Asal Usul Pohon Beringin (Ficus benjamina Linn)

Februari 12, 2018
Asal Usul Pohon Beringin (Ficus benjamina Linn) - Pohon beringin (Ficus benjamina Linn.) merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak dijumpai di berbagai wilayah Indonesia. Pohon beringin yang merupakan tanaman asli Asia Tenggara termasuk dari Indonesia dan sebagian Australia ini banyak ditanam sebagai tanaman dekoratif di fasilitas umum seperti alun-alun, lapangan umum, perindang jalan maupun tanaman dekoratif di halaman kantor dan rumah (Heyne 1987, Bauer & Speck 2012). Ficus benjamina termasuk  salah  satu tanaman  dari  famili  Moraceae yang   mudah   tumbuh   di   berbagai   kondisi   lahan

Asal Usul Pohon Beringin (Ficus benjamina Linn)

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jl. Gunung Batu 5, Bogor 16610. termasuk lahan kering (Veneklaas et al. 2002). Pertumbuhan pohon beringin dapat mencapai tinggi hingga 4050 m dengan diameter batang mencapai 100190 cm. Veneklaas et al. (2002) menyebutkan bahwa pohon beringin termasuk tanaman cepat tumbuh dengan kecepatan pertumbuhan 65 mg-1/hari.

Tumbuh di lingkungan terbuka, pohon beringin me- miliki banir tinggi yang cukup keras dan menyebar ke berbagai arah, kadang tidak tampak di bawah tanah kemudian muncul kembali di atas permukaan tanah (Boer & Sosef 1998).

Pohon beringin yang secara internasional dikenal dengan nama Benjamin’s fig atau weeping fig ini juga dikembangkan sebagai tanaman hias di dalam rua- ngan dalam pot atau tanaman bonsai. Dalam bentuk tanaman kecil beringin sedikit menghasilkan getah, sehingga mengurangi resiko alergi kulit dan per- nafasan akibat terkontaminasi getah pohon beringin  (Frankland 1999; Hemmer et al. 2004). 

Pengembangan tanaman beringin untuk di luar ruangan relatif lebih disukai, karena bentuk tajuknya menarik dan mampu berfungsi sebagai peneduh dan perbanyakan tanamannya relatif mudah dengan mengandalkan penyerbukan dari lebah. Namun demikian, perbanya- kan alami Ficus benjamina telah dilaporkan tidak terkendali di beberapa negara dan menggolongkan tanaman ini sebagai tanaman yang bersifat invasif (invasive species) (Starr et al. 2003).

Pohon beringin memiliki ciri khas berupa akar gantung yang menjulur dari atas ke bawah dalam jumlah banyak, sehingga tampak seperti garis-garis vertikal yang menopang pohon tersebut (Hemmer et al. 2004). 

Akar gantung yang berasal dari cabang pohon beringin ini bervariasi diameternya menjuntai menutupi batang utama. Akar gantung yang semula berdiameter kecil ini tumbuh berkembang menjadi besar menutupi batang utama. Akar yang berada paling dekat dengan batang utama berdiameter lebih besar dibandingkan dengan akar gantung yang tumbuh kemudian dan terletak jauh dari batang utama (Boer & Sosef 1998).

Akar gantung yang besar dan terletak  dekat  batang  utama  ini  kadang  menempel dan menyatu dengan batang utama, sehingga dalam pertumbuhannya menyatu dengan batang utama, sehingga batang utama pohon beringin tampak tidak beraturan sebagaimana tampak pada Gambar 1.

Ficus benjamina banyak tumbuh tersebar di ber- bagai lokasi di Indonesia baik di tempat umum mau- pun milik pribadi. Masyarakat beranggapan pohon beringin merupakan pohon yang sakral, sehingga pohon beringin jarang ditebang untuk dimanfaatkan kayunya. Pohon beringin yang tua dan tumbang di daerah pedesaan pada umumnya hanya dimanfaat- kan sebagai kayu bakar, namun pohon beringin yang tumbang di sekitar wilayah perkotaan dibiarkan mem- busuk  tanpa  manfaat .  

Pohon  beringin yang tumbang tidak dimanfaatkan karena selain menghindari   penggunaan   pohon   yang   dianggap sakral, pohon beringin juga memiliki bentuk batang utama tidak teratur dengan adanya akar gantung. Berbeda dengan jenis pohon Ficus lain dalam satu famili seperti Ficus callosa dan variegata yang me- miliki batang soliter dan silindris tanpa adanya kehadiran akar gantung, kayunya telah dimanfaatkan masyarakat menjadi berbagai produk seperti rangka gambar (picture frame), moulding, dan fancy plywood (Boer & Sosef 1998). Selain itu, keterbatasan infor- masi mengenai karakteristik dasar kayu beringin beserta komponen akar gantungnya dapat menjadi faktor pembatas lain dalam upaya pemanfaatan kayu beringin. Tulisan ini mempelajari struktur anatomi bagian   batang   utama   dan   akar   gantung   pohon beringin sebagai dasar dalam pemanfaatan kayu dan akar gantungnya.

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »