Struktur Tubuh Mikoriza

Beginilah Struktur Tubuh Mikoriza [Beserta Gambar]

Beginilah Struktur Tubuh Mikoriza [Beserta Gambar]

Pengertian Fungi Mikoriza
Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) merupakan asosiasi antara fungi tertentu dengan akar tanaman dengan membentuk jalinan interaksi yang komplek.

Mikoriza berasal dari kata miko (mykes = fungi)  dan rhiza yang berarti akar. Mikoriza dikenal dengan fungi tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer).  Selain disebut sebagai fungi tanah, FMA juga biasa dikatakan sebagai fungi akar.  Keistimewaan dari fungi ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara fosfor atau P (Syib’li, 2008).

Fungi Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer.  Simbiosis terjadi di dalam akar tanaman yaitu fungi mengolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon hasil fotosintesis dari tanaman.

Fungi Mikoriza Arbuskular termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari genus Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora.

Berdasarkan struktur dan cara fungi menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkan ke dalam tiga tipe yaitu ektomikoriza, endomikoriza, dan ektendomikoriza. Jenis ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambut-rambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. 

Hifa fungi tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang di antara dindingdinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperti pada jaringan hartiq. Fungi jenis endomkoriza memiliki jaringan hifa yang masuk kedalam sel kortek akar dan membentuk struktur yang khas berbentuk oval yang disebut vesikular dan sistem percabangan hifa yang disebut arbuskul, sehingga endomikoriza disebut juga vesikular-arbuskular mikoriza. Sedangkan ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain.  

Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya.  Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas ( Brundrett,  2004).

Sifat-sifat Fungi Mikoriza
Fungi mikoriza arbuskular tergolong ke dalam endomikoriza, membentuk organorgan khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik yaitu arbuskul, vesikular, dan spora.
1. Vesikular
Vesikular merupakan struktur fungi yang berasal dari pembengkakan hifa internal, berbentuk bulat telur yang berukuran 30-50 μm – sampai 80 μm- 100 μm, dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan fungi. Jika suplai metabolik dari tanaman inang berkurang, maka cadangan makanan itu akan digunakan oleh fungi sehingga vesikular mengalami degenerasi (Brundrett, 2004).

Tipe FMA yang bervesikular memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe fungi mikoriza lainnya.  Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman, sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan ketahanan tanaman (Brundrett, 2004).

2. Arbuskular
Fungi mikoriza arbuskular di dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. Arbuskular merupakan hifa yang bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon di dalam sel inang. Struktur ini mulai terbentuk 2-3  hari setelah infeksi, dimulai dengan penetrasi cabang hifa lateral yang dibentuk oleh hifa ekstraseluler dan intraseluler ke dalam dinding sel inang ( Brundrett,  2004).

Arbuskular merupakan percabangaan hifa yang masuk kedalam sel tanaman inang. Arbuskul dianggap aliran hara dua arah antara simbion fungi dan tanaman inang ( Pattimahu,  2004).

Dengan bertambahnya umur, arbuskular berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada arbuskular tidak dapat dibedakan lagi. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh FMA dapat dilihat berbagai arbuskular dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknyaa. Arbuskular dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut ( Pattimahu,  2004).

3. Spora
Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal.  Spora ini dapat dibentuk secara tunggal, berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis funginya. Perkecanbahan spora sangat sensitif tergantung pada lingkungan seperti pH, temperatur, dan kelembaban tanah.  Spora dapat hidup di dalam tanah sampai beberapa tahun. Namun untuk perkembangan, FMA memerlukan tanaman inang.

Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse, 1981). Ukuran spora fungi sangat bervariasi dari sekitar 100 m sampai 600 m. Karena ukuranya yang cukup besar, maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Simanungkalit, 2004).

Manfaat Fungi Mikoriza
Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa mikoriza. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro.  Selain itu, akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas, 1997).

Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza.  Setelah periode kekurangan air (water stress) , akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Hal ini disebabkan karena hifa fungi mampu menyerap air yang ada pada poripori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air.  Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat ( Anas,  1997).

Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah:
(1)  miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman, (2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam berat, kekeringan, serta patogen akar, dan (3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili dan Jumpponen, 2006).

Anas (1997)  mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap  (1) adanya peningkatan absorpsi hara oleh tanaman, sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat, (2) meningkatkan toleransi terhadap erosi, pemadatan, keasaman, dan salinitas, dan (3) memperbaiki agregasi partikel tanah.

Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai, tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah, maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah.  Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan ke lapang lebih baik dari tanaman tanpa mikoriza (Anas, 1997).

Related Posts