4 Rukun dan Syarat Asuransi Syariah Menurut Imam Hanafi

Februari 17, 2018
Rukun dan Syarat Asuransi Syariah - Menurut Mazhab Hanafi, rukun kafalah (asuransi) hanya ada satu, yaitu ijab dan qabul. Sedangkan menurut para ulama lainnya, rukun dan syarat kafa<lah (asuransi) adalah sebagai berikut: 

1. Kafil (orang yang menjamin), dimana persyaratannya adalah sudah baligh, berakal, tidak dicegah membelanjakan hartanya dan dilakukan dengan kehendaknya sendiri. 

2. Makful lah (orang yang berpiutang), syaratnya adalah bahwa yang berpiutang diketahui oleh orang yang menjamin. Disyaratkan dikenal oleh penjamin karena manusia tidak sama dalam hal tuntutan, hal ini dilakukan demi kemudahan dan kedisiplinan. 

3. Makful ’anhu, adalah orang yang berutang. 

4. Makful bih (utang, baik barang maupun orang), disyaratkan agar dapat diketahui dan tetap keadaannya, baik sudah tetap maupun akan tetap.  

Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa asuransi merupakan suatu akad, yaitu suatu tindakan yang dalam kewenangan dua pihak (nasabah dan perusahaan asuransi).  Lebih lanjut beliau menambahkan bahwa terdapat persyaratan dan larangan bagi sahnya suatu akad. Akad yang tidak memenuhi salah satu dari persyaratan ini atau melanggar dari salah satu larangan ini adalah batal.

4 Rukun dan Syarat Asuransi Syariah Menurut Imam Hanafi

Adapun akad yang memenuhi semua persyaratan dan tercegah dari semua larangan, maka akad itu adalah sah, meskipun akad itu merupakan akad yang baru di antara sejumlah persyaratan itu misalnya: 
- Baligh (dewasa). 
- Berakal, sudah barang tentu setiap transaksi yang dilakukan oleh orang yang kehilangan akal adalah tidak sah, maka perasuransiannya pun batal. 
- Ikhtiyar (kehendak bebas), tidak boleh ada paksaan dalam transaksi yang tidak disukai. 
- Tidak sah transaksi atas suatu yang tidak diketahui. Syarat ini terdapat di dalam seluruh transaksi. Tidak sah jual beli apabila barang yang di jual tidak diketahui, dan tidak sah pembayaran harga atas sesuatu yang tidak diketahui.  Karena transaksi tersebut seperti perjudian. 
- Tidak sah transaksi yang mengandung unsur riba. Ini adalah persyaratan dan larangan bagi sahnya transaksi. Atas dasar ini, maka setiap transaksi yang baru harus kita anggap sah, sesuai tuntutan prinsip.

Inilah 9 Prinsip Dasar dalam Asuransi Syariah

Februari 16, 2018
Prinsip-Prinsip Asuransi Syariah - Prinsip utama dalam asuransi syaiah adalah ta’awunu ‘ala al birr wa altaqwa (tolong menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan takwa) dan alta’min (rasa aman).  Prinsip ini menjadikan para anggota atau peserta asuransi sebagai sebuah keluarga besar yang satu dengan lainnya saling menjamin dan menanggung risiko. Hal ini disebabkan transaksi yang dibuat dalam asuransi syariah adalah akad takafuli (saling menanggung), bukan akad tabaduli (saling menukar) yang selama ini digunakan oleh asuransi konvensional, yaitu pertukaran pembayaran premi dengan uang pertanggungan. 

Inilah 9 Prinsip Utama dalam Asuransi Syariah

Prinsip dasar asuransi syariah adalah:

1. Tauhid (Unity) 
Prinsip tauhid (unity) adalah dasar utama dari setiap bentuk bangunan yang ada dalam syariat Islam. Setiap Bangunan dan aktivitas kehidupan manusia harus didasarkan pada nilai-nilai tauhid. Artinya bahwa dalam setiap gerak langkah serta bangunan hukum harus mencerminkan nilai-nilai ketuhanan. 

2. Keadilan (justice) 
Prinsip kedua dalam beransuransi adalah terpenuhinya nilai-nilai keadilan (justice) antara pihak-pihak yang terikat dengan akad asuransi. Keadilan dalam hal ini dipahami sebagai upaya dalam menempatkan hak dan kewajiban antara nasabah dan perusahaan asuransi. 

3. Tolong-menolong (ta’awun) 
Prinsip dasar yang lain dalam melaksanakan kegiatan berasuransi harus didasari dengan semangat tolong-menolong (ta’awun) antara anggota. Seseorang yang masuk asuransi, sejak awal harus mempunyai niat dan motivasi untuk membantu dan meringankan beban temannya yang pada suatu ketika mendapatkan musibah atau kerugian. 

4. Kerja sama (cooperation) 
Prinsip kerja sama merupakan prinsip universal yang selalu ada dalam literatur ekonomi Islam. Manusia sebagai makhluk yang mendapatkan mandat dari Khaliq-nya untuk mewujudkan perdamaian dan kemakmuran di muka bumi mempunyai dua wajah yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, yaitu sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial. 

5. Amanah (trustworthy) 
Prinsip amanah dalam organisasi perusahaan dapat terwujud dalam nilai-nilai akuntabilitas (pertanggung jawaban) perusahaan melalui penyajian laporan keuangan tiap periode. Dalam hal ini perusahaan asuransi harus memberi kesempatan yang besar bagi nasabah untuk mengakses laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi harus mencerminkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam bermuamalah dan melalui auditor public. 

6. Kerelaan (al-ridha) 
Dalam bisnis asuransi, kerelaan dapat diterapkan pada setiap anggota (nasabah) asuransi agar mempunyai motivasi dari awal untuk merelakan sejumlah dana (premi) yang disetorkan keperusahaan asuransi, yang difungsikan sebagai dana sosial. Dan dana sosial memang betul-betul digunakan untuk tujuan membantu anggota (nasabah) asuransi yang lain jika mengalami bencana kerugiaan. 

7. Larangan riba 
Ada beberapa bagian dalam al-Qur’an yang melarang pengayaan diri dengan cara yang tidak dibenarkan. Islam menghalalkan perniagaan dan melarang riba. 

8. Larangan maisir (judi) 
Syafi’i Antonio mengatakan bahwa unsur maisir (judi) artinya adanya salah satu pihak yang untung namun di lain pihak justru mengalami kerugian. Hal ini tampak jelas apabila pemegang polis dengan sebab-sebab tertentu membatalkan kontraknya sebelum masa reversing period, biasanya tahun ketiga maka yang bersangkutan tidak akan menerima kembali uang yang telah dibayarkan kecuali sebagaian kecil saja. Juga adanya unsur keuntungan yang dipengaruhi oleh pengalaman underwriting, di mana  untung-rugi terjadi sebagai hasil dari ketetapan. 

9. Larangan gharar (ketidak pastian) 
Gharar dalam pengertian bahasa adalah penipuan, yaitu suatu tindakan yang di dalamnya diperkirakan tidak ada unsur kerelaan.

Pengertian Buah Pisang Kepok (Musa paradisiaca L)

Februari 15, 2018
Buah pisang kepok (Musa paradisiaca L.) merupakan buah klimakterik dimana proses pematangannya diikuti oleh peningkatan laju respirasi yang tinggi. Peningkatan laju respirasi ini bertujuan untuk mensuplai ATP bagi berbagai proses metabolisme selama proses pematangan buah diantaranya adalah sintesis protein dan enzim yang baru. Oleh sebab itu proses pematangan buah pisang kepok tergolong cepat. Selama proses pematangan buah terjadi peningkatan sintesis protein dan sintesis enzim yang baru. Amonium merupakan prekursor bagi sintesis beberapa asam amino seperti glutamat dan glutamin. 

Pengertian Buah Pisang Kepok (Musa paradisiaca L)

Aplikasi amonium klorida di dalam jaringan buah pisang kepok akan mempengaruhi metabolisme, aplikasi amonium ini memerlukan suplai ATP yang cukup besar. Pemberian amonium klorida pada buah pisang kepok diduga akan meningkatkan sintesis protein dan enzim. Peningkatan sintesis protein dan enzim diduga akan mendorong laju respirasi dan aktivitas enzim dehidrogenase, yang disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan  ATP. Hal ini dapat ditunjukkan oleh peningkatan laju respirasi dan aktivitas enzim dehidrogenase. Pendekatan yang dilakukan untuk membuktikan ini adalah dengan membandingkan laju respirasi dan aktivitas enzim dehidrogenase buah pisang kepok kontrol dan buah pisang kepok perlakuan serta menentukan hubungan antara laju respirasi dan aktivitas enzim dehidrogenase. Pembandingan dilakukan pada 2 hari pengamatan yang berbeda yaitu awal klimakterik (4 hari setelah perlakuan) dan akhir klimakterik (8 hari setelah perlakuan).

Pisang merupakan buah yang tumbuh berkelompok.  Tanaman dari famili Musaceae ini hidup di daerah tropis dengan jenis yang berbeda-beda, pisang ambon, pisang sereh, pisang raja, pisang tanduk, pisang sunripe, dan pisang kepok merupakan contoh dari famili Musaceae. Tanaman pisang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai sumber pangan yang penting. Iklim tropis yang sesuai serta kondisi tanah yang banyak mengandung humus memungkinkan tanaman pisang tersebar luas di Indonesia (Wikipedia, 2007).

Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat (Prihatman, Kemal.  2000).  Kandungan mineral dan vitamin yang terdapat di dalam buah pisang ini dipercaya mampu menyuplai cadangan energi secara cepat sehingga mudah diserap tubuh pada waktu dibutuhkan. Buah pisang juga merupakan salah satu jenis buah yang memiliki kandungan gizi yang sangat baik dan energi yang relatif tinggi dibanding buah-buahan lain.  Kandungan gizi yang terdapat dalam setiap 100 g buah pisang matang adalah sebagai berikut : kalori 99 kal ; protein 1,2 g ; lemak 0,2 g ; karbohidrat 25,8 mg ; serat 0,7 g ; kalsium 8 mg ; fosfor 28 mg ; besi 0,5 mg ; vitamin A 44 RE ; vitamin B 0,08 mg ; vitamin C 3 mg ; dan air 72 g (Cahyono, Bambang. 2009).

Daerah penyebaran pisang meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia. Di Asia, Indonesia termasuk negara penghasil pisang terbesar karena setiap tahun produksi pisang selalu meningkat  (Suhardiman, 1997).  Di antara produksi buah-buahan lainnya seperti mangga, jeruk, pepaya, rambutan, manggis, salak, belimbing, sawo, markisa, atau jambu biji, produksi pisang di Indonesia cukup besar, bisa dikatakan berada pada posisi tertinggi (Suyanti dan Ahmad, 1992). Hasil rata-rata per tahun mencapai ± 4.384 ton, sedangkan Provinsi Lampung menghasilkan ± 319.081 ton per tahun (Anonim a, 2010).

Tanaman pisang tersebar mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi, baik yang dibudidayakan di lahan khusus maupun ditanam sembarangan di kebun atau di halaman. Hampir setiap pekarangan rumah di Indonesia terdapat tanaman pisang, hal ini dikarenakan tanaman pisang cepat menghasilkan, mudah ditanam dan mudah dipelihara (Agustina, Lina. 2008). Namun, agar produktivitas tanaman optimal, sebaiknya pisang ditanam di dataran rendah. Ketinggian tempat yaitu di bawah 1.000 meter di atas permukaan laut. Iklim basah dengan curah hujan yang merata sepanjang tahun merupakan iklim yang cocok untuk tanaman pisang (Wikipedia, 2007)

Pisang kepok merupakan salah satu buah klimakterik yaitu buah yang proses pematangannya diikuti oleh laju respirasi yang tinggi. Buah yang sudah cukup tingkat ketuaannya ketika dipetik akan matang dalam 4-5 hari, hal ini menunjukkan tingkat kematangan yang cepat. Berbagai perubahan fisik dan kimia mengikuti proses pemasakannya diantaranya pelunakan buah, peningkatan kandungan gula, perubahan warna kulit buah, dan peningkatan laju respirasi, peningkatan sintesis protein, enzim dan laju produksi etilen. Gas etilen adalah salah satu faktor yang menyebabkan pematangan. Etilen dihasilkan dari pernafasan buah, daun dan jaringan lain di dalam tanaman (Kusumo dan Suratman, 1984).

Pengertian Asuransi Syariah dalam Agama Islam

Februari 14, 2018
Pengertian Asuransi Syariah - Kata asuransi berasal dari bahasa Inggris, yaitu insurance, yang dalam bahasa Indonesia telah menjadi bahasa popular dan diadopsi dalam kamus besar bahasa Indonesia dengan padanan kata ‘pertanggungan’. Dalam bahasa Belanda biasa disebut dengan istilah assurantie (Asuransi) dan verzekering  (Pertanggungan).  

Pengertian Asuransi Syariah Dalam Agama Islam

Asuransi syariah adalah pengaturan pengelolaan risiko yang memenuhi ketentuan syariah, tolong menolong secara mutual yang melibatkan peserta dan operator. Syariah berasal dari ketentuan-ketentuan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.  

Dalam perspektif ekonomi Islam, asuransi dikenal dengan istilah takaful yang berasal dari bahasa arab taka<fala-yataka<fulu-takaful yang berarti saling menanggung atau saling menjamin. Asuransi dapat diartikan sebagai perjanjian yang berkaitan dengan pertanggungan atau penjaminan atas resiko kerugian  tertentu.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwasannya asuransi takaful merupakan pihak yang tertanggung penjamin atas segala risiko kerugian, kerusakan, kehilangan, atau kematian yang dialami oleh nasabah (pihak tertanggung). Dalam hal ini, si tertanggung mengikat perjanjian (penjaminan resiko) dengan si penanggung atas barang atau harta, jiwa dan sebagainya berdasarkan prinsip bagi hasil yang mana kerugian dan keuntungan disepakati oleh kedua belah pihak.  

Asuransi merupakan cara atau metode untuk memelihara manusia dalam menghindari resiko (ancaman) bahaya yang beragam yang akan terjadi dalam hidupnya, dalam perjalanan kegiatan hidupnya atau dalam aktivitas ekonominya.  

Dalam ensiklopedi hukum Islam telah disebutkan bahwa asuransi adalah transaksi perjanjian antara dua pihak, dimana pihak yang satu berkewajiban membayar iuran dan pihak yang lain berkewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran jika terjadi sesuatu yang menimpa pihak pertama sesuai dengan perjanjian yang dibuat.  

Abbas Salim berpendapat, bahwa asuransi adalah suatu kemauan untuk menetapkan kerugian-kerugian kecil (sedikit) yang sudah pasti sebagai pengganti (subsitusi) kerugian-kerugian yang belum pasti.  

Dalam pengertian asuransi di atas, menunjukkan bahwa asuransi mempunyai unsur-unsur sebagai berikut : 
a. Adanya pihak tertanggung 
b. Adanya pihak penanggung 
c. Adanya perjanjian asuransi 
d. Adanya pembayaran premi 
e. Adanya kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan (yang diderita tertanggung) 
f. Adanya suatu peristiwa yang tidak pasti terjadinya.  

Jadi asuransi syariah adalah suatu pengaturan pengelolaan risiko yang memenuhi ketentuan syariah, tolong-menolong secara mutual yang melibatkan peserta dan perusahaan asuransi.  

Inilah 6 Dasar Hukum Asuransi Syariah dalam Islam

Februari 13, 2018
Dasar Hukum Asuransi Syariah - Dasar hukum asuransi syariah adalah sumber dari pengambilan hukum praktik asuransi syariah.

Inilah 6 Dasar Hukum Asuransi Syariah dalam Islam

Karena sejak awal asuransi syariah dimaknai sebagai wujud dari bisnis pertanggungan yang didasarkan pada nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah Rasul, serta pendapat Ulama atau  Fuqaha yang tertuang dalam karya-karyanya. 

1. Al-Qur’an 
Ayat al-Qur’an yang mempunyai nilai praktik asuransi, antara lain : 
- Perintah Allah SWT untuk saling tolong-menolong dan bekerjasama 
Surat al-Maidah (5) : 2 
Artinya : “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Bertaqwalah kepada Allah,  sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya”.  

Ayat al-Maidah ini memuat perintah tolong-menolong antar sesama manusia. Dalam bisnis asuransi, ini terlihat dalam praktik kerelaan anggota (nasabah) perusahaan asuransi untuk menyisihkan dananya agar digunakan sebagai dana sosial (tabarru’). 
Surat al-Baqarah (2) : 185 
Artinya : “… Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…”.  

Ayat di atas menerangkan bahwa kemudahan adalah sesuatu yang dikehendaki oleh-Nya, dan sebaliknya kesukaran adalah sesuatu yang tidak dikehendaki oleh-Nya. Maka manusia dituntut oleh Allah agar tidak mempersulit dirinya sendiri dalam menjalankan bisnis, untuk itu bisnis asuransi merupakan sebuah progam untuk menyiapkan dan merencanakan kehidupan di masa mendatang. 

- Perintah Allah untuk mempersiapkan hari depan  
Surat al-Hasyr (59) : 18 
Artinya : “Wahai Orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertaqwalah kepada Allah.Sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.  

- Perintah Allah untuk saling melindungi dalam keadaan susah  
Surat Quraisy (106) : 4 
Artinya : “Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan”.  

Surat al-Baqarah (2) : 126 
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdo’a, “Ya Tuhanku Jadikanlah (negeri Mekkah) ini negeri yang aman sentosa”.  

Dengan Surat al-Baqarah (2) : 126, Allah SWT menegaskan bahwa orang yang rela menafkahkan hartanya akan dibalas oleh-Nya dengan melipat gandakan pahalanya. Sebuah anjuran normatif untuk saling berderma dan melakukan kegiatan sosial yang diridhai oleh Allah SWT.  

2. Sunnah Nabi SAW 
Al-Sunnah merupakan sumber syariat Islam yang kedua. Al-sunnah berarti jalan yang menjadi kebiasaan dalam melaksanakan ajaran agama atau suatu gambaran amal perbuatan yang sesuai dengan teladan Nabi dan para sahabat, dengan tuntunan al-Qur’an. 
- Hadits tentang Aqilah.
Dua orang wanita dari suku Huzail, kemudian salah satu wanita tersebut melempar batu ke wanita yang lain sehingga mengakibatkan kematian wanita tersebut beserta janin yang dikandungnya. Maka ahli waris dari wanita yang meninggal tersebut mengadukan peristiwa tersebut kepada Rasulullah saw, maka Rasulullah saw memutuskan ganti rugi dari pembunuhan terhadap janin tersebut dengan pembebasan seorang budak laki-laki atau perempuan, dan memutuskan ganti rugi kematian wanita tersebut dengan uang darah (diyat) yang dibayarkan oleh aqilahnya (kerabat dari orang tua lakilaki)”. (HR. Bukhari)  

- Hadits tentang anjuran menghilangkan kesulitan seseorang. 
bersabda: Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan duniawinya seorang mukmin, maka Allah SWT akan menghilangkan kesulitanya pada hari kiamat. Barangsiapa yang mempermudah kesulitan seseorang, maka Allah SWT akan mempermudah urusannya di dunia dan di akhirat”. (HR. Muslim)   

- Hadits tentang menghindari risiko. 
Artinya : “Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bertanya seseorang kepada Rasulullah saw, tentang (untanya) :”Apa (unta) ini saya ikat saja atau langsung saya bertawakal pada Allah SWT. “Bersabda Rasulullah saw. : pertama ikatlah unta itu kemudian bertaqwalah kepada Allah SWT. (HR. at-Tirmizi).  

3. Ijtihad 
Praktik sahabat dalam pembayaran hukuman (ganti rugi) pernah dilaksanakan oleh khalifah kedua yaitu Umar bin Khattab. Beliau berkata: “Orang-orang yang namanya tercantum dalam diwan tersebut berhak menerima bantuan dari satu sama lain dan harus menyumbang untuk pembayaran hukuman (ganti rugi) atas pembunuhan (tidak sengaja) yang dilakukan oleh salah seorang anggota masyarakat”. Dimana Umar adalah orang yang pertama kali mengeluarkan perintah untuk menyiapkan daftar tersebut, dan orang yang terdaftar diwajibkan saling menanggung beban.  

4. Ijmak 
Ijmak yaitu kesepakatan para mujtahid atas suatu hukum syara’ mengenai suatu peristiwa yang terjadi setelah Rasul wafat.  Para sahabat telah melakukan ittifaq (kesepakatan) dalam hal aqilah yang dilakukan oleh Umar bin Khattab adanya ijmak atau kesepakatan ini tampak dengan tidak adanya sahabat lain yang menentang pelaksanaan aqilah ini. Aqilah adalah iuran dana yang dilakukan oleh keluarga dari pihak laki-laki (asabah) dari si pembunuh (orang yang menyebabkan kematian secara tidak sewenangwenang). 

Dalam hal ini, kelompoklah yang menanggung pembayarannya, karena si pembunuh merupakan anggota dari kelompok tersebut dengan tidak adanya sahabat yang menentang khalifah Umar bisa disimpulkan bahwa terdapat ijma dikalangan sahabat Nabi saw mengenai persoalan ini.  

5. Qiyas  
Qiyas adalah metode ijtihad dengan jalan menyamakan hukum suatu hal yang tidak terdapat ketentuannya di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dengan kasus lain yang hukumnya disebut dalam al-Qur’an dan as-Sunnah karena persamaan illat (penyebab atau alasannya).  

Dalam kitab Fath Al Bari, disebutkan bahwa dengan datangnya Islam sistem aqilah diterima oleh Rasulullah saw menjadi bagian dari hukum Islam. Ide pokok dari aqilah adalah suku Arab zaman dulu yang harus siap untuk melakukan kontribusi finansial atas nama si pembunuh, untuk membayar ahli waris korban kesiapan untuk membayar kontribusi keuangan ini sama dengan pembayaran premi ide praktik asuransi syariah ini. 

Dalam hal ini praktik yang mempunyai nilai sama dengan asuransi adalah praktik aqilah. Aqilah adalah iuran darah yang dilakukan oleh keluarga dari pihak laki-laki si pembunuh. 

6. Istihsan 
Istihsan menurut bahasa adalah menganggap baik sesuatu. Menurut istilah menurut ulama ushul adalah beralihnya pemikiran seseorang mujtahid dari tuntutan qiyas yang nyata kepada qiyas yang samar atau dari hukum umum kepada perkecualian karena ada kesalahan pemikiran yang kemudian memenangkan perpindahan itu.  Seperti halnya kebaikan dari kebiasaan aqilah di kalangan Arab kuno yang terletak pada kenyataan bahwa ia dapat menggantikan balas dendam berdarah. 

Muslehuddin mengatakan manfaat signifikasi dari praktik aqilah tersebut adalah : 
- Mempertahankan keseimbangan kesukuan dan dengan demikian, kekuatan pembalasan dendam dari setiap suku dapat menghalangi kekejaman anggota suku lain. 
- Menambah sebagian besar jaminan sosial, karena mengingat tanggung jawab kolektif untuk membayar ganti rugi, suku harus menjaga seluruh kegiatan anggota sesamanya. 
- Mengurangi beban anggota perorangan jika ia diharuskan membayar ganti  rugi. 
- Menghindarkan dendam darah yang mengakibatkan kehancuran total. 
- Mempertahankan sepenuhnya kesatuan darah dan kerjasama para anggota dari setiap suku, yang tak lain merupakan mutualitas (saling membantu).  

Asal Usul Pohon Beringin (Ficus benjamina Linn)

Februari 12, 2018
Asal Usul Pohon Beringin (Ficus benjamina Linn) - Pohon beringin (Ficus benjamina Linn.) merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak dijumpai di berbagai wilayah Indonesia. Pohon beringin yang merupakan tanaman asli Asia Tenggara termasuk dari Indonesia dan sebagian Australia ini banyak ditanam sebagai tanaman dekoratif di fasilitas umum seperti alun-alun, lapangan umum, perindang jalan maupun tanaman dekoratif di halaman kantor dan rumah (Heyne 1987, Bauer & Speck 2012). Ficus benjamina termasuk  salah  satu tanaman  dari  famili  Moraceae yang   mudah   tumbuh   di   berbagai   kondisi   lahan

Asal Usul Pohon Beringin (Ficus benjamina Linn)

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jl. Gunung Batu 5, Bogor 16610. termasuk lahan kering (Veneklaas et al. 2002). Pertumbuhan pohon beringin dapat mencapai tinggi hingga 4050 m dengan diameter batang mencapai 100190 cm. Veneklaas et al. (2002) menyebutkan bahwa pohon beringin termasuk tanaman cepat tumbuh dengan kecepatan pertumbuhan 65 mg-1/hari.

Tumbuh di lingkungan terbuka, pohon beringin me- miliki banir tinggi yang cukup keras dan menyebar ke berbagai arah, kadang tidak tampak di bawah tanah kemudian muncul kembali di atas permukaan tanah (Boer & Sosef 1998).

Pohon beringin yang secara internasional dikenal dengan nama Benjamin’s fig atau weeping fig ini juga dikembangkan sebagai tanaman hias di dalam rua- ngan dalam pot atau tanaman bonsai. Dalam bentuk tanaman kecil beringin sedikit menghasilkan getah, sehingga mengurangi resiko alergi kulit dan per- nafasan akibat terkontaminasi getah pohon beringin  (Frankland 1999; Hemmer et al. 2004). 

Pengembangan tanaman beringin untuk di luar ruangan relatif lebih disukai, karena bentuk tajuknya menarik dan mampu berfungsi sebagai peneduh dan perbanyakan tanamannya relatif mudah dengan mengandalkan penyerbukan dari lebah. Namun demikian, perbanya- kan alami Ficus benjamina telah dilaporkan tidak terkendali di beberapa negara dan menggolongkan tanaman ini sebagai tanaman yang bersifat invasif (invasive species) (Starr et al. 2003).

Pohon beringin memiliki ciri khas berupa akar gantung yang menjulur dari atas ke bawah dalam jumlah banyak, sehingga tampak seperti garis-garis vertikal yang menopang pohon tersebut (Hemmer et al. 2004). 

Akar gantung yang berasal dari cabang pohon beringin ini bervariasi diameternya menjuntai menutupi batang utama. Akar gantung yang semula berdiameter kecil ini tumbuh berkembang menjadi besar menutupi batang utama. Akar yang berada paling dekat dengan batang utama berdiameter lebih besar dibandingkan dengan akar gantung yang tumbuh kemudian dan terletak jauh dari batang utama (Boer & Sosef 1998).

Akar gantung yang besar dan terletak  dekat  batang  utama  ini  kadang  menempel dan menyatu dengan batang utama, sehingga dalam pertumbuhannya menyatu dengan batang utama, sehingga batang utama pohon beringin tampak tidak beraturan sebagaimana tampak pada Gambar 1.

Ficus benjamina banyak tumbuh tersebar di ber- bagai lokasi di Indonesia baik di tempat umum mau- pun milik pribadi. Masyarakat beranggapan pohon beringin merupakan pohon yang sakral, sehingga pohon beringin jarang ditebang untuk dimanfaatkan kayunya. Pohon beringin yang tua dan tumbang di daerah pedesaan pada umumnya hanya dimanfaat- kan sebagai kayu bakar, namun pohon beringin yang tumbang di sekitar wilayah perkotaan dibiarkan mem- busuk  tanpa  manfaat .  

Pohon  beringin yang tumbang tidak dimanfaatkan karena selain menghindari   penggunaan   pohon   yang   dianggap sakral, pohon beringin juga memiliki bentuk batang utama tidak teratur dengan adanya akar gantung. Berbeda dengan jenis pohon Ficus lain dalam satu famili seperti Ficus callosa dan variegata yang me- miliki batang soliter dan silindris tanpa adanya kehadiran akar gantung, kayunya telah dimanfaatkan masyarakat menjadi berbagai produk seperti rangka gambar (picture frame), moulding, dan fancy plywood (Boer & Sosef 1998). Selain itu, keterbatasan infor- masi mengenai karakteristik dasar kayu beringin beserta komponen akar gantungnya dapat menjadi faktor pembatas lain dalam upaya pemanfaatan kayu beringin. Tulisan ini mempelajari struktur anatomi bagian   batang   utama   dan   akar   gantung   pohon beringin sebagai dasar dalam pemanfaatan kayu dan akar gantungnya.

Inilah 5 Unsur - Unsur Asuransi yang Perlu Diketahui

Februari 11, 2018
Unsur-Unsur Asuransi 
Unsur yuridis dari suatu asuransi atau pertanggungan menurut Abdul R. Saliman (2014:182) adalah sebagai berikut: 
1. Adanya pihak tertanggung (pihak yang kepentingannya diasuransikan). 
2. Adanya pihak penanggung (pihak perusahaan asuransi yang menjamin akan membayar ganti rugi). 
3. Adanya perjanjian asuransi (antara penanggung dan tertanggung). 
4. Adanya pembayaran premi (oleh tertanggung kepada penanggung). 
5. Adanya kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diderita oleh tertanggung). 
6. Adanya suatu peristiwa yang tidak pasti terjadinya. 

Pengaturan asuransi yang umum dan luas terdapat dalam Kitab UndangUndang Hukum Dagang. Dalam pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang atau Wetboek van Koophandel dijumpai suatu pengertian atau definisi resmi dari asuransi, pasal tersebut menyatakan bahwa asuransi pada umumnya adalah suatu persetujuan dimana penanggung dengan menikmati suatu premi mengikat dirinya terhadap tertanggung untuk membebaskannya dari kerugian karena kehilangan, kerugian, atau ketiadaan keuntungan yang diharapkan, yang akan dapat diterima olehnya karena kejadian yang tidak pasti.   

Inilah 5 Unsur - Unsur Asuransi yang Perlu Diketahui Sebelum Berasuransi

Berdasarkan definisi tersebut dapat diuraikan unsur-unsur asuransi atau pertanggungan menurut ketentuan Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUH Dagang) yang dikutip oleh Abdulkadir Muhammad (2011:8): 

1. Pihak-pihak 
Subjek asuransi adalah pihak-pihak asuransi, yaitu penanggung dan tertanggung yang mengadakan perjanjian asuransi. Penanggung dan tertanggung adalah pendukung kewajiban dan hak. Penanggung wajib memikul resiko yang dialihkan kepadanya dan berhak memperoleh penggantian jika timbul kerugian atas harta miliknya yang diasuransikan. 

2. Status pihak-pihak 
Penanggung harus berstatus sebagai perusahaan badan hukum, dapat berbentuk perseroan terbatas (PT), perusahaan perseroan (Persero) atau koperasi. Sedangkan tertanggung dapat berstatus sebagai perseorangan, persekutuan, atau badan hukum, baik sebagai perusahaan ataupun bukan perusahaan. Tertanggung berstatus sebagai pemilik atau pihak berkepentingan atas harta yang diasuransikan. 

3. Objek asuransi 
Objek asuransi dapat berupa benda, hak atau kepentingan yang melekat pada benda, dan sejumlah uang yang disebut premi atau ganti kerugian. Melalui objek asuransi tersebut ada tujuan yang ingin dicapai oleh pihak-pihak. Penanggung bertujuan memperoleh pembayaran sejumlah premi sebagai imbalan pengalihan resiko. Sedangkan tertanggung bertujuan bebas dari risiko dan memperoleh penggantian jika timbul kerugian atas harta miliknya. 

4. Peristiwa asuransi 
Peristiwa asuransi adalah perbuatan hukum (legal act) berupa persetujuan atau kesepakatan bebas antara penanggung dan tertanggung mengenai objek asuransi, peristiwa tidak pasti (evenemen) yang mengancam benda asuransi, dan syarat-syarat yang berlaku dalam asuransi. Persetujuan atau kesepakatan bebas tersebut dibuat dalam bentuk tertulis berupa akta yang disebut polis. Polis ini merupakan satu-satunya alat bukti yang dipakai untuk membuktikan telah terjadi asuransi. 

5. Hubungan asuransi 
Hubungan asuransi yang terjadi antara penanggung dan tertanggung adalah keterkaitan (legally bound) yang timbul karena persetujuan atau kesepakatan bebas. Keterkaitan tersebut berupa kesediaan secara sukarela dari penanggung dan tertanggung untuk memenuhi kewajiban dan hak masing-masing terhadap satu sama lain (secara timbal balik). Artinya, sejak tercapai kesepakatan asuransi, tertanggung terikat dan wajib membayar premi asuransi kepada penanggung, dan sejak itu pula penanggung menerima pengalihan resiko. Jika terjadi evenemen yang menimbulkan kerugian atas benda asuransi, penanggung wajib membayar ganti kerugian sesuai dengan ketentuan polis asuransi. Tetapi jika tidak terjadi evenemen, premi yang sudah dibayar oleh tertanggung tetap menjadi milik penanggung. 

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas, maka dapat diidentifikasi beberapa unsur yang harus ada pada asuransi kerugian menurut Abdulkadir Muhammad (2011:10) adalah sebagai berikut: 
a. Penanggung dan tertanggung 
b. Persetujuan bebas antara penanggung dan tertanggung 
c. Benda asuransi dan kepentingan tertanggung 
d. Tujuan yang ingin dicapai 
e. Risiko dan premi 
f. Evenemen dan ganti kerugian 
g. Syarat-syarat yang berlaku 
h. Bentuk akta polis asuransi. 

Unsur-Unsur Perjanjian Asuransi 
Perjanjian asuransi merupakan sebuah kontrak yang bersifat legal. Kontrak tersebut menjelaskan setiap istilah dan kondisi yang dilindungi, premi yang harus dibayar oleh pihak tertanggung kepada pihak penanggung sebagai jasa pengalihan risiko, sekaligus besarnya dana yang keberadaannya bisa diklaim di masa depan, termasuk biaya administratif dan keuntungan. 

Perjanjian asuransi merupakan bagian dari hukum asuransi itu sendiri. Dalam hukum asuransi, ditetapkan bahwa objek pertanggungan dalam perjanjian asuransi bisa berupa benda dan jasa, jiwa dan raga, kesehatan, tanggung jawab hukum, serta berbagai kepentingan lainnya yang dimungkinkan bisa hilang, rusak, ataupun berkurang nilainya. 

Adapun unsur-unsur asuransi dalam sebuah perjanjian asuransi atau hukum asuransi, antara lain, meliputi: 
a. Subjek hukum, yaitu mencakup perusahaan asuransi sebagai pihak penanggung dan nasabah sebagai pihak tertanggung; 
b. Substansi hukum berupa pengalihan risiko; 
c. Objek pertanggungan, bisa berupa benda maupun kepentingan lain yang melekat padanya keberadaannya bisa dinilai dengan finansial; serta 
d. Adanya peristiwa yang tidak tentu yang dimungkinkan bisa terjadi kapan saja di masa depan.