah lainnya, Dewan Pengawas Syariah (DPS) membolehkan loading (misalnya sebesar 3 persen) dari premi tahun pertama, sepanjang dilakukan secara transparan dan sepengetahuan peserta takaful diawal akad. Hal ini dianggap tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah syara‟. 

Menurut Sula (2004:181) pengertian biaya loading pada asuransi syariah adalah kontribusi biaya yang diambil dari sebagian kecil kontribusi peserta (premi) tahun pertama, misalnya 20%-30% dari premi tahun pertama. Biaya tersebut terutama diperuntukkan untuk komisi agen dan biaya penagihan (incasso).

Sistem Pengelolaan Dana Asuransi Syariah

Desember 06, 2017
Informasi tentang pengelolaan dana asuransi syariah ini juga diberikan oleh perusahaan asuransi pertama yang memperkenalkan asuransi syariah sebagai sejarah terbentuknya asuransi syariah di dunia. Dalam hal keuntungan yang di dapat oleh perusahaan asuransi atas pengembangan dana asuransi syariah dari setiap nasabah asuransi syariah ini di bagi secara merata dan seimbang. Ini sesuai dengan prinsip asuransi syariah “mudharabah” atau biasa disebuat dengan prinsip bagi hasil.

Sistem Pengelolaan Dana Asuransi Syariah

Dan besarnya pembagian hasil dari keuntungan tersebut, ini tergantung pada kesepakatan antara peserta asuransi syariah di mana nasabah asuransi syariah ini menjadi pemilik modal dengan perusahaan asuransi yang berfungsi sebagai media untuk mengembangakan dan menjalankan modal tersebut pada saat akad perjanjian dilaksanakan. 

Dalam pengelolaan dana asuransi syariah dari para nasabah, perusahaan asuransi dalam hal ini asuransi syariah mempunyai mekanisme atau cara kerja yang terbagi menjadi 2 cara dalam mengelola dana asuransi syariah, adalah sebagai berikut :

a. Sistem pengelolaan dana yang mengandung unsur tabungan

Menjadi nasabah asuransi, baik produk asuransi konvensional maupun asuransi syariah yang berbasiskan Islam sebagai landasan hukum semua nasabah asuransi harus memberikan atau membayar iuran yang jumlah telah ditentukan kepada perusahaan asuransi secara rutin. Atau dalam dunia asuransi, iuran tersebut disebut dengan premi asuransi. Tetapi khusus untuk asuransi syariah ini, besar premi asuransi yang akan dibayarkan itu sesuai dengan kemampuan para masing-masing nasabah asuransi dan sesuai dengan kesepakatan pada saat akad perjanjian dilakukan.

Untuk pembayaran iuran atau premi asuransi syariah, para nasabah bisa memilih cara pembayarannya baik dengan transfer atau bayar langsung. Dan waktu pembayaran premi asuransi ini juga bisa di pilih langsung oleh setiap nasabah asuransi, bisa dengan melakukan pembayaran setiap bulan, 3 bulan sekali, per 6 bulan, bahkan sampai 1 tahun sekali pembayarannya. Untuk setiap dana premi asuransi syariah yang dikeluarkan oleh tiap nasabah asuransi syariah yang berhubungan dengan tabungan, ini akan langsung dipisahkan oleh perusahaan asuransi ke dalam dua rekening yang berbeda.

Rekening Tabungan, yaitu kumpulan premi dana asuransi syariah dari setiap peserta asuransi syariah yang merupakan milik peserta sekaligus sebagai simpanan. Dana premi asuransi tersebut secara otomatis menjadi hak dari nasabah asuransi syariah dan akan dikembalikan bila :
• Perjanjian asuransi syariah ini telah berakhir
• Nasabah asuransi syariah tersebut mengundurkan diri
• Nasabah asuransi syariah tersebut meninggal dunia. Dan dana asuransi syariah tersebut diberikan kepada ahli waris atau keluarganya.

b. Sistem yang tidak mengandung unsur tabungan.

Khusus untuk produk asuransi syariah, premi asuransi syariah akan harus dibayarkan oleh setiap nasabah asuransi syariah ini akan dipisahkan langsung oleh perusahaan asuransi. Pemisahan dana asuransi syariah tersebut, salah satunya untuk sumbangan yang digunakan untuk membantu sesama nasabah asuransi syariah dan juga untuk sesama umat muslim.

Rekening Tabarru, yaitu kumpulan dana premi asuransi yang diberikan oleh setiap nasabah asuransi syariah sebagai iuran atau sumbangan untuk kebaikan dengan tujuannya untuk saling tolong-menolong dan saling membantu sesama umat muslim dan nasabah asuransi syariah. Untuk dana yang berupa premi asuransi syariah tersebut akan dibayarkan apabila :
• Nasabah asuransi syariah tersebut meninggal dunia. Dan dana asuransi syariah tersebut diberikan kepada ahli waris atau keluarganya.
• Perjanjian asuransi syariah telah berakhir. Untuk dana premi asuransi syariah ini akan di berikan jika ada surplus dana yang diterima oleh perusahaan asuransi.

Semua sistem dan cara pengelolaan dana asuransi syariah yang telah dihimpun dan dikelola oleh perusahaan asuransi ini akan diinvestasikan sesuai dengan syariat Islam demi untuk mendapatkan keuntungan. Nah, setiap keuntungan yang didapat dari hasil investasi tersebut, akan dibagikan secara merata dengan jumlah yang adil antara nasabah asuransi syariah dengan perusahaan asuransi. 

Pembagian keuntungan dari investasi ini, tentunya setelah dikurangi beban asuransi, yaitu klaim dan premi asuransi. Pembagian keuntungan ini juga akan dilakukan dengan mengedepankan atau menggunakan prinsip Al-Mudharabah dan sesuai dengan perjanjian atau pada saat akad asuransi syariah dilakukan.

Produk Asuransi Syariah [Takaful Keluarga]

Desember 05, 2017
Asuransi syariah yang sebenarnya terjadi adalah saling bertanggung jawab, bantu-membantu dan melindungi para peserta sendiri. Perusahaan asuransi takaful diberi kepercayaan (amanah) oleh para peserta untuk mengelola premi para peserta, mengembangkan dengan jalan halal, memberikan santunan kepada yang mengalami musibah sesuai isi akta perjanjian Muhammad dalam Hilaliyah (2008:41). 

Produk Asuransi Syariah [Takaful Keluarga]

Dalam kehidupan, seorang manusia pasti akan mengalami sebuah musibah atau sebuah masalah yang mana masalah tersebut akan menimbulkan sebuah kerugian atau risiko. Nah dalam hal ini ada yang namanya asuransi, yang berfungsi sebagai solusi untuk mengatasi hal tersebut.  

Sebagai orang muslim disini kami akan membahas mengenai akuntansi transaksi Asuransi yag Syariah tentunya. Sehingga dengan adanya pembahasan ini maka kita akan tahu dan paham mengenai akuntansi Asuransi. Akuntansi Asuransi yang akan kami bahas disini adalah yang digunakan di lembaga keuangan syariah. 

Dalam akuntasi asuransi syariah ada beberapa prinsip yang ada didalamnya yang harus diterpakan meliputi : saling bertanggung jawab, saling bekerjasama, saling melindungi. Dan akuntnasi asuransi syariah dan konvensional mempunyai perbedaan.

Takaful keluarga sendiri adalah bentuk takaful yang memberikan perlindungan dalam menghadapi musibah kematian dan kecelakaan atas diri peserta takaful dalam musibah kematian yang akan menerima santunan sesuai perjanjian adalah keluarga/ahli warisnya, atau orang yang ditunjuk, dalam hal tidak ada ahli waris. Dalam musibah kecelakaan yang tidak mengakibatkan kematian, santunan akan diterima oleh peserta yang mengalami musibah. 

Menurut Muhammad dalam Hilaliyah (2008:42), Jenis takaful keluarga meliputi: 

1. Produk takaful individu dengan unsur tabungan, meliputi: 
a. Takaful berencana/dana investasi 
b. Takaful dana haji 
c. Takaful pendidikan/dana siswa 
d. Takaful dana jabatan 
e. Takaful hasanah 

2. Produk takaful individu tanpa unsur tabungan, meliputi: 
a. Takaful kesehatan individu 
b. Takaful kecelakaan diri individu 
c. Takaful Al-Khairat individu 

3. Produk takaful kumpulan 
a. Takaful Kecelakaan Diri Kumpulan
b. Takaful Majelis ta‟lim 
c. Takaful Al-Khairat 
d. Takaful Al-Khairat+Tabungan Haji (Takaful Iuran Haji) 
e. Takaful Pembiayaan 
f. Takaful Kecelakaan Siswa 
g.Takaful Wisata dan Perjalanan 
h. Takaful Medicare 
i. Takaful perjalanan haji dan umrah

Tujuan Akuntansi Asuransi Keuangan Syariah dan Sistemnya

Desember 04, 2017
Tujuan Akuntansi Asuransi Keuangan Syariah
Akuntansi keuangan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu seiring dengan tingkat kebutuhan perusahaan untuk menetapkan hak dan kewajiban keuangan, hasil operasi dan untuk memberikan imformasi mengenai posisi keuangan pada waktu tertentu.

Tujuan Akuntansi Asuransi Keuangan Syariah dan Sistemnya

Suatu transaksi dikatakan sesuai dengan prinsip syariah apabila telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
• Transaksin tidak mengandung unsur kezaliman
• Transaksi tidak mengandung unsur riba
• Transaksi tidak mengandung unsur judi
• Transaksi tidak mengandung unsur penipuan
• Transaksi tidak mengandung material yang diharamkan
• Transaksi tkidak membahayakan pihak sendiri atau pihak lain

Adapun tujuan dari Akuntansi Keuangan Syariah baik pada asuransi syariah maupun pada lembaga keuangan syariah lainnya adalah sebagai berikut:
a. Menentukan hak dan kewajiban pihak terkait termasuk hak dengan kewajiban yang berasal dari transaksi yang belum selesai dan atau kegiatan ekonomi lain, sesuai dengan prinsip syariah yang berdasarkan pada konsep  kejujuran, keadilan,  kebajikan dan kepatuhan terhadap nilai-nilai bisnis Islam.
b. Menyediakan informasi keuangan yang bermanfaat bagi pemakai laporan untuk mengambil keputusan.
c. Meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan kegiatan usaha.

Sistem-Sistem Asuransi 
Menurut Syahatah (2006: 4) Sistem asuransi yang paling banyak berkembang dan beredar dewasa ini antara lain sebagai berikut: 
1) Perusahaan jasa asuransi niaga 
Asuransi niaga terkait erat dengan bahaya-bahaya atau risiko-risiko yang muncul akibat menjalankan aktivitas perdagangan, terutama angkutan barang dan sejenisnya dari satu tempat ke tempat lain, meliputi: Asuransi laut, asuransi darat, Asuransi udara. 

2) Sistem asuransi jiwa 
Asuransi ini berkaitan dengan marabahaya dan risiko yang dapat menimpa seseorang, seperti luka-luka akibat kecelakaan, sakit, meninggal, atau pension. Dan diantara model asuransi jiwa yang paling penting adalah sebagai berikut: 
• Asuransi hidup 
• Asuransi Kecelakaan 
• Asuransi Sosial 
• Asuransi Sakit 

3) Sistem asuransi dari marabahaya yang menimpa harta benda 
Model asuransi ini yang paling populer antara lain sebagai berikut. 
• Asuransi dari kebakaran, pencurian, dan pengrusakan/ pemusnahan. 
• Jaminan asuransi dari tanggung jawab sipil, pekerjaan, dan kecelakaan kerja. 
• Jaminan asuransi dari kemacetan pembayaran. 

4) Sistem asuransi investasi 
Asuransi ini berlandaskan pada sistem pemberian sejumlah dana untuk investasi bersama sejumlah orang atau perusahaaan, kemudian sebagian modal dan labanya diberikan kepada pihak yang mengalami kerugian, sementara sisanya dikembalikan pada mereka ketika telah mencapai jangka waktu tertentu. Dengan demikian, ini menggabungkan antara sistem investasi dan asuransi.

Manfaat dan Prinsip Asuransi Syariah

Desember 03, 2017
Prinsip - Prinsip Asuransi Syariah 
Prinsip utama dalam asuransi syaraiah adalah ta’awanu ‘ala al birr wa al-taqwa (tolong-menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan takwa) dan al-ta’min (rasa aman).

Manfaat dan Prinsip Asuransi Syariah

Para pakar ekonomi Islam mengemukakan bahwa asuransi syariah atau asuransi tafakul ditegakan atas tiga prinsip utama, yaitu : 

a. Saling bekerja sama atau bantu-membantu. 
Seorang muslim bagian dari sistem kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, seorang muslim dituntut mampu merasakan dan memikirkan  saudaranya yang akan menimbulkan sikap saling membutuhkan dalam menyelesaikan masalah. 

“Dan tolong menolonglah kamu (dalam mengerjakan)kebaikan dan taqwa. Dan jangan tolong,menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”(QS.Al Maidah[5];2)    

b. Saling melindungi dari berbagai kesusahan dan penderitaan satu sama lain.
Hubungan sesama muslim ibarat suatu badan yang apabila satu anggota badan terganggu atau kesakitan maka seluruh badan akan ikut merasakan. Maka saling membantu  dan tolong-menolong menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem kehidupan masyarakat.

 “Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta maka, janganlah kamu menghardiknya”’.(Adh.Duiha [93]9-10)

c. Sesama muslim saling bertanggungjawab
Kesulitan seorang muslim dalam kehidupan menjadi tanggung jawab sesama muslim. Sebagaimana dalam firman Allah swt surat Ali Imran93) ayat 103.

“Dan peganglah kamu kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah  akan  nikmat Allah kepamu ketika dahulu (masa Jahilliyah) bermusuh-musuhan, maka, Allah merpersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Manfaat Asuransi 
Menurut Soemitra (255: 2010), Asuransi pada dasarnya dapat memberi manfaat bagi para peserta asuransi antara lain sebagai berikut: 

1) Rasa aman dan perlindungan. 
2) Pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih adil. 
3) Berfungsi sebagai tabungan. 
4) Alat penyebaran risiko. 
Dalam asuransi syariah risiko dibagi bersama para peserta sebagai bentuk saling tolong menolong dan membantu diantara mereka. 
5) Membantu meningkatkan kegiatan usaha karena perusahaan asuransi akan melakukan investasi sesuai dengan syariah atas suatu bidang usaha tertentu. 

Landasan Fatwa Hukum Asuransi Syariah dalam Islam

Desember 02, 2017
Hukum-hukum muamalah adalah bersifat terbuka artinya Allah SWT dalam Al-Quran hanya memberikan aturan yang bersifat garis besarnya saja. Selebihnya adalah terbuka bagi mujahit untuk mengembangkan melalui pemikirannya selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadist . 

Landasan Fatwa Hukum Asuransi Syariah dalam Islam

Al-Qur’an maupun hadist tidak menyebutkan secara nyata apa dan bagaimana berasuransi. Namun bukan berarti bahwa asuransi hukumnya adalah haram karena ternyata dalam hokum Islam memuat  substansi perasuransian secara Islami.  

Hakikat asuransi secara Islami adalah saling bertanggung jawab, saling bekerjasama, saling tolong menolong, dan saling melindungi penderitaan satu sama lain. Oleh karena itu berasuransi diperbolehkan secara syaria’h, karena prinsip-prinsip dasar syariat mengajak kepada setiap sesuatu yang berakibat kerataan jalinan sesama manusia dan kepada sesuatu yang meringankan bencana mereka sebagaimana firman Allah Taala dalam Al-Quran surah al-Maidah ayat 2 yang artinya : 

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” 

Allah SWT memerintahkan kepada hamba-Nya untuk senantiasa melakukan persiapan untuk menghadapi hari esok. Allah berfirman dalam surat al Hasyr ayat 18: Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dibuat untuk hari esok (masa depan). 

Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang kamu kerjakan [al Hasyr: 18] . Ayat ini dikaitkan oleh sebagian umat Islam dengan aktivitas menabung atau berasuransi. Menabung adalah upaya mengumpulkan dana untuk kepentingan mendesak atau kepentingan yang lebih besar di masa depan, sedangkan asuransi adalah upaya berjaga-jaga jika suatu musibah datang menimpa, di mana hal ini membutuhkan perencanaan dan kecermatan.

Dari segi hokum positif, hingga saat ini asuransi syariah masih mendasarkan legalitasnya pada UU No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian yang sebenarnya kurang mengakomodasi asuransi syariah di Indonesia karena tidak mengatur mengenai keberadaan asuransi berdasarkan prinsip syariah.

Dengan kata lain, UU No. 2 Tahun 1992, tidak dapat dijadikan landasan hokum yang kuat bagi asuransi syariah. Adapun peraturan perundang-undangan yang telah dikeluarkan pemerintah berkaitan dengan asuransi syariah yaitu :

a) Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 426/KMK.06/2003 tentang perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.
b) Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 424/KMK.06/2003 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.
c) Keputusan Direktur Jendral Lemabga Keuangan Nomor Kep. 4499/LK/2000 tentang Jenis, Penilaian dan Pembatasan Investasi Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi dengan system Syariah. 

Pengertian Asuransi Menurut Syariah [Asuransi Islam]

Desember 01, 2017
Dalam bahasa Arab, Asuransi disebut at-ta’min, penanggung disebut mu’ammin, sedangkan tertanggung disebut mu’amman lahu atau musta’min. At-ta’min  memiliki arti member perlindungan, ketenangan, rasa aman, dan bebas dari rasa takut. Men-ta’min-kan sesuatu, artinya adalah seseorang membayar atau menyerahkan uang cicilan untuk agar ia atau ahli warisnya mendapatkan sejumlah uang sebagaimana yang telah disepakati, atau untuk mendapatkan ganti terhadap harta yang hilang, dikatakan ‘seseorang mempertanggungkan atau mengasurasnsikan hidupnya, rumahnya atau mobilnya’.

Landasan Fatwa Hukum Asuransi Syariah dalam Islam

Ada tujuan dalam Islam yang menjadi kebutuhan mendasar, yaitu al-kifayah ‘kecukupan’ dan al-amnu ‘keamanan’. Sebagaimana firma Allah swt, “Dialah Allah yang mengamankan mereka dari ketakutan’’, sehingga sebagaian masyarakat menilai bahwa bebas dari lapar merupakan bentuk keamanan.

Mereka menyebutnya dengan al-amnu al-qidza i aman konsumnsi. Dari prinsip tersebut, Islam mengarahkan kepada umatnya untuk mencari rasa aman baik untuk dirinya sendiri dimasa mendatang maupun untuk keluarganya sebagai nasihat Raul kepada Sa’ad bin Abi Waqqash agar mensedekahkan sepertiga hartanya saja. Selebihnya ditinggalkan untuk keluarganya agar mereka tidak menjadi beban masyarakat. Asuransi merupakan bisnis yang unik, yang didalamnya terdapat lima aspek yaitu aspek ekonomi, hokum, social, bisnis, dan aspek matematika.  

Asuransi Syariah (Ta’min, Takaful atau Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah. Akad yang sesuai dengan syariah adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, dzulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat.

Menurut Husain Hamid Hisan, mengatakan bahwa asuransi adalah sikap ta’awun yang telah diatur dengan system yang sangat rapih, antara sejumlah besar manusia. Semuanya telah siap mengantisipasi suatu peristiawa. Jika sebagian mereka mengalami peristiwa tersebut, maka semuanya saling menolong dalam menghadapi peristiwa tersebut dengan sedikit pemberian (derma) yang diberikan oleh masing-masing peserta. Dengan pemberian (derma) tersebut, mereka dapat menutupi kerugian-kerugian yang dialami oleh peserta yang  tertimpa musibah.

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesi (DSN-MUI) dalam fatwanya tentang pedoman umum asuransi syariah, memberikan definisi tentang asuransi. Menurutnya, Asuransi Syariah (Ta’min, Tafakul, Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk asset dan atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Dari definisi di tersebut tampak bahwa asuransi syariah bersifat saling melindungi dan tolong menolong yang disebut dengan ta’awun. Yaitu prinsip hidup saling melindungi dan saling tolong menolong atas dasar ukhuwal Islamiyah antara sesame anggota perserta Asuransi Syariah dalam menghadapi malapetaka (risiko).

4 Poin Penting Unsur-Unsur Asuransi Menurut Pasal 246 KUHD

November 13, 2017
Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dan pemegang polis, yang menjadi dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan untuk memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan,biaya yang timbul, kehilangan keuntungan,  atau tanggung  jawab  hukum kepada  pihak  ketiga  yang  mungkin diderita tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti atau memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat   yang   besarnya   telah   ditetapkan   dan/atau   didasarkan   pada   hasil pengelolaan dana.
4 Poin Penting Unsur-Unsur Asuransi Menurut Pasal 246 KUHD

Dalam menjalankan usaha perasuransian  ada 3 (tiga) unsur mutlak yang peerlu diperhatikan, hal ini disebutkan dalam pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD), yaitu :
1. Adanya Kepentingan
2. Adanya Peristiwa Tak Tentu
3. Adanya Kerugian

Unsur-Unsur Asuransi Menurut Pasal 246 KUHD
Berdasarkan arti asuransi menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2014 tentang Usaha Perasuransian diatas, maka dalam unsur-unsur asuransi menurut pasal 246 KUHD asuransi terdapat 4 unsur,yaitu :
1.  Pihak tertanggung (insured) adalah seseorang / badan yang berjanji untuk membayar uang premi kepada pihak penanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur. Hak dari tertanggung adalah mendapatkan klaim asuransi, kewajiban tertanggung adalah membayar  premi kepada pihak asuransi.

2.  Pihak   penanggung   (insure)   adalah   suatu   badan   yang   berjanji   akan membayar sujumlah uang (santunan) kepada pihak tertanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur apabila terjadi sesuatu yang  mengandung unsure  tak  tertentu.  Hak  dari  penanggung adalah  mendapatkan  premi,  kewajiban penanggung adalah memberikan klaim sejumlah uang kepada pihak tertanggung apabila terjadi sesuatu hal yang sudah diperjanjikan.

3.  Suatu peristiwa yang tak tertentu (tidak diketahui sebelumnya)

4.  Kepentingan yang mungkin akan mengalami kerugian karena peristiwa yang tak tentu.

Dari definisi yang dirumuskan Pasal 246 KUHD tersebut, dapat ditarik beberapa unsur yang terdapat di dalam asuransi, yakni :
1.   Ada dua pihak yang terkait dengan asuransi, yakni penanggung dan tertanggung.
2.   Adanya peralihan resiko dari tertanggung kepada penanggung.
3.   Adanya premi yang harus dibayartertanggung kepada penanggung.
4.   Adanya unsur peristiwa yang tidak pasti (onzeker vooral, evenement).
5.   Adanya unsur ganti rugi apabila terjadi suatu peristiwa yang tidak pasti.

Asuransi memiliki unsur – unsur sebagai berikut :
1.  Pihak Penanggung (Insure)
Pihak  penanggung  adalah  pihak  yang  berkomitmen  akan  membayar
sejumlah uang kepada pihak tertanggung, secara berangsur atau secara sekaligus jika terjadi sesuatu yang mengandung unsur yang tidak tentu.

2.  Pihak Tertanggung (Insured)
Pihak tertanggung adalah pihak yan g berkomitmen untuk membayar uang
premi   kepada   pihak   penanggung,   secara   berangsur   ataupun  secara sekaligus.

3.  Peristiwa (Accident)
Peristiwa yang dimaksud dalam konteks ini adalah suatu kejadian yang
tidak tentu ataupun tidak diketahui sebelumnya.

4.  Kepentingan (Intereset)
Kepentingan  yang  dimaksud  dalam  konteks  ini  yang  mungkin  akan mengalami kerugian karena peristiwa yang tidak tentu.

Dari  uraian  yang  telah  disebutkan  diatas,  dapat  disimpulkan  bahwa asuransi memiliki unsur-unsur, yaitu unsur pihak penanggung, unsur pihak tertangung, unsur peristiwa, dan unsur kepentingan.

Pengertian Asuransi Yang Benar Menurut Para Ahli dan Undang-Undang

November 12, 2017
Pengertian Asuransi Menurut Para Ahli  - Asuransi adalah suatu kemauan untuk menetapakan kerugian kecil yang sudah pasti sebagai pengganti (subtitusi) kerugian-kerugian yang belum pasti (Salim, 2002)
Pengertian Asuransi yang Benar Menurut Para Ahli dan Undang-Undang Hukum Dagang

Asuransi atau dalam bahasa Belanda “Verzekering” yang berarti pertanggungan. Dalam pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) atau Wetboek Van Koophandle, bahwa asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri dengan seseorang tertanggung dengan menerima uang premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan  yang  mungkin  akan  didenda  karena  suatu  peristiwa  tak  tentu. 

Ketentuan ini berlaku bagi semua macam pertanggungan, baik yang ada di dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) maupun yang ada di luar Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) .

Jadi pemberian uang oleh penanggung bukanlah murni merupakan suatu penggantian kerugian, oleh karena jiwa manusia tidak mungkin dinilai dengan uang. Rumusan definisi pertanggungan dalam Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) berlaku bagi segala macm pertanggungan, dengan demikian berlaku bagi pertanggungan kerugian maupun bagi pertanggungan sejumlah uang atau pertanggungan jiwa.

Asuransi merupakan sarana keuangan dalam tata kehidupan rumah tangga, baik dalam menghadapi resiko atas harta benda yang dimiliki. Bicara masalah  asuransi atau pertanggungan sudah pasti didalamnya terdapat resiko-resiko, yaitu kemungkinan dideritanya suatu kerugian akibat dari suatu peristiwa yang tidak dapat dipastikan kapan terjadinya kerugian dapat berupa hilannya harta benda, meninggalnya  kepala  keluarga   sebagai  pencari  nafkah  sehingga   hilangnya tumpuan harapan yang menjadi sumber bertanggungnya kehidupan akan keluarga serta cacat tetap yang mengakibatkan seorang tidak mampu menjalankan aktifitas kehidupan untuk membiayai kehidupan dan keluarganya.
Menurut  UU  Republik  Indonesia  No.  40  Tahun  2014  tentang  Usaha

Perasuransian, Asuransi adalah sebagai berikut :
Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dan pemegang polis, yang menjadi dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan untuk memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan,biaya yang timbul, kehilangan keuntungan,  atau tanggung  jawab  hukum kepada  pihak  ketiga  yang  mungkin diderita tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti atau memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat   yang   besarnya   telah   ditetapkan   dan/atau   didasarkan   pada   hasil pengelolaan dana.”

Dari definisi di atas asuransi merupakan suatu perjanjian antara dua pihak atau  lebih  yang  pihak  penanggung  mengikat  diri kepada  tertanggung dengan menerima premi asuransi, atau suatu pembayaran yang didasrkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertangggungkan, sebagai pengganti kerugian- kerugian yang belum nyata.

Prosedur Pengajuan Klaim Asuransi Jiwa [Lengkap]

November 11, 2017
Prosedur Pengajuan Klaim Asuransi Jiwa - Pada umumnya klaim merupakan tuntutan yang harus dibayarkan penanggung atau perusahaan kepada tertanggung dengan besaran jumlah dana yang telah disepakati dalam polis asuransi. Dalam hal ini, ada beberapa prosedur dalam pengajuan klaim asuransi pada AJB Bumiputera.
Prosedur Pengajuan Klaim Asuransi Jiwa [Lengkap]

Klaim Meninggal Dunia 
Sebelum  membahas  formulir  dan  dokumen  yang  diperlukan,  terlebih dahulu    mengetahui    status    almarhum    yang    meninggal    dunia,    apakah sebagai Tertanggung atau Pemegang Polis, karena formulir pengajuan klaim akan berbeda.

Berikut ini dijelaskan perbedaan antara Tertanggung dengan Pemegang Polis.
1. Tertanggung merupakan orang yang atas jiwanya diasuransikan, misalnya bapak Joko  membeli polis untuk anaknya,  maka dalam hal ini anaknya merupakan tertanggung.

2. Pemegang  Polis adalah  orang  yang  mempunyai  kepentingan  atas  jiwa tertanggung yang mengadakan perjanjian dengan perusahaan asuransi jiwa untuk mengasuransikan tertanggung.

Jika yang meninggal dunia dalam hal ini adalah tertanggung, maka dokumen yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Polis asli atau duplikat polis bila polis asli hilang atau sertifikat pengganti polis/surat pengakuan hutang bila polis asli menjadi jaminan peminjam.
2. Kwitansi asli bukti pembayaran premi terakhir.
3. Surat Keterangan Meninggal Dunia dari Lurah/Kepala Desa yang dilegalisir oleh Camat, atau Akte Kelahiran.
4. Surat Keterangan Kecelakaan dari Kepolisian atau pihak yang berwenang apabila tertanggung meninggal dunia karena kecelakaan.
5. Formulir Pengajuan Klaim Meninggal Dunia.
6. Daftar pertanyaan klaim. 
7. Surat  Keterangan  Meninggal  Dunia  dari  Dokter/Rumah  Sakit  apabila tertanggung meninggal dunia dari Dokter, atau Rumah Sakit apabila tertanggung meninggal dunia dalam perawatan Dokter/Rumah Sakit.
8. Fotokopi Kartu Keluarga dan Akte Kelahiran apabila pembayaran klaim diwakilkan oleh orang tua kandung.
9. Surat Kuasa dari yang ditunjuk dalam hal yang ditunjuk lebih dari satu, dan berhalangan.
10. Surat Penetapan Wali dari Pengadilan Negeri apabila yang ditunjuk dalam polis  belum  cakap  bertindak  menurut  hukum/belum  dewasa,  sedangkan kedua orangtuanya meninggal dunia.
11. Surat penetapan ahli waris dari Pengadilan Negeri apabila pemegang polis yang ditunjuk menerima santunan dalam polis meninggal dunia.
12. Fotokopi Kartu Identitas tertanggung dan ahli waris/pihak yang ditunjuk.
13. Apabila  pembayaran  akan  dikuasakan  kepada  suami/istri/orangtua/anak, harus menyerahkan surat kuasa disertai materai dari perusahaan asuransi jiwa.
14. Apabila pemegang polis mendapat perlindungan asuransi lain, maka harus dilengkapi dengan pernyataan asuransi tersebut terhadap jumlah yang telah dibayar disertakan dengan salinan dokumen lengkap yang telah dilegalisir.
15. Formulir Nomor Rekening Bank.
16. Surat  Keterangan Pemeriksaan Mayat/Kematian dari Rumah Sakit/Dinas Kesehatan.
17. Surat Kuasa Pemaparan Isi Rekam Medis. 

Catatan:
1. Semua pertanyaan pada Formulir Klaim & Surat Keterangan Dokter harus diisi dengan benar, lengkap dan jelas tanpa pembebanan kepada AJB Bumiputera 1912.
2. Dokumen dan hasil pemeriksaan penunjang wajib dilampirkan.
3. Pengajuan klaim dan pembayaran manfaat tidak dikenakan biaya apapun, kecuali yang termasuk dalam ketentuan polis.
4. Berkas yang diajukan harus merupakan dokumen asli/legalisir oleh pihak yang berwenang oleh Staff Klaim Kantor Pusat, Wilayah atau Cabang.
5. Semua  dokumen  yang  telah  lengkap  dikirimkan  ke  Kantor  Pusat  AJB Bumiputera  1912,  selambat-lambatnya  diterima  AJB  Bumiputera  1912 dalam waktu 30 hari sejak tanggal pengajuan klaim dilakukan.
6. Apabila pemegang polis dan atau peserta mengajukan dokumen klaim tidak secara  lengkap,  AJB Bumiputera 1912 akan menganggap sebagai klaim yang diajukan.
7. AJB Bumiputera 1912 berhak untuk mendapatkan segala keterangan/catatan medis dari rumah sakit dan atau pihak lain sehubungan dengan diagnosa dan atau pelayanan lainnya yang diberikan kepada peserta.
8. AJB Bumiputera 1912 berhak melakukan penolakan klaim apabila terdapat informasi yang berbeda dari beberapa pihak yang terkait.
9. Apabila Klaim disetujui oleh Kantor Pusat AJB Bumiputera 1912, maka akan dilakukan pembayaran atas manfaat asuransi sesuai dengan persetujuan  AJB Bumiputera 1912 selambat-lambatnya 30 hari kerja sejak dokumen lengkap telah diterima AJB Bumiputera 1912.
10. Apabila pemegang polis asuransi meninggal dunia tanpa diketahui penyebab kematian  secara  pasti,  maka  pembayaran  atas  manfaat  asuransi dengan persetujuan AJB Bumiputera 1912 selambat-lambatnya 90 hari kerja sejak dokumen lengkap diterima AJB Bumiputera 1912.
11. Pembayaran   manfaat   asuransi  dinyatakan   batal  demi   hukum  karena pemegang polis melakukan bunuh diri, dan atau perkelahian yang dilakukan secara sengaja sehingga menyebabkan kematian bagi pemegang polis.

Klaim Penebusan Polis
Klaim penebusan timbul jika polis sudah mempunyai nilai tunai, sedang pemegang polis memutuskan perjanjian asuransinya.  Berikut ini merupakan prosedur pembayaran klaim penebusan polis sebagai berikut:

1. Polis asli atau pengganti polis
2. Kwitansi  asli  pembayaran  premi  terakhir  yang  dikeluarkan  oleh  AJB Bumiputera 1912.
3. Mengisi dan mengajukan surat pengajuan klaim.
4. Bukti identitas diri (KTP, SIM) pemegang polis atau tertanggung. C.  Klaim Habis Kontrak

Klaim habis kontrak timbul jika jangka waktu perjanjian asuransi sudah berakhir,  sedang  polisnya  dalam  keadaan inforce (premi  telah  dibayar  sampai jangka waktu kontrak).  Berikut ini prosedur pembayaran klaim habis kontrak sebagai berikut:

1. Polis asli atau duplikat bila polis asli hilang atau sertifikat pengganti polis, surat pengakuan hutang bila polis asli menjadi jaminan pinjaman.
2. Kwitansi asli bukti pembayaran premi terakhir.
3. Surat Pengajuan Klaim.
4. Fotokopi bukti pemegang polis.

Catatan:
Apabila polis asli atau pengganti polis hilang, maka pemegang polis harus membuat pernyataan polis hilang di atas kertas bermaterai cukup dan didukung Surat Keterangan Lapor dari Kepolisian.

Klaim Pengobatan Akibat Kecelakaan
Klaim kecelakaan timbul akibat peserta mendapatkan kecelakaan dan polisnya masih inforce. Berikut ini prosedur pembayaran klaim pengobatan akibat kecelakaan sebagai berikut:
1. Surat Pengajuan Klaim
2. Fotokopi sertifikat
3. Fotokopi kwitansi pembayaran premi terakhir
4. Kwitansi biaya pengobatan dan perawatan
5. Proses verbal dari Kepolisian apabila akibat kecelakaan lalu lintas

Klaim Rawat Inap dan Rawat Jalan 
Klaim rawat inap dan rawat jalan timbul akibat penderita menderita suatu penyakit dan perlu diopname atau cukup hanya dengan rawat jalan saja.  Berikut ini prosedur pembayaran klaim rawat inap dan rawat jalan sebagai berikut:
1. Mencantumkan nomor kepesertaannya
2. Semua bukti-buki biaya rawat inap dan rawat jalan
3. Surat Keterangan dari rumah sakit yang merawat
4. Laporan operasi bila dilakukan tindakan operasi dan termasuk rincian biaya operasi.
5. Salinan resep
6. Formulir Klaim AJB Bumiputera 1912 diisi lengkap dengan data peserta dan ditandatangani oleh peserta
7. Formulir Klaim tentang resume medis yang diisi lengkap dan jelas serta mencantumkan  tanda   tangan,   nama   jelas   yang   memberikan   layanan kesehatan
8. Salinan permintaan dari pemeriksaan penunjang diagnostik (laboratorium, rontgent, patologi anatomi dan lain-lain) berikut hasil salinan medisnya

Catatan:
Apabila Klaim disetujui oleh Kantor Pusat AJB Bumiputera 1912, maka akan dilakukan pembayaran atas manfaat asuransi sesuai dengan persetujuan AJB Bumiputera 1912 selambat-lambatnya 14 hari kerja sejak dokumen lengkap telah diterima AJB Bumiputera 1912. 

Pengertian Klaim Asuransi Menurut Para Ahli

November 10, 2017
Asuransi  merupakan  salah  satu  buah  peradaban  manusia  dan  merupakan suatu hasil evaluasi kebutuhan manusia yang sangat hakiki ialah kebutuhan akan rasa aman dan terlindung, terhadap kemungkinan menderita kerugian. 

Problem yang ditakuti manusia adalah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan kehilangan terhadap kendaraan   yang merupakan salah satu harta benda yang bernilai harganya. Salah satu cara untuk mengurangi risiko  yaitu  dengan mengalihkan atau melimpahkan risiko kepada pihak atau badan usaha lain. 

Salah satu jenis usaha   asuransi yang dikenal sekarang ini adalah usaha asuransi kerugian. Sebagaimana tercantum dalam pasal 3 huruf (a) angka (1) Undang-undang No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian.
Pengertian Klaim Asuransi Menurut Para Ahli

Pengertian Klaim Asuransi Menurut Para Ahli
Menurut Budi (2012) menyatakan bahwa “Klaim asuransi adalah tuntutan dari pihak tertanggung sehubungan dengan adanya kontrak perjanjian antara asuransi dengan pihak tertanggung yang masing-masing pihakmengikatkan diri untuk menjamin pembayaran ganti rugi oleh penanggung jika pembayaran premi asuransi telah dilakukan oleh pihak  tertanggung, ketika  terjadi musibah  yang diderita oleh pihak tertanggung.”

Dalam Kamus Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa “Klaim adalah tuntutan pengakuan atas suatu fakta bahwa seseorang berhak (memiliki atau mempunyai) atas sesuatu, dan klaim merupakan pernyataan tentang pernyataan suatu fakta atau kebenaran sesuatu.

Dari pengertian diatas disimpulkan bahwa klaim merupakan tuntutan yang harus dipenuhi penanggung kepada tertanggung sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati di dalam polis asuransi. 

Dalam menjalankan kegiatan asuransi pasti akan timbul resiko-resiko yang akan dihadapi oleh nasabahnya dimasa yang akan datang, dimana resiko tersebut akan menimbulkan klaim bagi pihak perusahaan. Dan pihak perusahaan wajib menanggung semua resiko tersebut sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dan tercantum dalam polis asuransi.

Umumnya klaim merupakan tuntutan atas hak sebagai akibat dari pemenuhan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan sebelumnya dalam perjanjian asuransi. Secara khusus, klaim asuransi jiwa merupakan tuntutan dari pemegang polis/ penerima pengalihan hak kepada penanggung atas pembayaran jumlah uang pertanggungan ( UP ) atau saldo tunai sebagai akibat dari pemenuhan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian asuransi.

Pengalaman Selama Ikut Asuransi Kesehatan

November 04, 2017
Pengalaman Ikut Asuransi Kesehatan - Suatu bentuk pertanggungan Asuransi yang memberikan jaminan kepada tertanggung untuk mengganti setiap biaya pengobatan, seperti biaya perawatan di rumah sakit, biaya pembedahan, obat-obatan, bila tertanggung menderita penyakit/sakit berdasarkan program yang disepakati atau yang di jamin oleh polis perusahaan asuransi.
Pengalaman Selama Ikut Asuransi Kesehatan

Apa sih yang didapat jika ikut asuransi kesehatan?
Berikut bentuk jaminan yang didapat ketika ikut asuransi kesehatan:

1. Rawat Inap / In Patient (IP)
Mengganti biaya pengobatan akibat musibah penyakit dan memerlukan perawatan / menginap di rumah sakit, sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada kondisi polis perusahaan asuransi.

Dalam proses penutupan polisnya disebut sebagai jaminan pokok atau jaminan yang dapat diambil secara perorangan ataupun grup besar, dan dapat diambil secara tunggal tanpa mengambil jaminan tambahan.

2. Rawat Jalan / Out Patient (OP)
Mengganti biaya pengobatan akibat penyakit yang tidak memerlukan perwatan di rumah sakit/menginap/opname namun hanya rawat jalan /berobat jalan saja.

Dalam proses penutupan polisnya merupakan jaminan tambahan / optional benefit, yang hanya dapat diambil dengan grup besar mnimal di atas 26 orang peserta.

3. Perawatan Gigi / Dental (DE)
Mengganti biaya pengobatan akibat perawatan dasar, perawatan gusi, perawatan gigi kompleks, perbaikan dan gigi palsu pada perawatan gigi.

Dalam proses penutupan polisnya merupakan jaminan tambahan yang hanya dapat diambil dengan grup besar minimal di atas 26 orang peserta.

4. Perawatan Melahirkan / Maternity (MA)
Mengganti biaya persalinan / melahirkan sesuai dengan program yang diambil dan dijamin polis.

Dalam proses penutupan polisnya merupakan jaminan tambahan yang hanya dapat diambil dengan grup besar minimal di atas 26 orang peserta.

PENGECUALIAN
1. Pengecualian Umum
a. AIDS dan ARC ( AIDS Related Complex ) artinya terdapatnya gejala AIDS, walaupun tidak sepenuhnya ( secara klinis maupun laboratoris ) pada kelompok peka AIDS.

b. Perawatan atau pengobatan yang tidak perlu dibayar atau dengan sendirinya yang dapat dibayar oleh Asuransi atau santunan lain yang menjamin tertanggung.

c. Biaya telkom dan angkutan/tranportasi.

d. Gangguan yang timbul sebagai akibat dari tindakan KB secara pembedahan, mekanis (spiral) atau kimiawi (pil) atau perawatan sehubungan dengan kemandulan.

e. Kelainan bawaan yang diketahui sebelum Tertanggung mulai dimasukkan dalam Polis.

f. Pembedahan dan pengobatan perawatan untuk mempercantik diri (kosmetik). Pemeriksaan refraksi mata untuk kepentingan kaca mata, alat bantu pendengaran , kaca mata dan resep untuk keperluan tersebut, kecuali yang diperlukan sebagai akibat dari suatu kecelakaan yang terjadi selama Tertanggung dijamin dalam polis ini.

g. Pengobatan dan perawatan gigi, kecuali yang diperlukan sebagai akibat dari suatu kecelakaan terhadap gigi sehat yang terjadi di dalam masa Tertanggung dijamin

h. Penyakit pada anak yang baru lahir yang diidapnya sebelum atau selama proses kelahiran atau yang timbul dalam 14 hari pertama setelah dilahirkan.

i. Cidera atau penyakit yang timbul akibat dari penggunaan minuman keras, narkotika, atau obat-obatan sejenis.

j. Cidera atau penyakit yang timbul akibat dari tugas pekerjaan dengan risiko lebih tinggi dari pekerja kasar.

k. Radiasi ion, atau pencemaran oleh radio aktif dari bahan bakar atau sampah nuklir dari proses pembelahan atom atau dari senjata nuklir.

l. Kehamilan, melahirkan (termasuk pembedahan), keguguran, pengguguran dan pemeriksaan sebelum dan sesudah melahirkan.

m. Biaya pemeriksaan / pengobatan oleh anggota keluarga terdekat dari tertanggung atau oleh seorang yang biasanya tinggal serumah dengan tertanggung.

n. Penyakit gangguan pikiran, gangguan kejiwaan atau syaraf (termasuk gangguan syaraf dan manifestasi faal dan psychosomatisnya).

o. Pemeriksaan kesehatan secara rutin , check up atau tes yang tidak ada hubungannya dengan pengobatan atau diagnosa dari suatu penyakit, tindakan pencegahan oleh dokter.

p. Perawatan khusus, istirahat sebagai pengobatan atau dalam tahanan yang berwajib.

q. Percobaan bunuh diri.

r. Penyakit kelamin dan akibatnya.

s. Perang atau bertugas aktif di Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dari suatu negara atau Badan Internasional.
2. Pre- Existing Condition
Kondisi penyakit-penyakit yang telah ada sebelum tertanggung secara terus menerus dijamin di bawah Polis Asuransi kesehatan dimana Tertanggung :

a. Menerima perawatan untuk kondisi tersebut dalam masa dua tahun sebelum tanggal proposal.

b. Menunjukkan tanda-tanda atau gejala-gejala dari kondisi tersebut pada saat atau sebelum tanggal proposal untuk asuransi atas nama tertanggung secara sadar atau sewajarnya telah menyadarinya.

Penyakit apa saja yang ditanggung pembayarannya oleh asuransi kesehatan?.
Berikut penyakit - penyakit yang dijamin setelah satu tahun periode asuransi berjalan :

a. Segala jenis tumor
b. Tonsil/amandel yang membesar
c. Hemmorhoid/ambeien, wasir
d. Katarak
e. Kerusakan lambung (tukak lambung) atau usus dua belas jari
f. Penyakit rongga hidung yang memerlukan pembedahan
g. Endrometriosis (penebalan lapisan selaput rahim)
h. Batu dalam saluran kencing atau sistim billary dan
i. Cholecystitis (radang kandung empedu)
j. Hypertensi (darah tinggi) dan semua komplikasinya
k. Jantung, pembuluh darah dan semua komplikasiinya (termasuk hypercholesterol)
l. Struma (pembesaran kelenjar gondok)
Penyakit-penyakit yang dijamin setelah enam bulan pertama dari periode asuransi :

a. Ashtma
b. Diabetes Militus/kencing manis
c. Tuberkulosis
d. Gout (Rheumatoid, jicht) dan encok
e. Kondisi-kondisi sinus yang tidak memerlukan pembedahan
f. Kelainan kulit yang tidak memerlukan obat-obat antibiotik untuk pengobatannya.

Kondisi Pre-existing di atas (termasuk Penyakit-penyakit dengan masa tunggu 1 tahun dan 6 bulan ) tidak berlaku pada penutupan polis asuransi secara grup besar ( di atas 26 orang peserta ) untuk program In patient ( rawat-inap).

BENEFIT ATAU LIMIT COVER
1. Rawat Inap / In Patient (IP)
a. Biaya Kamar dan menginap di Rumah Sakit
Mengganti biaya harian untuk sewa kamar dan menginap , makan untuk setiap harinya, perawatan umum sebagai pasien yang terdaftar dalam Rumah sakit. Batas jaminan ini adalah 60 hari.

b. Unit Perawatan Intensif / ICU
Mengganti biaya harian untuk jangka waktu yang tidak melebihi 10 hari di unit perawatan intensif, asalkan dinyatakan secara tertulis dan sangat diperlukan secara medis oleh dokter yang bertanggung jawab terhadap si tertanggung.

c. Skedul Pembedahan
    I Operasi Kecil Maksimum
Menggantikan biaya-biaya untuk dokter bedah, dokter bius dan kamar operasi yang dilakukannya sampai jumlah maksimum yang dijamin serta biaya pemeriksaan sebelum dan sesudah pembedahan sampai dengan 31 (tiga puluh satu) hari sebelum dan / atau sesudah operasi.

     II Operasi Sedang Maksimum
Menggantikan biaya-biaya untuk dokter bedah, dokter bius dan kamar operasi yang dilakukannya sampai jumlah maksimum yang dijamin serta biaya pemeriksaan sebelum dan sesudah pembedahan sampai dengan 31 (tiga puluh satu) hari sebelum dan / atau sesudah operasi.

     III Operasi Besar Maksimum
Menggantikan biaya-biaya untuk dokter bedah, dokter bius dan kamar operasi yang dilakukannya sampai jumlah maksimum yang dijamin serta biaya pemeriksaan sebelum dan sesudah pembedahan sampai dengan 31 (tiga puluh satu) hari sebelum dan / atau sesudah operasi.

      IV Operasi Khusus Maksimum
Menggantikan biaya-biaya untuk dokter bedah, dokter bius dan kamar operasi yang dilakukannya sampai jumlah maksimum yang dijamin serta biaya pemeriksaan sebelum dan sesudah pembedahan sampai dengan 31 (tiga puluh satu) hari sebelum dan / atau sesudah operasi.

d. Biaya Aneka Perawatan Rumah Sakit
Mengganti biaya-biaya untuk test-test Diagnostik dan untuk biaya-biaya yang terjadi selama perawatan Rumah Sakit serta peralatan dan perawatan yang diperlukan secara medis.

e. Kunjungan Dokter di Rumah Sakit (hanya untuk perawatan non bedah)
Mengganti biaya-biaya yang dikenakan oleh seorang dokter untuk mengunjungi seorang pasien yang dirawat di rumah sakit, maksimum satu kali kunjungan per hari. Jaminan ini dibatasi secara harian.

f. Konsultasi dengan Dokter Ahli
Mengganti biaya-biaya konsultasi yang dibebankan oleh Dokter Spesialis sehubungan dengan disability yang memerlukan perawatan rumah sakit , jika konsultasi tersebut telah direkomendasikan secara tertulis oleh dokter yang merawat.

g. Perawatan Darurat
Mengganti biaya-biaya yang terjadi sebagai akibat dari cidera karena kecelakaan untuk perawatan sebagai pasien berobat jalan pada klinik atau rumah sakit yang terdaftar dalam jangka waktu 24 jam setelah kecelakaan yang menyebabkan sidera itu.

h. Perawatan Gigi Darurat
Mengganti biaya-biaya yang terjadi sebagai akibat dari cidera karena kecelakaan yang terjadi pada gigi alamiah yang benar-benar sehat, hanya jika perawatan dilakukan dalam 14 hari setelah kecelakaan yang menyebabkan cidera dan dilakukan pada klinik gigi atau rumah sakit yang terdaftar.

i. Biaya Ambulans
Mengganti biaya-biaya yang dikenakan oleh suatu Rumah Sakit atau organisasi yang memberikan jasa ambulans untuk mengangkut seorang tertanggung ke rumah sakit pada saat yang diperlukan.
2. Rawat Jalan / Out Patient (OP)
a. Konsultasi
Mengganti biaya-biaya untuk kunjungan ke dokter atau klinik atau suatu kunjungan seorang dokter ke kediaman tertanggung, maksimum satu kali kunjungan per hari.

b. Biaya Dokter Spesialis
Mengganti biaya-biaya dokter spesialis asalkan tertanggung diberi pengantar/referensi untuk pergi ke dokter spesialis oleh dokter umum untuk suatu disability. Dalam peristiwa dimana tidak ada referensi tertulis, jumlah yang diganti akan dibatasi sampai batas pengeluaran yang sesuai untuk dokter umum. Dalam kasus konsultasi dengan Dokter Anak untuk anak di bawah 8 tahun, atau konsultasi dengan dokter mata, dan kandungan, tidak diperlukan surat referensi dari seorang dokter. Batas jaminan ini adalah harian.

c. Biaya obat-obatan
Mengganti biaya obat sesuai resep. Batas jaminan ini adalah untuk setiap tahun polis.

d. Laboratorium & test-test diagnostik
Mengganti biaya-biaya untuk test laboratorium atau sinar-x yang diperlukan untuk diagnosa suatu disability yang dijamin. Batas jaminan ini adalah untuk setiap tahun polis.

Catatan Pengalaman Ikut Asuransi Kesehatan :
1. Apabila biaya pemeriksaan dan pengobatan masing-masing tidak diperinci secara terpisah (satu kwitansi), maka dianggap 100% biaya pemeriksaan Dokter. ( jika copy resep tidak ada).

2. Apabila biaya pemeriksaan dan pengobatan masing-masing tidak diperinci secara terpisah (satu kwitansi), maka dianggap 50% biaya pemeriksaan dan 50% biaya obat-obatan (jika dilampirkan dengan copy resep ).