Laporan Praktikum Teknologi Benih [Lengkap] Tentang Uji Daya Perkecambahan Benih


Laporan Praktikum Teknologi Benih [Lengkap] Tentang Uji Daya Perkecambahan Benih
Oleh: Anggie Fitriani

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkecambahan merupakan serangkaian peristiwa penting sejak benih dorman sampai kebibit yang sedang tumbuh tergantung dari viabilitas benih, lingkungan yang cocok dan pada beberapa tanaman tergantung pada usaha pemecahan dormansi. Oleh karena itu perlu dilaksanakan pengujian benih untuk mengetahui viabilitas benih atau kemampuam benih untuk tumbuh menjadi bibit pada kondisi lingkungan yang optimum. Uji perkecambahan itu meliputi uji daya kecambah, yang erat kaitanya dengan viabilitas benih dan uji kecepatan berkecambah yang berhubungan erat dengan vigor benih. 

Perkecambahan biji adalah pengaktifan kembali aktifitas pertumbuhan embryonic axis didalam biji yang terhenti untuk kemudian membentuk bibit (seedling). Biji untuk dapat berkecambah memerlukan persyaratan baik dalam biji itu sendiri maupun persyaratan lingkungan. Persyaratan untuk berkecambah yang berbeda-beda dari bermacam-macam biji adalah penting diketahui untuk pedoman penanaman biji, pedoman penetapan treatment tertentu dan pengontrolan pertumbuhan. Persyaratan untuk berkecambah yang berbeda-beda dari bermacam-macam biji adalah penting diketahui untuk pedoman penanaman biji, pedoman penetapan treatment tertentu, dan pengontrolan pertumbuhan. 

Setiap benih memiliki kemampuan yang berbeda untuk berkecambah, meskipun kondisi genetis dan fisiologisnya sama. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan yang dapat menentukan suatu kecambah. Dengan memberikan perlakuan yang berbeda pada satu jenis benih yang sama akan dapat diketahui kemampuan tumbuh dari masing-masing benih tersebut. Kemampuan benih tersebut dinyatakan dengan daya kecambah dan kecepatan kecambah dapat aktifnya Syarat luar utama yang dibutuhkan untuk kembali pertumbuhan embryonic exis adalah : air yang cukup, suhu yang pantas, oksigen yang cukup, serta cahaya yang cukup. Pengujian perkecambahan benih yang sering dilakukan adalah dengan menggunakan substratum kertas dan pasir. Beberapa metode yang dikenal antara lain : pada kertas (PK), pada pasir (PP), dalam pasir (DP), antar kertas (AK), dan pada kertas digulung dalam plastic (PKDp).

Daya tumbuh atau Daya berkecambah ialah jumlah benih yang berkecambah dari se jumlah benih yang di kecambahkan pada media tumbuh optimal ( kondisi laboratorium ) pada waktu yang telah ditentukan, dan dinyatakan dalam persen. Pengujian daya kecambah adalah mengecambahkan benih pada kondisi yang sesuai untuk kebutuhan perkecambahan benih tersebut, lalu menghitung presentase daya berkecambahnya. Persentase daya berkecambah merupakan jumlah proporsi benih-benih yang telah menghasilkan perkecambahan dalam kondisi dan periode tertentu. 

Untuk pengujian viabilitas benih, setiap peubah diharapkan mempunyai tolak ukur tersendiri. Daya berkecambah atau daya tumbuh merupakan tolak ukur viabilitas potensial benih. Peubah vigor benih atas vigor kekuatan tumbuh dan daya simpan. Vigor kekuatan tumbuh benih dapat diindikasikan misalnya dengan tolak ukur laju perkecambahan (speed of germination), keserempakan tumbuh, laju pertumbuhan kecambah (seedling growth rate). Vigor daya simpan dapat diindikasikan dengan tolak ukur daya hantar listrik, vigor benih terhadap deraan etanol/fisik, dan sebagainya.

Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian daya berkecambah benih jagung, bayam dan kangkung. Penentuan daya berkecambah merupakan salah satu cara untuk mengetahui mutu fisiologi suatu benih. Dengan mengetahui daya kecambah suatu benih maka kita akan bisa memperkirakan jumlah benih yang akan tumbuh nantinya. Uji daya berkecambah benih dapat dilakukan di laboratorium dengan media kertas dan berbagai metode, seperti UDK (uji di atas kertas). UAK (uji antar kertas) dan UKDdp (uji kertas digulung dilapisi plastik).

B. Rumusan masalah
Bagaimana cara mendeksi viabilitas benih?

C. Tujuan 
Adapun tujuan dari praktikum kali ini untuk mendeteksi viabilitas benih pada kondisi optimum.
      
BAB II
TINJAUAN PUSAKA
Perkecambahan (germination) merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah.

Perkecambahan pada dasarnya adalah pertumbuhan embrio atau bibit tanaman, sebelum berkecambah benih relatif kecil dan dorman. Perkecambahan ditandai dengan munculnya radicle dan plumule. Biasanya radicle keluar dari kulit benih, terus ke bawah dan membentuk sistem akar. Plumule muncul ke atas dan membentuk sistem tajuk. Pada tahap ini proses respirasi mulai terjadi. Cadangan makanan yang tidak dapat dilarutkan diubah agar dapat dilarutkan, hormon auxin terbentuk pada endosperm dan kotiledon. Hormon tersebut dipindah ke jaringan meristem dan digunakan untuk pembentukan sel baru dan membebaskan energi kinetik (Edmondet al., 1975).

Kecambah adalah tumbuhan (sporofit) muda yang baru saja berkembang dari tahap embrionik di dalam biji. Tahap perkembangan ini disebut perkecambahan dan merupakan satu tahap kritis dalam kehidupan tumbuhan.

Kecambah biasanya dibagi menjadi tiga bagian utama: radikula (akar embrio), hipokotil, dan kotiledon (daun lembaga). Dua kelas dari tumbuhan berbunga dibedakan dari cacah daun lembaganya: monokotil dan dikotil.

Tumbuhan berbiji terbuka lebih bervariasi dalam cacah lembaganya. Kecambah pinus misalnya dapat memiliki hingga delapan daun lembaga. Beberapa jenis tumbuhan berbunga tidak memiliki kotiledon, dan disebut akotiledon.

Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel biologi. Sel-sel embrio membesar dan biji melunak. Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal. Ukuran radikula makin besar dan kulit atau cangkang biji terdesak dari dalam, yang pada akhirnya pecah. Pada tahap ini diperlukan prasyarat bahwa cangkang biji cukup lunak bagi embrio untuk dipecah.

Benih merupakan biji tanaman yang digunakan untuk tujuan pertanaman, artinya benih memiliki fungsi agronomis. Untuk itu benih yang diproduksi dan tersedia harus bermutu tinggi agar mampu menghasilkan tanaman yang mampu berproduksi maksimal.

Mutu benih mencakup tiga aspek yaitu :
a. Mutu genetik, yaitu aspek mutu benih yang ditentukan berdasarkan identitas genetik yang telah ditetapkan oleh pemulia dan tingkat kemurnian dari varietas yang dihasilkan, identitas benih yang dimaksud tidak hanya ditentukan oleh tampilan benih, tetapi juga fenotipe tanaman.
b. Mutu fisiologi, yaitu aspek mutu benih yang ditunjukan oleh viabilitas benih meliputi daya berkecambah/daya tumbuh dan vigor benih.
c. Mutu fisik, yaitu aspek mutu benih yang ditunjukan oleh tingkat kebersihan, keseragaman biji dari segi ukuran maupun bobot, kontaminasi dari benih lain atau gulma, dan kadar air.
      
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Praktikum
1. Waktu : Senin, 28 Desember 2015  dan Jum’at, 1 Januari 2016.
2. Tempat : Laboratorium Agroteknologi Fakultas Pertanian UMP.

B. Alat dan Bahan
1. Alat :
• Kertas buram
• Plastik • Pinset  • Cawan petri
2. Bahan  :
• Benih jagung
• Benih kangkung
• Benih bayam

C. Prosedur Kerja
1. Metode penanaman uji kertas gulung dilapisi plastik (UKDdp)
a. Menanam 25 butir benih jagung diatas media kertas yang sudah dibasahi dan dilapisi plastik dibagian bawahnya. Benih diatur dalam lima baris dengan posisi selang seling dengan arah calon akar menghadap kebawah.
b. Menutup benih dengan media kertas lainyang sudah dibasahi dan plastik kemudian menggulungnya.
c. Mengulang langkah diatas sampai empat kali untuk memperoleh benih 100 butir.
d. Menyimpan benih tersebut pada tempat yang tertutup dan membiarkanya sampai satu minggu.
e. Mengamati hasil benih setelah satu minggu.
2. Metode penanaman uji diatas kertas (UDK)
a. Menyiapakan cawan petri yang diberi media kertas sesuai dengan bentuk cawan yang sudah dibasahi.
b. Menanam benih bayam sebanyak 25 butir pada masing – masing cawan petri sebanyak empat cawan.
c. Tutup benih yang sudah ditanam dengan kertas yang sudah dibentuk sesuai dengan penutup cawan dan sudah dibasahi.
d. Meletakkan cawan tersebut ditempat yang lembab dan membiarkannya sampai satu minggu.
e. Mengamati dan menghitung jumlah benih yang tumbuh setelah satu minggu.
3. Metode penanaman uji antar kertas (UAK)
a. Melipat kertas lembab menjadi dua.
b. Menanam benih kangkung sebanyak 25 butir benih pada masing – masing media kertas yang sudah dibasahi sebanyak empat media media kertas.
c. Melipat kembali keempat sisinya dengan media kertas tersebut.
d. Meletakkan media tersebut ditempat yang lembab dan membiarkannya sampai satu minggu.
e. Mengamati dan menghitung jumlah benih yang tumbuh setelah satu minggu.
      
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Komoidtas           Kecambah
Normal     Benih Mati      Kecambah
Abnormal             Daya Berkecambah
Jagung     91        3          6          91 %
Bayam     71        16        8          71 %
Kangkung            56        30        14        56 %

B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini menggunakan metode UAK, UKDdp dan UDK. Ketiga metode ini menggunakan satu media yaitu kertas yang dibasahi atau dilembabkan, hanya saja ada juga perbedaan dari segi perlakuan. Perlakuan pertama kertas dibasahi dan ditanam benih diperlakukan digulung dengan dilapisi plastik, metode betikutnya kertas yang sudah dibasahi dibagi menjadi dua untuk menutup bagian kertas setelah ditanam benih dan yang terakhir kertas dibasahi dan dibentuk sesuai ukuran cawan petri dan ditutup kembali dengan kertas bash. Setiap perlakuan menggunakan 100 benih jagung, bayam dan kangkung. Hal yang perlu diperhatikan dalam menanam adalah memastikan embrio benih diletakan dibawah supaya pertambuhan akar pada penaman tersebut dalam satu arah.

Dari hasil pengamatan ketiga jenis benih (jagung, bayam dan kangkung), dilihat dari jumlah kecambah normal, kecambah abnormal dan mati, secara umum benih jagung memiliki viabilitas yang lebih baik dibandingkan benih bayam dan kangkung. Kecambah normal, ditandai dengan akar dan batang yang berkembang baik, jumlah kotiledon sesuai, dan mempunyai tunas pucuk yang baik.Kecambah dengan pertumbuhan lemah / kecambah abnormal memiliki ciri-ciri plumula atau radikula tumbuh tidak semestinya yaitu plumula tumbuh membengkok atau tumbuh kebawah, sedangkan radikula tumbuh sebaliknya. Pada benih yang mati tidak ditandai dengan tidak adanya perkembangan dan pertumbuhan radikula. benih ini mati berhubungan dengan tingginya kadar air yang menyebabkan struktur membran mitokondria tidak teratur sehingga permeabilitas membran meningkat. Banyak metabolit antara lain gula, asam amino dan lemak yang bocor keluar sel disebabkan peningkatan permeabilitas membran. Dengan demikian substrat untuk respirasi berkurang sehingga energi yang dihasilkan untuk berkecambah berkurang. Suhu dan kadar air tinggi merupakan faktor penyebab menurunnya daya berkecambah dan vigor. Adapun kriterianya sebagai berikut :

1. Kriteria untuk kecambah normal diantaranya adalah:
a. Kecambah dengan pertumbuhan sempurna, ditandai dengan akar dan batang yang berkembang baik, jumlah kotiledon sesuai, daun berkembang baik dan berwarna hijau, dan mempunyai tunas pucuk yang baik.
b. Kecambah dangan cacat ringan pada akar, hipokotil/ epikotil, kotiledon, daun primer, dan koleoptil.
c. Kecambah dengan infeksi sekunder tetapi bentuknya masih sempurna.

2. Kecambah abnormal adalah kecambah yang tidak memperlihatkan potensi untuk berkembang menjadi kecambah normal. Kecambah di bawah ini digolongkan ke dalam kecambah abnormal : a. Kecambah rusak
Kecambah yang struktur pentingnya hilang atau rusak berat. Plumula atau radikula patah atau tidak tumbuh.
b. Kecambah cacat atau tidak seimbang
Kecambah dengan pertumbuhan lemah atau kecambah yang struktur pentingnya cacat atau tidak proporsional. Plumula atau radikula tumbuh tidak semestinya yaitu plumula tumbuh membengkok atau tumbuh kebawah, sedangkan radikula tumbuh sebaliknya.
c. Kecambah lambat
Kecambah yang pada akhir pengujian belum mencapai ukuran normal. 
Jika dibandingkan dengan pertumbuhan kecambah benih normal kecambah pada benih abnormal ukurannya lebih kecil.

3. Benih mati
Benih yang sampai pada akhir masa pengujian tidak keras, tidak segar, dan tidak berkecambah. Benih mati dapat dilihat dari keadaan benih yang telah membusuk, warna benih terlihat agak kecoklatan. Hal ini disebabkan karena adanya penyakit primer yang menyerang benih. Disebabkan karena pada saat kultur teknis dilepangan tanaman yang menajdi induk talah terserang hama dan penyakit sehingga pada benih tersebut berpotensi membawa penyakit dari induknya.

Secara internal proses perkecambahan biji ditentukan keseimbangan antara promotor dan inhibitor perkecambahan, terutam asam giberelin (GA) dan asam absisat (ABA). Faktor eksternal yang merupakan ekologi perkecambahan meliputi air, suhu, kelembaban, cahaya dan adanya senyawasenyawa kimia tertentu yang berperilaku sebagai inhibitor perkecambahan (Dwidjoseputro. 1983). Selain itu faktor internal yang lain adalah kemasakan benih. Jika benih yang sudah masak maka kandungan cadangan makan pada benih tersebut sudah ada, sehingga waktu benih itu ditanam maka perkecambahan akan mudah karena dalam melakukan perkecambahan benih melakukan aktivitasnya dengan cadangan makanan tersebut.

Ciri utama benih ialah kalau benih itu dapat dibedakan dari biji karena mempunyai daya hidup yang disebut viabilitas. Namun, semua insane benih, apapun fungsi yang disandangnya, senantiasa mendambakan benih vigor, tidak sekedar benih yang hidup (viable). Sekadar benih yang mempunyai potensi hidup normal pun tidak cukup. Mengenai benih yang hidup, kalau dibatasi secara negatif menjadi gampang. Indikasi bahwa benih itu mati. Kalaupun benih itu menunjukkan gejala hidup saja, misalnya yang ditunjukkan oleh tingkat pernapasannya, bahkan oleh sel-sel embrio yang tidak mati. Benih dapat dikategorikan mempunyai daya hidup sekalipun benih itu tidak menunjukkan pertumbuhan. Kalau benih itu menumbuhkan akar embrionalnya, benih itu hidup.

Daya berkecambahnya benih dapat diartikan sebagai berkembangnya bagian-bagian penting dari embrio suatu benih yang menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh secara normal pada lingkungan yang sesuai. Dengan demikian, pengujian daya tumbuh atau daya berkecambah benih ialah pengujian akan sejumlah benih, beberapa persentase dari jumlah benih tersebut yang dapat atau mampu berkecambah pada jangka waktu yang telah ditentukan (Eko Pramono,2009).

Daya berkecambahnya benih dapat diartikan sebagai berkembangnya bagian-bagian penting dari embrio suatu benih yang menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh secara normal pada lingkungan yang sesuai. Dengan demikian, pengujian daya tumbuh atau daya berkecambah benih ialah pengujian akan sejumlah benih, beberapa persentase dari jumlah benih tersebut yang dapat atau mampu berkecambah pada jangka waktu yang telah ditentukan.

Hasil daya perkecambahan dihitung dari jumlah kecambah yang normal dibagi 100, yang merupakan jumlah benih yang digunakan dalam masing – masing percobaan dan dikalikan 100% untuk memperoleh hasil dengan persentase.  adapun cara penghitungan sebagai berikut :
     daya berkecambah =  
     jagung =          bayam =          kangkung =  

Dengan tiga perlakuan daya perkecambahan ini, dilihat dari hasil pengamatan UDKD lebih baik dari pada itu dan itu. hal ini disebabkan tempat penyimpanan selama perkecambahan biji. pada jagung, penyimpanan dapat membantu proses perkecambahan dengan baik. sedangkan pada benih kangkung viabilitas perkecambahannnya paling rendah diantara ketiga pengujian kali ini. hal ini disebabkan tempat penyimpanan yang terlalu lembab dan tepat penyimpanan yang kami gunakan sudah berkarat.

Faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan yaitu sebagai berikut :
1. Tingakat kemasakan benih
Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya belum tercapai maka tidak mempunyai viabilitas yang tinggi. Oleh karena itu benih yang akan dihasilkan tidak akan berkecambah karena benih tersebut belum mempunyai cadangan makanan yang cukup dan juga pembentukan embrionya belum sempurna.

2. Ukuran benih
Ukuran benih ini sangat berpengaruh karena benih yang besar dan berat mengandung cadangan makanan dibandingkan benih-benih kecil sehingga daya perkecambahannya tinggi dan itu juga dikarenakan bahan baku yang terdapat pada benih besar dan energi bagi embrio sangat banyak.

3. Dormansi
Suatu  benih dikatakan dorman ketika benih itu viable tetapi tidak mau tumbuh walaupun sudah berada di lingkungan yang memenuhi syarat perkecambahan.
Faktor luar yang mempengaruhi perkecambahan yaitu sebagai berikut : a. Air
b. Temperatur
c. Cahaya
d. Media perkecambahan
   
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Uji kali ini menggunakan metode
2. Benih ayng tumbuh normal, abnormal dan mati. Benih yang tumbuh normal ditandai adanya akar dan batang yang 
3. Perkecambahanan yang baik adalah jagung. Sedangkan yang buruk adalah kangkung, hal ini dapat dipengaruhi beberapa faktor.
4. Faktor internal yang mempengaruhi perkecambahan yaitu tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi.
5. Faktor yang eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan perkecambahan yaitu suhu, air, cahaya dan media perkecambahan.

B. Saran 
Sebelum praktikum ini sebaiknya praktikan dapat mengetahui pertumbuhan benih dan ciri – ciri benih yang tumbuh normal dan abnormal. 
      
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Uji Daya Berkecambah Benih. Purwokerto.
Hidayat, AM.2013. Laporan Praktikum Pengujian Daya Tumbuh Benih. Purwokerto
Hismi, BW. 2013. Uji Kecambah. Purwokerto.
Najwa, S. 2014. Uji Daya dan Kecepatan Berkecambah Benih. Purwokerto.  

Untuk versi PDF [Lengkap] klik disini

Related Posts