Inilah Syarat Tumbuh dan Hama Penyakit Tanaman Buncis

Januari 22, 2018
Syarat Tumbuh Tanaman Buncis

Menurut Kuring (2007), tanah yang cocok bagi tanaman buncis ternyata banyak terdapat di daerah yang mempunyai iklim basah sampai kering dengan ketinggian bervariasi namum tanaman ini sangat cocok dengan jenis tanah andosol dan regosol karena mempunyai drainase yang baik. Tanah berwarna hitam, bahan organiknya tinggi, bertekstur lempung hingga debu, remah, gembur dan permeabilitasnya sedang, bisa pula ditanam pada tanah bertekstur pasir sampai berbutir tunggal dan permeabel.

Inilah Syarat Tumbuh dan Hama Penyakit Tanaman Buncis

Menurut Cahyono (2003), tanah liat yang berat tidak cocok untuk budidaya buncis karena memiliki daya ikat air atau daya serap air sangat rendah sehingga tanah mudah tergenangi air selain itu tanah liat juga memiliki aerasi yang buruk. Ketersediaan unsur hara tanah juga tergantung dari pH, tanah yang memiliki pH  kurang dari 5,5 miskin unsur hara Magnesium (Mg), Boron (B) dan Molibdenum (Mo). Di samping itu, beberapa unsur hara dapat menjadi racun bagi tanaman jika tanah terlalu asam, antara lain Besi (Fe), Aluminium (Al) dan Mangan (Mn). Begitu pula dengan sifat biologis tanah juga sangat berpengaruh terhadap kesuburan tanaman dan produksi polong. Tanaman buncis dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi jika ditanam pada tanah yang banyak mengandung bahan organik dan organisme pengurai bahan organik tersebut. Sifat biologis tanah yang baik juga dapat menyimpan kelebihan zat makanan (hara), membantu proses nitrifikasi, menekan pertumbuhan patogen, memperlancar aerasi di dalam tanah sehingga dapat menetralisir gas-gas beracun di dalam tanah, meningkatkan jumlah oksigen di dalam tanah dan peresapan air.

Tanaman buncis dapat tumbuh dengan baik dan produksinya tinggi pada kisaran suhu udara antara 20-25 ºC. Keaadaan udara lebih dari kisaran tersebut dapat menyebabkan kualitas polong sangat rendah, bahkan polong buncis tidak berisi (tidak berbiji) dan jika suhu lebih rendah dari batas kisaran tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang baik dan pembentukan polong sangat sedikit. Kisaran suhu yang lebih rendah atau lebih tinggi dari batas-batas tersebut juga dapat mengakibatkan kematian pada tanaman buncis (Cahyono, 2003).

Kelembaban udara dan tanah yang optimum bagi tanaman buncis adalah sedang (cukup kering) yaitu berkisar antara 50-60%. Kelembaban udara yang terlalu rendah (kering) atau terlalu kering dan pengairan tanah yang kurang dapat menyebabkan tanaman buncis tumbuh kurang baik dan produksi polong rendah baik kualitas maupun kuantitasnya (Cahyono, 2003).

Curah hujan sebaiknya cukup merata sepanjang tahun, daerah yang memiliki curah hujan antara 1.500-2.500 mm/th sangat cocok untuk budidaya tanaman buncis. Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan buncis menjadi kurang baik sedangkan curah hujan yang rendah dapat menyebabkan banyak bunga yang gugur dan polong yang dihasilkan pendek-pendek serta bengkok (Cahyono, 2003).

Tanaman buncis dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi memmerlukan penyinaran cahaya matahari penuh sepanjang hari yaitu 10-12 jam atau memerlukan cahaya banyak sekitar 400-800 footcandles, untuk mendapatkan sinar matahari penuh penanaman harus ditempat terbuka (Cahyono, 2003).

Angin yang kencang dan terus menerus dapat merobohkan atau merusak tanaman buncis, dapat mempercepat evaporasi sehingga tanah cepat mengering dan keras (memadat). Oleh karena itu, pemilihan lokasi untuk budidaya buncis harus memperhatikan keadaan angin. Daerah yang keadaan anginnya tenang dan tidak sering terjadi angin kencang sangat cocok untuk budidaya buncis (Cahyono, 2003).

Hama dan Penyakit Tanaman Buncis

Menurut Cahyono(2003), hama yang sering menyerang pada tanaman buncis antara lain adalah ulat jengkal (Plusia Sp), ulat grayak (Spodoptera litura), ulat penggerek polong (Etiella zinckenella), ulat penggulung daun (Lamprosema Sp), ulat polong (Helicoverpa armigera), lalat bibit (Agromyza Sp), kutu daun (Aphis gossypii), ulat tanah (Agrotis Sp), kepik pengisap polong (Riptortus linearis dan Nezara viridula), nematoda bengkak akar (Meloidogyne Sp), kumbang daun (Henosepilachna signatipennis atau Epilachna signatipennis), tungau merah (Tetranychus cinnabaricus Boisd) dan siput (Cahyono, 2003).

Beberapa jenis penyakit yang sering menyerang tanaman buncis adalah penyakit bercak coklat pada daun (Cercospora), penyakit karat yang disebabkan oleh cendawan Uromyces phaseoli (pers) Wint Var. Typica Arth, penyakit antraknosa yang disebabkan oleh cendawan Colltotrichum lindemuthianum (Sacc. et Magn) Briosi et Cav, penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum, penyakit daun berkerut (Mosaik), penyakit bercak hitam pada batang (hawar batang), penyakit embun tepung, penyakit hawar daun, penyakit busuk lunak dan penyakit rebah semai (Cahyono, 2003).

Taksonomi dan Morfologi (Botani) Tanaman Buncis [Lengkap]

Januari 21, 2018
Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan salah satu tanaman sejenis polong-polongan yang dapat dimakan. Buah, biji, dan daunnya bisa dimanfaatkan sebagai sayuran. Sayuran ini kaya akan protein dan vitamin serta dapat membantu menurunkan tekanan darah serta mengawal metabolisme gula dalam darah dan sangat sesuai dimakan oleh mereka yang mengidap diabetes atau hipertensi. Kandungan serat dan enzim yang tinggi dapat membantu penurunan berat badan (Wikipedia, 2010.)

Taksonomi dan Morfologi (Botani) Tanaman Buncis [Lengkap]

Menurut Depe (2010), kandungan gizi buncis cukup tinggi terutama pada karbohidrat dan protein. Buncis juga mengandung serat larut yang dapat membantu mengatur fungsi pencernaan sehingga dapat mencgah ambien. Untuk keterangan lebih lanjut tentang kandungan gizi buncis dapat dilihat pada Lampiran 1.

Buncis dapat ditanam di daerah dataran tinggi dan dataran rendah, tergantung pada varietasnya. Tanaman  buncis dapat tumbuh baik dan produksinya tinggi bila ditanam di dataran rendah dengan ketinggian tempat 200-300 meter dari permukaan laut (m dpl) untuk tanaman buncis tipe merambat dapat tumbuh baik dan produksinya tinggi bila ditanam di daerah dataran tinggi dengan ketinggian tempat 1.000-1.500 m dpl. Tanaman buncis tipe merambat dapat juga ditanam di daerah yang berketinggian antara 500-600 m dpl namun hasilnya tidak sebaik yang ditanam di dataran yang lebih tinggi (Cahyono, 2003).

Buncis peka terhadap salinitas, kekeringan, genangan dan kelebihan boron tanah, sifat-sifat tanah yang baik untuk buncis adalah gembur, remah, subur dan agak asam paling disukai, keasaman (pH) optimum berkisar antara 5,5-6,5, dan selama penanaman biji tidak boleh bersinggungan langsung dengan pupuk (Naturindonesia, 2010).

Di Indonesia umumnya tanaman buncis dibudidayakan di daerah dataran tinggi, tetapi ada beberapa varietas yang adaptif pada daerah dataran rendah. Luas pertanaman buncis di Indonesia sampai tahun 2007 telah mencapai 31.330 ha dengan rata-rata hasil 7,59 t.ha ˉ¹, padahal potensi hasil tanaman buncis rata-rata di atas 25 t.haˉ¹. Bertambahnya jumlah penduduk yang disertai dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi, mengakibatkan permintaan buncis mengalami kenaikan (Hodiyah, Kurniati dan Puspita, 2009).

Menurut SIPUK – Bank Sentral Reublik Indonesia (2007), sentra produksi sayuran buncis berada di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kabupaten ini juga menjadi satu-satunya pemasok utama sayuran buncis bagi pemenuhan konsumsi masyarakat di wilayah/kabupaten sekitarnya termasuk Kabupaten Hulu Sungai Utara. Data ini menunjukkan bahwa peluang agribisnis buncis cukup menjanjikan sebab budidaya buncis pada lahan rawa lebak di Kabupaten Hulu Sungai Utara belum bahkan hampir tidak pernah diusahakan secara besar-besaran dan serius, sehingga data statistik untuk jenis tanaman ini pun belum terdata oleh Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Taksonomi Tanaman Buncis

Tanaman buncis dalam ilmu tumbuhan, diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta (tanaman berbiji)
Subdivisi : Angiospermae (biji berada di dalam buah)
Kelas : Dicotyledoneae (biji berkeping dua atau biji belah)
Ordo : Leguminales
Famili : Leguminoceae (kacang-kacangan)
Subfamili : Papilionaceae
Genus : Phaseolus
Species : Phaseolus vulgaris

Morfologi Tanaman Buncis

Menurut Depe (2010),  sayuran ini sangat kaya akan protein dan vitamisn yang spesial yang dapat membantu menurunkan kadar kolesterol, mencegah kanker, menstabilkan tekanan darah serta mengontrol insulin dan gula darah, jadi sangat cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes.

Menurut Cahyono (2003) buncis (Phaseolus vulgaris L.) termasuk jenis sayuran polong semusim (berumur pendek) seperti halnya kacang kapri, kacang panjang, kecipir, cabe, pare, labu, mentimun dan sebagainya. Tanaman buncis berbentuk semak atau perdu. Tinggi tanaman buncis tipe tegak berkisar antara 30-50 cm tergantung pada varietasnya sedangkan tinggi tanaman buncis tipe merambat dapat mencapai 2 meter. Secara morfologi bagian atau organ-organ penting tanaman buncis adalah akar, batang, daun, bunga, polong dan biji.

Tanaman buncis berakar tunggang dan berakar serabut. Akar tunggang tumbuh lurus ke dalam (vertikal) hingga kedalaman sekitar 11-15 cm sedangkan akar serabut tumbuh menyebar (horizontal) dan tidak dalam. Perakaran tanaman buncis dapat tumbuh dengan baik bila tanahnya gembur, mudah menyerap air (porous) dan subur. Perakaran tanaman buncis tidak tahan terhadap genangan air. Akar tanaman buncis merupakan bagian dari organ tubuh yang berfungsi untuk berdirinya tanaman serta penyerapan zat hara dan air (Cahyono, 2003).

Batang tanaman buncis berbengkok-bengkok, berbentuk bulat, berbulu atau berambut halus, berbuku-buku atau beruas-ruas, lunak tetapi cukup kuat. Ruas-ruas batang mengalami penebalan. Batang tanaman berukuran kecil dengan diameter batang hanha beberapa milimeter, berwarna hijau, tetapi ada pula yang berwarna ungu tergantung pada varietasnya, bercabang banyak yang menyebar merata sehingga tanaman tampak rimbun (Cahyono, 2003).

Daun tanaman buncis berbentuk bulat lonjong, ujung daun runcing, tepi daun rata, berbulu atau berambut sangat halus dan memiliki tulang-tulang menyirip. Kedudukan daun tegak agak mendatar dan bertangkai pendek. Setiap cabang tanaman terdapat tiga daun yang kedudukannya berhadapan. Ukuran daun buncis sangat bervariasi tergantung pada varietasnya. Daun yang berukuran kecil memiliki ukuran lebar 6-7,5 cm dan panjang 7,5-9 cm sedangkan daun yang berukuran besar memiliki ukuran lebar 10-11 cm dan panjang 11-13 cm (Cahyono, 2003).

Menurut Cahyono (2003), bunga tanaman buncis berukuran kecil, berbentuk bulat panjang (silindris) dengan ukuran panjang 1,3 cm dan lebar bagian tengah 0,4 cm. Kelopak bunga berjumlah 2 buah dan pada bagian bawah atau pangkal bunga berwarna hijau, tangkai panjang sekitar 1 cm. Bagian lain dari bunga buncis adalah mahkota bunga yang memiliki warna beragam ada yang berwarna putih, hijau keputih-putihan, ungu muda dan ungu tua tergantung pada varietasnya. Mahkota bunga berjumlah 3 buah, dimana yang 1 buah berukuran lebih besar daripada yang lainnya.

Bunga tanaman buncis merupakan malai (panicle). Tunas-tunas utama dari panicle bercabag-cabang dan setiap cabang tumbuh tunas bunga, tergolong ke dalam jenis bunga sempurna atau berkelamin ganda (hermaphrodit) karena benang sari atau tepung sari dan kepala benang sari atau kepala putik terdapat dalam satu tandan bunga. Persarian bunga tanaman buncis dapat terjadi dengan bantuan serangga atau angin. Bunga buncis tumbuh dari cabang yang masih muda atau pucuk muda (Cahyono, 2003).

Polong buncis memiliki bentuk dan warna bervariasi tergantung pada varietasnya, ada yang berbentuk pipih dan lebar yang panjangnya lebih dari 20 cm, bulat lurus dan pendek kurang dari 12 cm serta berbentik silindris agak panjang sekitar 12-20 cm. Polong buncis ada yang berwarna hijau tua, ungu, hijau keputih-putihan, hijau terang, hijau pucat dan hijau muda. Memiliki struktur halus, tekstur renyah, ada yang berserat dan tidak berserat, ada yang bersulur pada ujung polong dan ada yang tidak. Polong buncis tersusun bersegmen-segmen. Jumlah biji di dalam 1 polong bervariasi antara 5-14 buah tergantung pada panjang polong (Cahyono, 2003).

Biji buncis yang telah tua agak keras dan warnanya sangat bervariasi tergantung pada varietasnya, ada yang berwarna putih, hitam, coklat, coklat keunguan, coklat kehitaman, merah dan ungu tua. Memiliki rasa hambar, dengan ukuran agak besar, berbentuk bulat lonjong dengan bagian tengah (mata biji) agak melengkung (cekung), berat biji buncis berkisar antara 16-40,6 g (berat 100 biji) tergantung pada varietasnya (Cahyono, 2003).

Varietas buncis yang cocok untuk dataran rendah dan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buncis tipe merambat dari salah satu varietas hibrida unggul yang diintroduksi dari negara Thailand yaitu Lebat-3. Varietas ini cocok ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi. Daya tumbuh benih mencapai 90%. Pertumbuhan tanaman kuat, merambat dengan tinggi mencapai 2 meter. Bentuk buah silindris atau gilig dengan panjang ± 16, 6 cm, diameter ± 0,8 cm. Buah berwarna hijau muda dengan permukaan kulit halus dan biji berwarna putih. Tekstur buah renyah tidak berserat dengan rasa yang manis.umur panen ± 42 hari setelah tanam (hst) dengan potensi hasil 1,4 kg/ tanaman dan kebutuhan bibit ± 15 kg.ha ˉ¹, dengan jarak tanam 40 x 50 cm (Pitojo, 2010).

Kriteria tanaman buncis siap panen adalah warna polong agak muda dan suram, biji dalam polong belum menonjol, bila polong dipatahkan akan menimbulkan bunyi letupan kecil dengan ukuran panjang polong ± 15-17 cm tergantung pada varietas. Umumnya pemanenan dilakukan secara bertahap yaitu setiap 2-3 hari sekali atau ± sebanyak 7 kali panen. Rentang waktu yang cukup singkat juga cocok dengan kondisi iklim yang saat ini cenderung ekstrim, tidak menentu dan diprediksikan lagi (Kuring, 2007).

Tips Liburan Ke Bogor Jika Ada Sistem Buka-Tutup Jalur

Januari 18, 2018
Tips Liburan Ke Bogor Jika Ada Sistem Buka-Tutup Jalur
source: indexberita.com

Wilayah Bogor dan sekitarnya adalah salah satu destinasi liburan keluarga favorit saat akhir pekan. Keluarga dari wilayah sekitarnya seperti Jakarta, Depok, Bandung, dll berbondong-bondong berkunjung ke Kota Hujan ini untuk menikmati pesonanya. Wajar saja, soalnya Bogor memiliki panorama alam yang sangat memesoana. Udaranya pun sejuk sehingga sangat nyaman untuk dinikmat. Selain itu, banyak tempat-tempat seru dengan fasilitas mumpuni yang bisa dikunjungi.

Tapi dengan banyaknya keluarga yang berlibur ke Bogor, jalan menuju kawasan ini pun menjadi sangat padat, khususnya di jalur menuju puncak. Tak jarang, pihak berwenang pun mengeluarkan kebijakan buka-tutup jalur untuk mengurai kemacetan dari atau menuju Bogor. Oleh karena itu, agar momen liburanmu tidak terlalu terganggu oleh kemacetan, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan saat sedang berlaku buka-tutup jalur di jalan menuju kawasan Bogor dan sekitarnya, di antaranya:

Mengetahui Jadwal Buka Tutup-Jalur
Hal pertama yang harus kamu lakukan yaitu mencari informasi mengenai kapan jalur menuju destinasi favoritmu sedang dibuka, bukan sebaliknya. Dengan berada di jalur tersebut tepat saat sedang dibuka, maka kamu tidak akan terhambat kemacetan yang sangat panjang. Namun bila sebaliknya, maka kamu harus menunggu jalur yang kamu gunakan dibuka dan ini bisa sangat lama.  Biasanya pihak berwenang akan membuka jalur menuju puncak sekitar pukul 09.00 WIB - 11.30 WIB dan membuka jalur sebaliknya pada pukul 15.00 WIB - 17.00 WIB. Di luar jam tersebut, polisi akan membuka dua jalur dari dan menuju puncak. Jadwal ini tentu dapat berubah sewaktu-waktu. Untuk itu, rajinlah update informasi dari media atau media sosial terkait.

Kenali Jalur Alternatif
Bila kemacetan tetap terjadi atau kamu tidak sempat berada di jalur yang sedang dibuka tepat waktu, mencari jalur alternatif adalah pilihan terbaik. Biasanya, pihak terkait akan memberikan informasi jalur alternaif mana saja yang bisa digunakan, Tapi selain itu, sebaiknya kamu pun mencari tahu sendiri jalur alternatif mana yang bisa dipilih melalui internet atau peta digital. Jadi, kamu akan lebih mudah menemukan jalur tercepat menuju destinasi utama.

Pastikan Bahan Bakar Selalu Terisi Penuh
Dengan jalur yang cukup menanjak ditambah dengan situasi yang cukup padat, konsumsi bahan bakar pada kendaraan yang kamu pakai tentu akan semakin besar. Untuk mengindari terjadinya kehabisan bahan bakar di situasi yang tidak tepat, jangan malas untuk mengisi bahan bakar hingga penuh sebelum memasuki jalur yang padat tadi. Hal ini karena mencapai tempat pemgisian bahan bakar saat situasi macet tidaklah mudah. Dengan bahan bakar yang terisi penuh, kamu pun bisa lebih bebas berpergian saat berada di puncak.

Jangan Lupa Bawa Camilan dan Minuman
Kemacetan yang terjadi dipuncak tidak terjadi dalam hitungan menit, melainkan bisa berjam-jam. Jadi selain mengisi bahan bakar untuk kendaraan, kamu pun perlu memberi asupan makanan dan minuman untuk tubuh sendiri agar tetap memiliki energi untuk melanjutkan perjalanan. Soalnya, belum tentu kamu bisa menemukan penjual makanan dan minuman dengan mudah selama perjalanan. Seperti kata pepatah, sebaiknya kamu ‘sedaia payung sebelum hujan’.

Membawa Car Charger
Tak hanya tubuh dan kendaraan saja yang perlu diisi energi, smartphone yang kamu bawa pun membutuhkannya agar tetap menyala. Dengan smartphone yang selalu menyala, banyak hal yang bisa dilakukan seperti cek promo hotel sekaligus memesan hotel di Bogor terbaik di sekitar tempat tujuan, mengubungi orang-orang tertentu, meminta bantuan, hiburan, dan sebagainya. Oleh karena itu, jangan lupa membawa car charger untuk mengisi daya selama diperjalanan. Meskipun berdampak kurang baik terhadap baterai smartphone, tapi setidaknya bisa memberikan manfaat yang tidak sedikit.

Ajak Supir Cadangan
Meskipun ada makanan dan minuman yang bisa kamu konsumsi untuk menambah energi, tetap saja tubuhmu bisa sangat kelelahan saat berada dalam kondisi macet. Saat lelah, resiko terjadinya kecelakaan pun semakin tinggi, Untuk menghindari hal buruk itu, sebaiknya ajak orang yang bisa mengendarai kendaraan dan memiliki Surat Ijin mengemudi. Jadi saat kamu merasa lelah, orang tersebut bisa menggantikan posisimu untuk sementara. Kamu pun tidak perlu menepi sementara untuk mengobati lelah sehingga perjalanan tidak kembali terhambat.

Jadi, jangan ragu untuk liburan ke kawasan Bogor dan sekitarnya karena ada banyak hal menarik yang bisa kamu dapat. Sekarang,  waktunya membuat rencana liburan ke kawasan Bogor dan sekitarnya untuk menikmati pesona yang tersaji di sana. Jangan lupa untuk cek promo hotel dari sekarang untuk mendapatkan hotel di Bogor terbaik dengan harga yang lebih murah.

Tips Liburan Ke Bogor Jika Ada Sistem Buka-Tutup Jalur

Kamu dapat mengunjungi situs reservasi.com untuk cek promo hotel karena ada banyak kamar hotel di kawasan Bogor dan sekitarnya yang bisa kamu temukan dengan penawaran harga terbaik.

Masalah yang Sering Dihadapi Pada Lahan Sawah Irigasi

Januari 07, 2018
Sawah adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh pematang (galengan), saluran untuk menahan/menyalurkan air, yang biasanya ditanami padi sawah tanpa memandang dari mana diperolehnya atau status tanah tersebut. atau Sawah adalah lahan usahatani yang secara fisik permukaan tanahnya rata, dibatasi oleh pematang, dapat ditanami padi dan palawija / tanaman pangan lainnya.

Masalah yang Dihadapi Pada Lahan Sawah Irigasi

Kebanyakan sawah digunakan untuk bercocok tanam padi. Untuk keperluan ini, sawah harus mampu menyangga genangan air karena padi memerlukan penggenangan pada periode tertentu dalam pertumbuhannya. Untuk mengairi sawah digunakan sistem irigasi dari mata air, sungai atau air hujan.

Lahan sawah memiliki multifungsi dalam bentuk mitigasi banjir, mengendalikan erosi dan sedimentasi, pendaur ulang sumberdaya air, mitigasi peningkatan suhu udara, penampung dan pendaur ulang sampah organik, mengurangi kadar nitrat air tanah, detoksifikasi kelebihan unsur hara dan residu pestisida, serta penambat karbon (Agus dan Irawan, 2004).

Berdasarkan pengairannya lahan sawah dibedakan atas berbagai macam salah satunya adalah Sawah Berpengairan (Irigasi) yaitu lahan sawah yang memperoleh pengairan dari sistem irigasi, baik yang bangunan penyadap dan jaringan-jaringannya diatur dan dikuasai dinas pengairan PU maupun dikelola sendiri oleh masyarakat.

Lahan sawah irigasi terdiri atas :
a) Lahan sawah irigasi teknis.
b) Lahan sawah irigasi setengah teknis
c) Lahan sawah irigasi sederhana.
d) Lahan sawah irigasi non PU

Sebagian besar wilayah lahan sawah irigasi telah dilakukan pertanaman dengan indeks pertanaman (IP) 200, yaitu di awal musim hujan 1 kali (panen Januari – April) dan akhir musim hujan 1 kali (panen Mei – Agustus). Sistem pertanaman dilakukan secara serentak, baik saat tanam maupun panen. Hal ini dilakukan agar memudahkan dalam pengaturan tata air, pendampingan oleh petugas lapangan dan memudahkan dalam mengendalikan hama-penyakit yang mungkin timbul.

Penyebaran aktivitas kegiatan usahatani yang merata sepanjang tahun bagi masyarakat tani di pedesaan penting untuk diupayakan. Pengelolaan usahatani di lahan sawah irigasi yang dibangun dalam upaya memberikan tambahan pasokan air irigasi memiliki peluang untuk dapat diupayakan mampu memberikan lapangan kerja bagi petani sepanjang waktu di pedesaan.

Masalah yang masih dihadapi pada lahan sawah irigasi ini antara lain adalah sebagai berikut :
1) Intensitas pertanaman (IP) masih rendah,

2) Pada saat penyiapan lahan dan panen raya yang berlangsung serentak mengalami kekurangan tenaga kerja dan sulit memperoleh saprodi,
3) Penggunaan alat mesin pertanian (traktor, RMU, box drier), tenaga kerja maupun infrastruktur tidak efektif, karena dalam 1 tahun hanya digunakan ± 3 bulan saat tanam dan panen,
4) Harga jual gabah merosot saat panen raya dan penyediaan benih sangat kurang saat tanam serentak, dan

5) Sistem tunda jual hasil padi tidak memberikan nilai tambah yang layak dan bahkan membutuhkan biaya tambahan, karena pemerintah menetapkan harga dasar sebagai penyangga sehingga harga gabah relatif sama.

Selain digunakan untuk pengairan sawah irigasi, air irigasi dapat juga digunakan untuk aspek lainnya diantaranya aspek pemanfaatan air irigasi adalah digunakan untuk sebagai berikut :

1. Embung
Bangunan kolam dengan ukuran relatif jauh lebih kecil dibanding waduk yang berfungsi untuk menampung air permukan (Run-off) dari suatu areal tangkapan air yang tidak terlalu luas di musim penghujan, kemudian dimanfaatkan airnya pada musim kemarau pada saat diperlukan.

2. Check-dam
Bangunan pengendali sedimen hasil erosi yang dibangun pada jurang / alur drainase alami menyerupai bendung sehingga selain berfungsi sebagai pengendap meterial dan partikel kasar tanah, air yang ada dapat dimanfaatkan untuk keperluan irigasi, budidayaikan, keperluan domestik, dan lain – lain.

3. Sumur Resapan
Bangunan sumur untuk menangkap aliran permukaan yang ada yang dapat dibangun dihulu maupun dihilir baik dikawasan pemukiman, industri, hutan, dan lain - lain. Bermanfaat untuk: mengurangi aliran permukaan, mencegah banjir, erosi, tanah longsor, meningkatkan penyediaan air tanah, mencegah intrusi air laut, memelihara mata air, dll.

4. Bendungan
Adalah usaha untuk menaikkan tinggi permukaan air, mengarahkan air sungai dengan cara membendung sungai mengumpulkannya dengan reservoar sebelum dialirkan ke saluran pembawa. Dengan demikian pada musim hujan air dapat disimpan dan dialirkan pada musim kemarau, selain untuk air pengairan digunakan juga untuk air minum dan energi.

5. Daerah Irigasi
Adalah kesatuan wilayah yang mendapat air dari satu jaringan irigasi yang bisa disingkat dengan D I.

6. Dam Parit
Adalah Bangunan / dam yang ditempatkan pada alur-alur hidrologi alam untuk menekan laju run-off dan menampungnya untuk dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi.

7. Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air
Adalah istilah umum untuk wadah kelembagaan dari sejumlah Perkumpulan Petani Pemakai Air yang memanfaatkan fasilitas irigasi yang bersepakat bekerjasama dalam pengelolaan suatu daerah pelayanan irigasi.

8. Irigasi
Adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang usaha pertanian.

9. Irigasi Setengah Tekhnis
Keadaan airnya dapat diukur disetiap tingkatan penyaluran dan pembagian air, biasanya dibangun dan dikelola pemerintah.

10. Irigasi Sederhana
Keadaan airnya tidak dapat diukur disetiap jenis penyaluran dan pembagian air biasanya dibangun dan dikelola oleh petani / masyarakat.

11. Irigasi Tadah Hujan
Sumber air berasal dari air hujan jatuh langsung dipetakan, dilengkapi dengan saluran pembawa dan pembuang di TUT.

12. Jaringan Irigasi
Adalah saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan air irigasi yang mencakup penyediaan, pengambilan, pembagian.

13. Jaringan Tersier
Adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana pelayanan air di dalam petak tersier yang terdiri dari saluran pembawa yang disebut saluran tersier, saluran pembagi yang disebut saluran kuarter dan saluran pembuang, berikut saluran bangunan turutan serta pelengkapnya. Termasuk dalam hal ini jaringan irigasi pompa yang luas areal pelayanan disamakan dengan areal tersier.

14.  Jaringan Utama
Adalah jaringan irigasi yang berada dalam satu sistem irigasi, mulai dari bangunan utama (bendung/ bendungan) saluran induk/primer, saluran sekuder dan bangunan sadap serta bangunan pelengkapnya.

15. Perkumpulan Petani Pemakai Air
Adalah istilah umum untuk kelembagaan pengelola irigasi termasuk irigasi pompa atau reklamasi rawa yang menjadi wadah petani pemakai air dalam suatu daerah pelayanan irigasi termasuk irigasi pompa atau reklamasi rawa yang dibentuk secara demokratis.

16. Saluran Sekunder
Adalah saluran pembawa air irigasi yang mengambil air dari bangunan bagi di saluran primer yang berada dalam jaringan irigasi.

Inilah Faktor Yang Mempengaruhi Laju Reaksi Enzimatik

Januari 06, 2018
Faktor Yang Mempengaruhi Laju Reaksi Enzimatik

Inilah Faktor Yang Mempengaruhi Laju Reaksi Enzimatik

1. Konsentrasi Enzim dan Substrat
Konsentrasi enzim dan substrat sangat berpengaruh terhadap laju reaksi enzim, karena makin besar konsentrasi enzim makin tinggi pula kecepatan reaksi, dengan kata lain konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan reaksi. Sedangkan peningkatan konsentransi substrat dapat meningkatkan kecepatan reaksi bila jumlah enzim tetap. Namun pada saat sisi aktif semua enzim berikatan dengan substrat, penambahan substrat tidak dapat meningkatkan kecepatan reaksi enzim selanjutnya. (E-dukasi. 2010)

2. pH
Perubahan pH dapat mempengaruhi perubahan asam amino kunci pada sisi aktif enzim, sehingga menghalangi sisi aktif bergabung dengan substratnya. Setiap enzim dapat bekerja baik pada pH optimum, masing-masing enzim memiliki pH optimum yang berbeda. Sebagai contoh : enzim amilase bekerja baik pada pH 7,5 (agak basa), sedangkan pepsin bekerja baik pada pH 2 (asam kuat/sangat asam). (E-dukasi. 2010)

Seperti protein pada umumnya, struktur ion enzim tergantung pada pH lingkungannya. Enzim dapat berbentuk ion positif, ion negatif, atau ion bermuatan ganda. Dengan demikian perubahan pH lingkungan akan berpengaruh terhadap efektivitas bagian aktif enzim dalam membentuk kompleks enzim substrat. Disamping pengaruh terhadap struktur ion pada enzim, pH rendah, atau pH tinggi dapat pula menyebabkan terjadinya proses denaturasi dan ini akan mengakibatkan menurunnya aktifitas enzim. Terdapat suatu nilai pH tertentu atau daerah pH yang dapat menyebabkan kecepatan reaksi paling tinggi. pH tersebut dinamakan pH optimum. (Aurel. 2010)

3. Suhu
Suhu merupakan salah satu yang mempengaruhi laju reaksi enzim, karena apabila suhu dalam keadaan optimum (300C) maka reaksi enzim akan semakin efektif,dan apabila suhu kurang dari 300C maka reaksi enzim akan semakin lama, serta apabila suhu lebih dari 400C maka enzim akan mengalami denaturasi.

4. Produk Reaksi Senyawa Penghambat
Laju reaksi enzim juga dipengaruhi oleh reaksi senyawa penghambat, karena jika ada reaksi senyawa penghambat maka reaksi enzim akan terganggu dan menjadi lambat, sedangkan jika tidak ada reaksi senyawa penghambat maka reaksi enzim akan menjadi optimal.
Ada 2 jenis senyawa penghambat/inhibitor, yaitu :
• Inhibitor kompetitif
Molekul penghambat yang strukturnya mirip substrat, sehingga molekul tersebut berkompetisi dengan substrat untuk bergabung pada sisi aktif enzim. Contoh : sianida bersaing dengan oksigen untuk mendapatkan Hemoglobin pada rantai akhir respirasi. Inhibitor kompetititf dapat diatasi dengan penambahan konsentrasi substrat.
• Inhibitor nonkompetitif
Molekul penghambat yang bekerja dengan cara melekatkan diri pada bagian bukan sisi aktif enzim. Inhibitor ini menyebabkan sisi aktif berubah sehingga tidak dapat berikatan dengan substrat. Inhibitor nonkompetitif tidak dapat dipengaruhi oleh konsentrasi substrat. (E-dukasi. 2010).

Anabolisme
Anabolisme adalah suatu proses pembentukan senyawa yang lebih besar dari molekul-molekul yang lebih kecil, proses ini memerlukan energi.
Reaksi-reaksi anabolisme adalah :
- Fotosintesis.
- Sintesis protein.
- Sintesis lemak.

Katabolisme
Katabolisme adalah suatu proses perombakan senyawa dengan molekul besar menjadi senyawa dengan molekul yang lebih kecil, proses ini menghasilkan energi.
Reaksi-reaksi katabolisme adalah :
- Respirasi sel.
- Fermentasi.
- Glikolisis.

Pengendalian Kutu Daun (Ferrisia virgata Cockerell) dengan Beberapa Pestisda Nabati

Januari 06, 2018
Ferrisia virgata Cockerell adalah kutu bertepung putih yang tergolong hama utama pada jarak pagar. Hama ini selalu ditemukan pada pertanaman terutama pada akhir musim hujan dan selama musim kemarau di KIJP Pakuwon (Karmawati dan Rumini, 2006).

Pengendalian Kutu Daun (Ferrisia virgata Cockerell) dengan Beberapa Pestisda Nabati

Ciri-cirinya adalah ukuran tubuh cukup besar, bentuk oval, panjang sampai 4 mm, agak pipih, beberapa dengan benjolan-benjolan pendek di sepanjang sisi tubuhnya. Kutu ini meng- hasilkan sekresi lilin berwarna putih dalam tepung untuk melindungi tubuhnya (Kalshoven, 1981).

Penyebarannya sangat dibantu oleh angin, hujan, dan semut. Kutu dapat bersifat sebagai vektor. Seluruh bagian tanaman jarak pagar dapat diserang seperti pucuk, daun, bunga, dan buah. Petani sampai saat ini belum dapat melepas- kan diri dari pestisida. Walaupun harganya relatif mahal, tetapi mudah sekali digunakan dan hasilnya dapat dilihat langsung setelah perlakuan. 

Untuk menghadapi tantangan yang demikian, perlu dipilih alternatif yang cara kerjanya mirip dengan insekti- sida tetapi tidak memberikan efek terhadap lingkungan. Satu alternatif pengendalian hama yang murah, praktis, dan relatif aman terhadap kelestari- an lingkungan adalah insektisida yang bahan baku nya berasal dari tumbuhan. Insektisida tersebut dapat dibuat dengan pengetahuan yang terbatas dan mudah terurai di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan sekitarnya termasuk manusia dan he- wan. 

Secara evolusi tumbuhan telah mengem- bangkan bahan metabolit sekunder sebagai alat pertahanan alami terhadap serangan organisme pengganggu. Tumbuhan sebenarnya kaya bahan bioaktif. Lebih dari 2.400 jenis tumbuhan yang ter- masuk ke dalam 235 famili dilaporkan mengan- dung bahan pestisida (Kardinan, 1999). 

Apabila tumbuhan tersebut dapat diolah menjadi bahan pes- tisida, maka masyarakat petani akan sangat terban- tu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya.

Ada 4 kelompok insektisida nabati yang telah lama dikenal (Oka, 1993) yaitu (1) Golongan nikotin dan alkaloid lainnya, bekerja sebagai insektisida kontak, fumigan atau racun perut, terbatas pada serangga yang kecil dan bertubuh lunak, (2) Piretrin, berasal dari Chrysanthemum cinerarifolium, bekerja menyerang syaraf pusat, dicam- pur dengan minyak wijen, talk atau tanah lempung digunakan untuk lalat, nyamuk, kecoa, hama gudang, dan hama penyerang daun, (3) Rotenon dan rotenoid, berasal dari tanaman Derris sp. dan bengkuang (Pachyrrhizus eroses) aktif sebagai racun kontak dan racun perut untuk berbagai serangga hama, tapi bekerja sangat lambat, (4) Azadirachtin, berasal dari tanaman mimba (Azadirachta indica), bekerja sebagai “antifeedant” dan selektif untuk serangga pengisap sejenis wereng dan penggulung daun, baru terurai setelah satu minggu.

Percobaan ini dilaksanakan di rumah kaca Balittro, Bogor dari bulan Februari–September 2007. Bibit jarak pagar IP-1P telah disiapkan sebelumnya sejumlah yang diperlukan selain untuk perbanyakan F. virgata dan perlakuan. Perlakuan yang dicobakan 7, yaitu 4 pestisida nabati (organeem, biji mimba, daun tembakau, kacang babi), 2 jenis pestisida yang berbahan aktif klorpirifos dan kontrol. 

Perlakuan jamur B. bassiana juga dicoba- kan secara terpisah dan dibandingkan dengan kon- trol. Satu unit percobaan terdiri atas 10 tanaman dan diulang tiga kali. Perlakuan disusun dalam ran- cangan acak kelompok. Penyemprotan (aplikasi perlakuan) dicoba dua macam, yaitu 1 minggu sekali dan 2 minggu sekali. Parameter yang diamati adalah populasi hama hidup. 

Investasi kutu daun F. virgata pada awal percobaan dimulai dengan jumlah yang sama, yaitu 10 ekor per tanaman. Pengamatan yang dilakukan tergantung pada aplikasi, kalau aplikasi hanya 4 kali dalam 2 bulan maka pengamatan empat kali. Kalau aplikasi 8 kali, maka pengamatan 8 kali sesudah aplikasi. Populasi hama pada masing-masing perlakuan sangat berfluktuasi oleh sebab itu untuk menampilkan populasi secara keseluruhan digunakan histogram. 

Terlihat bahwa penyemprotan satu kali dalam seminggu lebih dianjurkan dibandingkan dengan penyemprotan dua kali karena keempat jenis pestisida nabati dapat menekan populasi sampai 50 kutu daun per 10 tanaman dibandingkan dengan penyemprotan dua minggu sekali yang malah menaikkan populasi dari 50 menjadi 300 per 10 tanaman. Pengendalian dengan bahan kimia memang paling efektif, namun dapat membunuh serangga berguna lainnya, berdasarkan pengalaman proporsi serangga yang berguna lebih banyak dibandingkan proporsi serangga hama (Rumini, 2006).

Posisi populasi, pengaruh aplikasi pestisida nabati tidak berbeda satu sama lain kecuali dengan pestisida kimia.    

Pengaruh jamur B. bassiana cukup signifikan bila dibandingkan dengan kontrol (tanpa perlakuan). Berbeda dengan pengaruh pestisida nabati, aplikasi 2 minggu sekali tidak berbeda dengan 1 minggu sekali.  

KESIMPULAN
Pestisida nabati mudah terurai bahan aktifnya  di lapangan oleh sebab  itu  penyemprotan  seminggu sekali lebih baik hasilnya dibandingkan dua minggu sekali. Populasi F. virgata lebih rendah bila dibandingkan tanpa dikendalikan sama se- kali, tapi lebih tinggi bila dibandingkan pestisida kimiawi. Penggunaan B. bassiana lebih baik dibandingkan pestisida nabati karena populasinya lebih stabil dan lebih rendah dari kontrol.

Pengendalian Kutu Daun dengan Pestisida Nabati dan Beuveria Bassiana

Januari 05, 2018
Keberadaan hama di pertanaman ditentukan oleh fenologi tanaman dan keadaan iklim, misalnya Ferrisia virgata, walaupun ada sepanjang tahun pada pertanaman, tetapi populasinya selalu meningkat dengan berkurangnya curah hujan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis pestisida nabati dan jamur Beauveria bassiana terhadap populasi F. virgata di rumah kaca.

Pengendalian Kutu Daun dengan Pestisida Nabati dan Beuveria Bassiana

Empat  jenis pestisida nabati yang digunakan adalah mimba, organeem, kacang babi, dan daun tembakau. Pada penelitian yang terpisah dicobakan jamur B. bassiana yang hanya di- bandingkan dengan kontrol. Rancangan yang digunakan adalah rancangan kelompok dengan tiga ulangan. Satu unit percobaan menggunakan 10 tanaman. 

Pada tanaman diinokulasikan dulu F. virgata yang telah diperbanyak di laboratorium, sesudah ini diperlakukan dengan pestisida nabati, B. bassiana dan kimia. Parameter yang diamati adalah jumlah serangga yang masih hidup akibat perlakuan pestisida dan jamur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat jenis pestisid nabati dapat menekan populasi kutu daun dibandingkan dengan kontrol bila disemprot seminggu sekali. Begitu pula dengan penggunaan jamur B. bassiana dapat menekan kenaikan populasi dibandingkan kontrol.

Ferrisia virgata Cockerell adalah kutu bertepung putih yang tergolong hama utama pada jarak pagar. Hama ini selalu ditemukan pada pertanaman terutama pada akhir musim hujan dan selama musim kemarau di KIJP Pakuwon (Karmawati dan Rumini, 2006).

Ciri-cirinya adalah ukuran tubuh cukup besar, bentuk oval, panjang  sampai 4 mm, agak pipih, beberapa dengan benjolan-benjolan pendek di sepanjang sisi tubuhnya. Kutu ini meng- hasilkan sekresi lilin berwarna putih dalam tepung untuk melindungi tubuhnya (Kalshoven, 1981).

Pe- nyebarannya sangat dibantu oleh angin, hujan, dan semut. Kutu dapat bersifat sebagai vektor. Seluruh bagian tanaman jarak pagar dapat diserang seperti pucuk, daun, bunga, dan buah.

Petani sampai saat ini belum dapat melepaskan diri dari pestisida.  Walaupun  harganya  relatif mahal, tetapi mudah sekali digunakan dan hasilnya dapat dilihat langsung setelah perlakuan. Untuk menghadapi tantangan yang demikian, perlu dipilih alternatif yang cara kerjanya mirip dengan insekti- sida tetapi tidak memberikan efek terhadap ling- kungan.

Satu alternatif pengendalian hama yang murah, praktis, dan relatif aman terhadap kelestarian lingkungan adalah insektisida yang bahan bakunya berasal dari tumbuhan. Insektisida tersebut dapat dibuat  dengan pengetahuan  yang terbatas  dan mudah terurai  di alam, sehingga  tidak mencemari lingkungan  sekitarnya  termasuk  manusia  dan  hewan.

Secara evolusi tumbuhan telah mengem- bangkan bahan metabolit sekunder sebagai alat pertahanan alami terhadap serangan organisme pengganggu. Tumbuhan sebenarnya kaya bahan bioaktif. Lebih dari 2.400 jenis tumbuhan yang termasuk  ke  dalam  235  famili  dilaporkan  mengan- dung bahan pestisida (Kardinan, 1999). Apabila tumbuhan tersebut dapat diolah menjadi bahan pes- tisida, maka masyarakat petani akan sangat terban- tu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya.   

Ada  4  kelompok   insektisida   nabati yang telah lama dikenal (Oka, 1993) yaitu (1) Go- longan nikotin dan alkaloid lainnya, bekerja seba- gai insektisida  kontak,  fumigan  atau  racun  perut, terbatas pada serangga yang kecil dan bertubuh lu- nak, (2) Piretrin, berasal dari Chrysanthemum cine- rarifolium, bekerja menyerang syaraf pusat, dicam- pur dengan minyak wijen, talk atau tanah lempung digunakan untuk lalat, nyamuk, kecoa, hama gu- dang, dan hama penyerang daun, (3) Rotenon dan rotenoid, berasal dari tanaman Derris sp. dan  engkuang (Pachyrrhizus eroses) aktif sebagai racun kontak dan racun perut untuk berbagai serangga hama, tapi bekerja sangat lambat, (4) Azadirachtin, berasal dari tanaman mimba (Azadirachta  indica), bekerja sebagai “antifeedant” dan selektif untuk serangga pengisap sejenis wereng dan penggulung daun, baru terurai setelah satu minggu.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk me- ngetahui pengaruh beberapa insektisida nabati dan jamur (Beauveria bassiana) terhadap populasi F. virgata.

Percobaan  ini  dilaksanakan  di  rumah  kaca Balittro,   Bogor   dari   bulan   Februari–September 2007. Bibit jarak pagar IP-1P telah disiapkan sebe- lumnya sejumlah yang diperlukan selain untuk per- banyakan   F.  virgata   dan  perlakuan.   Perlakuan yang  dicobakan  7, yaitu 4 pestisida  nabati  (orga- neem, biji mimba, daun tembakau, kacang babi), 2 jenis pestisida yang berbahan aktif klorpirifos  dan kontrol. 

Perlakuan jamur B. bassiana juga dicoba- kan secara terpisah dan dibandingkan dengan kon- trol.  Satu unit  percobaan  terdiri  atas  10  tanaman dan diulang tiga kali. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok. Penyemprotan (aplikasi perlakuan) dicoba dua macam,  yaitu 1 minggu se- kali dan 2 minggu sekali. Parameter  yang diamati adalah populasi hama hidup.

Investasi kutu daun F. virgata pada awal percobaan dimulai dengan jumlah yang sama, yaitu 10 ekor per tanaman. Pengamatan  yang dilakukan tergantung  pada  aplikasi,  kalau  aplikasi  hanya  4 kali dalam 2 bulan maka pengamatan  empat  kali. Kalau aplikasi 8 kali, maka pengamatan 8 kali se- sudah aplikasi. Populasi hama pada masing-masing perlakuan sangat berfluktuasi  oleh sebab itu untuk menampilkan  populasi secara keseluruhan  diguna- kan histogram.

Terlihat bahwa penyemprotan  satu kali  dalam  seminggu  lebih dianjurkan  dibanding- kan dengan penyemprotan dua kali karena keempat jenis pestisida nabati dapat menekan populasi sam- pai 50 kutu daun per 10 tanaman dibandingkan de- ngan penyemprotan dua minggu sekali yang malah menaikkan populasi dari 50 menjadi 300 per 10 tanaman. Pengendalian dengan bahan kimia memang paling efektif, namun dapat membunuh serangga berguna lainnya, berdasarkan pengalaman proporsi serangga yang berguna lebih banyak dibandingkan proporsi serangga hama (Rumini, 2006).

Posisi populasi terakhir disajikan, pengaruh aplikasi pestisida nabati tidak berbeda satu sama lain kecuali dengan pestisida kimia.

KESIMPULAN
Pestisida  nabati  mudah  terurai  bahan aktif- nya  di lapangan oleh sebab  itu  penyemprotan  seminggu  sekali  lebih  baik  hasilnya  dibandingkan dua minggu sekali. Populasi  F. virgata lebih ren- dah bila dibandingkan tanpa dikendalikan sama se- kali,  tapi lebih tinggi  bila dibandingkan  pestisida kimiawi. Penggunaan B. bassiana lebih baik diban- dingkan pestisida  nabati  karena populasinya  lebih stabil dan lebih rendah dari kontrol.