Showing posts with label Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Pertanian. Show all posts

Pemanfaatan Sitronella Daun Andropogon Nardus L Sebagai Insektisida Alami Hama Padi

August 30, 2017
Pemanfaatan Sitronella Daun Andropogon Nardus L Sebagai Insektisida Alami Hama Padi

Banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan pestisida kimia,mendorong dibuat kesepakatan internasional untuk memberlakukan pembatasan penggunaan bahan-bahan kimia pada proses produksi terutama pestisida kimia sintetik dalam pengendalian hama dan penyakit di bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan dan mulai mengalihkan kepada pemanfaatan jenis-jenis pestisida yang aman bagi lingkungan. Kebijakan ini juga sebagai konsekuensi implementasi dari konferensi Rio de Jainero tentang pembangunan pertanian yang berkelanjutan dalam proses budidaya tanaman. Pengembangan pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumberdaya alam. Dengan demikian pertanian berkelanjutan tidak mungkin begitu saja dilaksanakan tanpa dukungan petani. (Reintjes dkk, 1999)

Padi merupakan salah satu komoditas andalan yang banyak dibudidayakan oleh petani. dekade terakhir, masyarakat khususnya petani mulai memperhatikan persoalan lingkungan dan ketahanan pangan tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumberdaya tanah, air, dan udara. Teknologi modern mempunyai ketergantungan tinggi terhadap bahan kimia, seperti pupuk kimia, pestisida dan bahan kimia pertanian lainnya yang lebih diminati oleh petani daripada pertanian yang ramah lingkungan (Sutanto, 2006). Masalah besar yang dihadapi petani terutama sejak dimulainya revolusi hijau adalah serangan hama yang dapat menghancurkan tanaman. Seiring dengan perjalanan waktu, lambat laun masalah hama ini menjadi perhatian utama. (Loekman S, 2002).

Hama tanaman merupakan salah satu kendala dalam usaha meningkatkan dan mempertahankan produksi pangan khu-susnya beras. Kurang lebih 100 spesies serangga hama menyerang tanaman padi, hanya sekitar 20 spesies menyebabkan kerusakan yang berarti. Salah satu hama utama tanaman padi adalah hama wereng. Untuk mengatasi kendala hama wereng, sejak dahulu telah dilakukan berbagai cara antara lain teknik budidaya, penggunaan varietas tahan dan pestisida sintetis. Penggunaan pestisida meningkat dengan pesat, dimana pestisida dianggap sebagai suatu cara mudah untuk meningkatkan produksi.

Namun demikian, kerugian dan bahaya penggunaan pestisida lambat laun menjadi jelas.  Dampak negatif dari penggunaan pestisida sintetis, dari waktu ke waktu membuat hama menjadi kebal terhadap pestisida. Pestisida tidak hanya mem-bunuh organisme yang menyebabkan kerusakan pada tanaman, namun juga membunuh organisme yang berguna seperti musuh alami hama (predator). Serangan hama dan hama sekunder bisa meningkat setelah pestisida sintetis membunuh musuh alami (resurgensi). Hanya sebagian kecil pestisida yang dipakai di lahan pertanaman mengenai organisme yang seharusnya dikendalikan. Sebagian besar pestisida itu masuk ke udara, tanah atau air yang pada akhirnya membahayakan kehidupan organisme lain, karena pestisida sintetis yang tidak mudah terurai akan terserap dalam rantai makanan dan sangat membahayakan serangga, hewan pemakan serangga, burung pemangsa dan pada akhirnya manusia serta lingkungan. Pengendalian hama dengan pestisida nabati merupakan alternatif menghadapi hama tanaman yang resisten terhadap penggunaan pestisida kimia, sebab pestisida nabati adalah suatu teknologi pengendalian hama yang sangat lekat dengan lingkungan dan meminimalkan kecelakaan atau keracunan bagi pelaku produksi dan konsumen (Reintjes dkk, 1999).

Pestisida alami adalah suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak, karena residunya mudah hilang.

Adapun bahan-bahan insektisida alami itu adalah  Tembakau, mengkudu , Sereh dan masih  banyak lagi yang dapat dipakai sebagai bahan-bahan pembuat isektisida alami. Sifat racun pada sereh wangi disebabkan oleh kandungan minyak atsiri sitronella, geraniol, mirsena, nerol, farnesol, metil heptenol dan dipentena. Adanya senyawa tersebut yang membuat sereh wangi bersifat toksik, sereh gadung dapat digunakan sebagai insektisida. (Rahayu, 2010)

Namun,  masyarakat  luas  dan pada khususunya masyarakat Desa Kopen yang memilki potensi sangat tinggi dalam hal pertanian masih banyak yang belum mengetahui manfaat dari tanaman sereh wangi yang terdapat didaerah mereka ternyata dapat diolah menjadi pestisida nabati yang dapat digunakan sebagai pengganti pestisida kimia. Untuk itulah sosialisai yang berupa ajakan serta cara  pembuatan pestisida nabati ini sangat perlu untuk dilaksanakan di Desa Kopen yang mayoritas warganya bermatapencaharian sebagai petani..


Penulis: Ririn Anjar Pradita dkk.

Media Komunikasi dalam Dunia Pertanian

August 20, 2017
Media Komunikasi dalam Dunia Pertanian

Dalam dunia pertanian, petani memperoleh informasi pertanian dari berbagai sumber baik melalui media maupun non media yaitu komunikasi tatap muka secara langsung (komunikasi antarpribadi). Media komunikasi yang dimaksud dapat dikategorikan dalam dua bagian, yakni media umum dan media massa. Media umum ialah media yang dapat digunakan oleh segala bentuk komunikasi, contohnya telepon, handphone, telegram, OHP, LCD proyektor, dan sebagainya (Hapsari, 2012).

Menurut Hapsari (2012), media massa adalah media yang digunakan untuk komunikasi massa. Disebut demikian karena sifatnya yang massal, yang termasuk dalam media komunikasi massa ialah pers, radio, film, televisi, dan media dotcom. Komunikasi massa memiliki karakteristik yang berbeda dengan jenis komunikasi lainnya. Karakterisitik tersebut ialah komunikator terlembagakan, pesan bersifat umum, komunikannya anonim dan heterogen, media massa menimbulkan keserempakan, komunikasi mengutamakan isi ketimbang hubungan, dan komunikasi massa bersifat satu arah. Hapsari (2012) juga mengemukakan bahwa kehadiran media massa memberikan efek terhadap ekonomi, sosial, penjadwalan kegiatan sehari-hari, hilangnya perasaan tidak nyaman, dan menumbuhkan perasaan tertentu. Sedangkan, efek pesan dari komunikasi massa mempengaruhi kognitif, afektif, dan behavioral khalayak. Dampak sosial media massa secara pasti mempengaruhi pemikiran dan tindakan khalayak. Media membentuk opini publik untuk membawanya pada perubahan yang signifikan.

Hasil penelitian menurut Saleh (2006) mengungkapkann bahwa telah terjadi pergeseran perilaku komunikasi dari komunikasi interperonal ke komunikasi bermedia. Akan tetapi menurut Sumaryo (2006) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa Peranan televisi dalam penyebaran informasi pertanian tergolong rendah karena petani di daerah penelitian tersebut kurang tertarik untuk menyaksikan acara informasi pertanian dengan alasan tidak sesuai dengan waktu istirahat mereka. Pernyataan tersebut didukung oleh Widiyanti (2007) yang menyatakan bahwa komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok masih relevan dan lebih banyak digunakan oleh petani dalam memperoleh informasi pertaniannya. Hal tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan media komunikasi tak lepas dari karakteristik wilayah tempat tinggal petani, karakteristik dari petani itu sendiri dalam memanfaatkan media komunikasi dalam memperoleh kebutuhan informasi pertaniannya, dan karakteristik dari media komunikasi itu sendiri.
Perbedaan yang terjadi berdasarkan hasil penelitian sebelumnya tersebut dapat disebebkan juga oleh karakteristik dari media komunikasi yang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga tidak semua petani dapat menggunakan atau memanfaatkan media komunikasi yang ada.

Media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak (Cangara, 2007). Ada beberapa pakar psikologi memandang bahwa dalam komunikasi antar manusia, media yang paling dominan dalam berkomunikasi adalah pancaindra manusia, seperti mata dan telinga. Pesan-pesan yang diterima pancaindra selanjutnya diproses dalam pikiran manusia untuk mengontrol dan menentukan sikapnya terhadap sesuatu, sebelum dinyatakan dalam tindakan. Media yang dimaksud adalah media antarpribadi (kurir atau utusan, surat, dan telepon), media kelompok (melibatkan khalayak lebih dari 15 orang), media publik (khalayak lebih dari 200 orang), dan media massa (surat kabar, film, radio, dan televisi).

Selain media komunikasi di atas, masih banyak media komunikasi lain seperti poster, leaflet, selebaran, brosur stiker, pamflet yang dapat diolongkan sebagai media format kecil. Menurut Cangara (2007), media ini banyak digunakan untuk penawaran barang dan jasa, kampanye, pameran, dan sebagainya.


Jika kita perhatikan karakteristik masing-masing media komunikasi, mungkin timbul pertanyaan, media mana yang efektif dalam mencapai sasaran komunikasi. Jawabannya sudah tentu kembali pada sifat media serta pemilikan media pada khalayak. Sebab bagaimanapun banyaknya kelebihan media televisi, kalau media tersebut tidak dimiliki oleh khalayak, sudah tentu informasi yang disampaikan tidak akan mengena sasaran yang ingin dicapai.

Perilaku Komunikasi Petani dalam Pencarian Informasi Pertanian Organik [Studi Kasus]

August 18, 2017
Perilaku Komunikasi Petani dalam Pencarian Informasi Pertanian Organik [Studi Kasus]

Nama Penulis : Fuady F, Lubis DP, Lumintang RWE

Ringkasan Pustaka
Penelitian ini mengungkapkan bahwa perilaku komunikasi pada dasarnya berorientasi pada tujuan dalam arti perilaku seseorang pada umumnya dimotivasi dengan keinginan untuk memperoleh tujuan tertentu. Motivasi petani didalam memperoleh informasi tentang budidaya pertanian yang berkelanjutan, pada dasarnya adalah untuk memperoleh pendapatan yang lebih layak, serta untuk menghindari dari adanya degradasi lahan pertanian akibat dari pemanfaatan input sintesis yang berlebihan.

Informasi-informasi yang diperoleh petani tentunya tidaklah langsung diaplikasikan di lapangan. Pada umumnya petani melakukan pertimbangan dan perbandingan dengan pengalaman usaha tani yang selama ini dilakukan. Adapun perilaku komunikasi yang dimaksudkan dalam penelitian tersebut adalah aktivitas yang bertujuan untuk mencari dan memperoleh informasi dari berbagai sumber dalam pemenuhan kebutuhan informasi pertanian organik.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku komunikasi petani dalam pencarian informasi pertanian organik dan menganalisis hubungan antara perilaku komunikasi petani dengan praktek budidaya pertanian bawang organik. Dimana hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa akses petani terhadap pertanian organik melalui media massa sebagai salah satu sumber informasi relatif rendah bahkan diantaranya tidak pernah mendapakan informasi pertanian organik dari media massa. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya informasi pertanian organik yang di muat di media massa, petani kurang memiliki waktu yang cukup untuk mengakses media massa, dan rendahnya minat petani untuk mengakses media massa. Penelitian ini juga menyajikan data hasil penelitian bahwa pemanfaatan media massa oleh petani sebagian besar adalah surat kabar dan tabloit.

Hasil penelitian lainnya adalah upaya mendapatkan berbagai informasi pertanian seputar usaha tani, petani biasanya melakukan interaksi interpersonal dengan berbagai pihak dimana data menunjukkan bahwa umumnya petani memiliki interaksi interpersonal yang rendah dan sedang. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan nyata antara perilaku komunikasi petani dengan praktek usaha tani pertanian organik petani. Hal tersebut didukung oleh perolehan salah satu data yang menyatakan bahwa hubungan antara peubah keterdedahan media massa dan interaksi interpersonal petani dengan adopsi pupuk organik memiliki hubungan yang nyata. Semakin tinggi akses media dan interaksi interpersonal yang dilakukan petani memiliki korelasi terhadap tingginya adopsi pupuk.

Akan tetapi, komunikasi yang terjadi antar kelompok tani tidak menyebabkan adanya perubahan perilaku petani di dalam budidaya tanaman bawang merah organik. Komunikasi yang terjadi pada petani cenderung menguatkan status quo dan mempertahankan cara-cara yang telah lama bertahan di masyarakat.

Analisis Pustaka

Penelitian ini mampu menambah pengetahuan penulis mengenai perilaku komunikasi petani dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan. Tidak terlalu berbeda dengan hasil-hasil penelitian yang telah penulis ringkas mengenai perilaku komunikasi petani. Namun, penelitian ini lebih cenderung mengamati pentingnya komunikasi interpersonal dalam memperoleh informasi pertanian petani. Hal tersebut dapat terlihat dari saran yang disajikan dalam penelitian tersebut.

Pemanfaatan Informasi oleh Petani Sayuran [Studi Kasus]

August 17, 2017
Pemanfaatan Informasi oleh Petani Sayuran [Studi Kasus]

Nama Penulis : Dwi Retno Hapsari

Penelitian ini mengungkapkan bahwa saat ini para petani, termasuk petani sayuran dapat memajukan pertanian dengan memanfaatkan berbagai sumber informasi melalui komunikasi interpersonal dan beberapa media komunikasi sebagai alat komunikasi dan informasi yang menunjang usahatani sayuran mereka. Semakin beragamnya komoditi pertanian para petani membuat petani aktif mencari, menyeleksi, dan memanfaatkan informasi melalui berbagai sumber informasi sebagai landasan untuk meningkatkan pengelolaan usahatani sayurannya.

Informasi bermanfaat bagi siapa saja, baik perorangan atau kelembagaan, termasuk petani yang juga membutuhkan informasi. Sektor pertanian di Indonesia hingga saat ini masih dianggap sektor strategis, bukan hanya karena sektor ini mampu menyediakan lapangan pekerjaan, pendorong munculnya industri baru atau kegiatan ekonomi yang lain, tetapi juga berperan sebagai sumber penyedia pangan serta mampu menyumbang devisa nasional. Intinya adalah pertanian menjadi basis pembangunan perekonomian Indonesia dan tidak dipandang sebagai masalah sektoral belaka. Penelitian ini dilakukan di Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor dengan pertimbangan wilayah tersebut merupakan salah satu sentra produksi sayuran di Kabupaten Bogor.

Hasil dari penelitian ini adalah adanya hubungan nyata antara karakteristik petani sayuran dengan tingkat keterdedahan sumber informasi. Hal tersebut diperoleh dari salah satu data dimana menyatakan bahwa semakin tinggi pendapatan petani, maka jumlah sumber informasi yang diakses juga akan meningkat atau semakin tinggi juga. Penelitian ini juga menyatakan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara persepsi petani sayuran terhadap pelayanan pertanian dengan tingkat keterdedahan sumber informasi.

Hasil tersebut diperoleh dari data yang diperoleh dimana salah satu data menyatakan bahwa hubungan sangat nyata antara peubah persepsi petani terhadap saranan produksi pertanian dengan jumlah informasi yang diakses.  Hasil dari penelitian ini yang terakhir adalah terdapat hubungan nyata antara tingkat keterdedahan sumber informaasi dengan tingkat pemanfaatan informasi. Hasil tersebut diperoleh karena jika jumlah sumber informasi yang di akses oleh petani banyak, maka akan berimplikasi terhadap ragam informasi yang diperoleh, akibatnya petani lebih banyak kesempatan untuk memilih berbagai informasi untuk dipraktekkan atau tidak pada usahatani sayurannya.

Analisis Pustaka
Penelitian ini sangat menambah wawasan penulis terkait pemanfaatan informasi yang dilakukan oleh petani. Informasi dapat datang dari mana saja sehingga mengharuskan petani untuk aktif mencari informasi sesuai dengan kebutuhan mereka.. Penelitian ini juga didukung oleh hasil dari penelitian-penelitian sebelumnya sehingga memperkuat hasil yang diperoleh.

Hubungan Perilaku Komunikasi dengan Pemahaman Petani terhadap Fungsi Radio Komunitas

August 16, 2017
Hubungan Perilaku Komunikasi dengan Pemahaman Petani terhadap Fungsi Radio Komunitas

Nama Penulis : Anies Wahyu Nurmayanti

Ringkasan Pustaka
Seiring perkembangan informasi dan komunikasi massa yang semakin maju pesat, fungsi media massa tidak hanya sebagai media hiburan semata, akan tetapi mampu memberdayakan masyarakat sebagai upaya pengembangan masyarakat. Sejak era reformasi di Indonesia, muncul keinginan, kebutuhan dan keberanian masyarakat untuk mengekspresikan eksistensi dirinya melalui radio komunitas yang menjadi ruang publik warga. Radio komunitas juga dapat menjadi wadah pemberdayaan masyarakat pedesaan untuk bersama-sama berpartisipasi meningkatkan kualitas kesejahteraan anggota komunitas.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis hubungan perilaku komunikasi dengan pemahaman petani terhadap fungsi radio komunitas, yaitu sebagai komunikasi internal, sarana pendidikan umum dan agama, serta ruang publik. Penelitian ini didesain sebagai penelitian survai dengan tipe explanatory research. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2011 di Desa Kaliagung. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel acak sederhana. Kemudian dibuatlah daftar nama seluruh anggota kelompok tani pendengar radio komunitas yang terpilih itu. Dari kerangka sampling tersebut, sampel yang akan dipilih dilakukan dengan menggunakan pola pengundian. Pemilihan petani dalam penelitian menggunakan Rumus Slovin sebanyak 40 petani.

Keterlibatan petani yang paling banyak diikuti adalah membantu operasional radio komunitas berupa membayar iuran (65 %), sedangkan keterlibatan petani paling sedikit adalah mengisi program acara radio komunitas (12,5 %). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 35 persen petani terlibat rapat dalam pembentukan Radio Komunitas Petani Trisna Alami dan mengirimkan sms untuk meminta lagu dan mengirim salam ke petani pendengar radio komunitas. Keterlibatan petani dalam menyumbang ide nama radio dan memberi usul waktu siaran masing-masing sebanyak 17,5 persen petani.

Peneliti mendefinisikan perilaku komunikasi sebagai tindakan atau tingkah laku pendengar dalam mendengarkan radio siaran. Peubah ini dapat diukur dengan lima indikator, yaitu tingkat keterdedahan dengan saluran komunikasi interpersonal (Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat keterdedahan saluran komunikasi interpersonal yang tergolong rendah sebesar 45 persen petani dan yang tergolong tinggi 55 persen), kekosmopolitan (Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 40 persen petani tergolong lokalit dan 60 persen tergolong kosmopolit), frekuensi bertemu dengan penyuluh (Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 47,5 persen petani tidak pernah bertemu dengan penyuluh dan 52,5 persen pernah bertemu dengan penyuluh), keterdedahan media massa lain (Hasil penelitian ini menunjukkan frekuensi menonton televisi tergolong pernah sebanyak 97,5 persen petani dengan lama rata-rata menonton televisi selama kurang dari satu jam sebanyak 60 persen. Frekuensi mendengarkan radio lain tergolong pernah sebanyak 62,5 persen petani dengan lama rata-rata kurang dari 0,5 jam sebanyak 67,5 persen. Sebanyak 40 persen petani pernah membaca koran dengan lama rata-rata membaca selama kurang dari 0,5 jam sebanyak 72,5 persen, sedangkan frekuensi mendengarkan Radio Komunitas Petani Trisna Alami tergolong tinggi sebanyak 60 persen petani dengan lama mendengarkan kurang dari 2,25 jam sebanyak 62,5 persen), serta keterdedahan dengan Radio Komunitas Petani Trisna Alami (Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar frekuensi petani dalam mendengarkan radio komunitas tergolong tinggi (60 %) dan lama rata-rata mendengarkan radio komunitas selama kurang dari 2,25 jam sebesar 62,5 persen petani.

Analisis Pustaka

Pengelola Radio Komunitas Petani Trisna Alami perlu menyusun kembali program-program yang menarik dan disesuaikan dengan keinginan masyarakat, sehingga kebutuhan informasi dapat terpenuhi. Perlu adanya peninjauan ulang fungsi radio komunitas yang telah dirumuskan. Dan perlu penelitian berikutnya untuk menguatkan hasil yang telah diperoleh oleh penelitian ini. Untuk pembahasan yang disajikan dalam penelitian tersebut sudah mampu menambah pengetahuan terkait media komunitas juga memiliki andil dalam penyebarluasan informasi pertanian.

Media Komunikasi Mendukung Percepatan Alih Teknologi Produksi Padi Sawah di Tingkat Petani

August 15, 2017
Media Komunikasi Mendukung Percepatan Alih Teknologi Produksi Padi Sawah di Tingkat Petani

Nama Penulis : Armiati, Nasruddin Razak, dan Yusmasari

Ringkasan Pustaka
Kesesuaian media komunikasi sangat dibutuhkan agar teknologi yang dianjurkan dapat diterima dan diadopsi oleh petani. Media sangat erat kaitannya dengan komunikasi karena media merupakan salah satu komponen atau unsur yang menjadi pensyaratan untuk terjadinya suatu komunikasi. Perkembangan Ilmu pengetahuan dan tenologi dewasa ini telah menghasilkan begitu banyak media komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi kepada petani. Tetapi di lain pihak, dengan semakin banyaknya media yang tersedia menuntut pertimbangan dalam menetapkan dan menggunakan media komunikasi yang tepat untuk membantu mendisseminasikan suatu informasi. Media komunikasi yang banyak digunakan sebagai media alih teknologi adalah media tercetak (liptan, brosur, dan poster; pertemuan (seminar, temu lapang, dan lain-lain); dan media elektronik (video, kaset, dan lain-lain). Namun demikian, menurut peneliti mengutip Haryati (2008) perlu diperhatikan bahwa keefektifan media ini sangat tergantung pada kemampuan membaca sasarannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan saluran atau media komunikasi dalam rangka mempercepat proses alih teknologi dari sumber ke pengguna.

Penyuluh pertanian yang dijadikan responden pada penelitian ini adalah penyuluh pertanian yang membawahi wilayah-wilayah yang menjadi lokasi sampel, yaitu penyuluh pertanian pada BPP Banti-murung dan BPP Maros Baru (Kabupaten Maros), penyuluh pertanian pada BPP Watang Sawitto dan BPP Paleteang (Kabupaten Pinrang). Berdasarkan pengalaman dan tingkat pendidikan penyuluh, merupakan potensi yang cukup besar dalam pelaksanaan alih teknologi ke tingkat petani. Sedangkan berkaitan dengan inovasi teknologi, materi yang diminati penyuluh tidak dibatasi pada disiplin ilmu masing masing karena dalam tugas sehari-hari mereka tidak bisa secara tegas hanya memfasilitasi para petani sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya.

Petani responden di Kabupaten Pinrang rata-rata berumur 43 tahun dengan kisaran 22–60 tahun, yang didominasi oleh umur di bawah 50 tahun (80%). Kondisi ini merupakan salah satu potensi untuk pengembangan padi di daerah ini karena mampu menarik minat generasi muda untuk menekuni bidang usaha di sektor pertanian.

Proses keputusan inovasi merupakan proses yang dilalui individu dalam menentukan keputusan. Peneliti mengacu kepada konsep yang dikemukakan oleh Rogers (1983) dimana menyatakan bahwa tahapan adopsi inovasi atau calon pengguna pada umumnya melalui lima tahap, yaitu: (a) tahap pengetahuan, yaitu ketika individu atau unit pengambil keputusan mengatahui adanya suatu inovasi dan memperoleh beberapa pemahaman tentang fungsinya, (b) tahap persuasi, yaitu timbulnya minat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai suatu inovasi, (c) tahap keputusan, yaitu kegiatan yang menuju pada suatu pilihan untuk menerima atau menolak suatu inovasi, (d) tahap pelaksanaan yang merupakan tahap dimana individu atau unit pengambil keputusan mengambil suatu inovasi untuk digunakan, dan (e) konfirmasi ketika individu mencari informasi untuk menguatkan keputusan yang telah dibuatnya.

Dari hasil wawancara, penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan pengalaman semua responden baik di Kabupaten Maros maupun di Kabupaten Pinrang melewati tahap pengenalan dan tahap persuasi sebelum mengambil keputusan untuk menerima atau menolak suatu teknologi. Tetapi pada tahap pengambilan keputusan, untuk Kabupaten Maros hanya 28 orang (70%) petani responden yang mencoba inovasi baru dalam skala kecil sebelum memutuskan menerima atau menolaknya. Untuk petani responden Kabupaten Pinrang 38 orang (78%) responden biasanya mencoba inovasi teknologi dalam skala kecil sebelum mengambil keputusan. Sedangkan apabila petani memutuskan untuk menerima teknologi baru dan melaksanakannya, mereka masih akan menilai kembali teknologi tersebut (tahap konfirmasi). Pada tahap ini petani biasanya mencari penguat bagi keputusannya sehingga mereka dapat melanjutkan, menyempurnakan atau berhenti mengadopsi suatu inovasi teknologi. Berdasarkan pengalaman petani, hal-hal yang biasanya membuat mereka berhenti mengadopsi inovasi baru adalah (a) kerumitan teknologi; (b) perubahan iklim atau kondisi lingkungan dan (c) kesukaan pedagang terhadap produksi (apabila inovasi teknologinya varietas).

Konsep komunikasi yang digunakan oleh peneliti ini adalah yang dikemukakan oleh Efendi (1992) dimana menyatakan komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau untuk mengubah sikap pendapat atau perilaku baik secara lisan maupun dengan menggunakan media. Media sangat erat kaitannya dengan komunikasi karena media merupakan salah satu komponen yang menjadi pensyaratan untuk terjadinya suatu komunikasi. Sedangkan media atau channel adalah saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada sasarannya. Dalam proses komunikasi selain menggunakan media massa juga digunakan saluran interpersonal yang melibatkan tatap muka antara dua orang atau lebih. Metode penyuluhan yang menggunakan media interpersonal adalah pertemuan atau diskusi, demonstrasi, gelar teknologi pertanian, dan lain-lain. Setiap media memiliki karakteristik sendiri dalam meneruskan pesan dan mempunyai peran yang berbeda pada setiap tahap keputusan inovasi. Media dan metode komunikasi yang dipilih pada setiap tahapan adopsi diuraikan sebagai berikut:

Tahap Pengenalan
Hasil wawancara menunjukkan bahwa semua responden melewati tahap pengenalan inovasi teknologi sebelum memutuskan menerima atau menolak suatu inovasi teknologi. Hal ini sejalan dengan konsep yang masih digunakan oleh peneliti, yaitu menurut Rogers dan Shoemaker dalam Hanafi (1987) yang menyatakan bahwa kombinasi dari media interpersonal dan media massa merupakan cara yang efektif dalam mem-perkenalkan ide-ide baru kepada peng-guna. Alasan utama petani memilih diskusi kelompok adalah pertemuannya tidak terlalu formil sehingga mereka bebas berinteraksi baik dengan penyuluh maupun dengan sesama petani. Kombinasi media interpersonal dan media cetak yang banyak diinginkan oleh responden adalah metode diskusi kelompok dengan media cetak yaitu masing-masing 57,5 % untuk responden Maros dan 42 % untuk responden Pinrang. Hal ini mengindikasikan bahwa petani lebih memilih komunikasi yang tidak terlalu formil dalam penyampaian inovasi dengan disertai bahan bacaan yang lebih lengkap untuk dijadikan sebagai bahan diskusi.

Tahap Persuasi
Media dan metode komunikasi yang diinginkan oleh petani pada tahap ini baik petani responden Pinrang maupun Maros 100% memilih media interpersonal dengan metode demonstrasi dengan alasan bahwa ingin melihat langsung pelaksanaan suatu inovasi baru maupun hasilnya. Untuk media cetak umumnya masih memilih brosur dengan alasan informasi teknologinya lebih lengkap dibanding dengan media cetak lainnya. Kombinasi media dan metode yang dipilih menunjukkan bahwa kombinasi antara media interpersonal (demplot+diskusi dengan penyuluh secara kelompok) dengan brosur paling banyak dipilih oleh petani responden yaitu 78% untuk Pinrang dan 67% untuk Maros.

Tahap Pengambilan Keputusan
Pada tahap ini, 100% petani memilih media interpersonal. 65% responden Maros memilih Sekolah Lapang (SL) dan 35% responden memilih diskusi kelompok dengan penyuluh dan bertanya ke sesama petani. Untuk responden Pinrang 60% memilih SL dan 40 % memilih diskusi kelompok dengan PPL dan bertanya ke sesama petani. Alasan petani memilih SL adalah untuk lebih memahami pelaksanaan teknologi, mengetahui masalah dan mencari jalan keluar dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan yang tidak memilih SL memberikan alasan menganggap bahwa SL membutuhkan waktu yang banyak sedangkan mereka mempunyai kegiatan yang lain. Selain itu ada pula yang beralasan bahwa mereka tidak bisa menulis sehingga memilih bertanya kesesama petani yang mengikuti SL.

Tahap Implementasi dan Penilaian Kembali
Dalam pelaksanaannya para penyuluh tersebut membutuhkan inovasi atau informasi teknologi pertanian baik berupa frontier technology, teknologi yang dapat menjawab permasalahan ataupun teknologi yang dapat mengembangkan potensi. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan penyuluh terhadap inovasi teknologi tersebut berkaitan erat dengan tingkat kredibilitas mereka. Kredibilitas penyuluh merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesuksesan alih teknologi ke petani. Hasil penelitian ini juga menyebutkan bahwa semua penyuluh responden baik Kabupaten Maros maupun Pinrang menginginkan pelatihan disertai dengan buku pegangan baik berupa juknis, brosur maupun buku yang berkaitan dengan pengetahuan prin-sip yang berhubungan dengan peningkatan IP Padi. Selain itu 85,71% penyuluh responden Maros dan 76,19% penyuluh responden Pinrang menginginkan CD yang dapat digunakan untuk menambah penge-tahuan dan keterampilannya.

Analisis Pustaka

Temuan penelitian ini mampu menambah pengetahuan mengenai pentingnya memilih media komunikasi yang tepat sebelum melakukan kegiatan pertanian dengan tujuan untuk mendukung percepatan produktivitas pertanian mereka. Jurnal ini juga sangat cocok digunakan sebagai panduan utama melakukan penelitian selanjutnya bagi penulis. Jumlah responden tertulis jelas. Pembahasan juga ditulis dengan spesifik dan jelas, serta mampu menjawab tujuan dari penelitian itu sendiri. Media Komunikasi dalam penelitian tersebut dikaitkan dengan tahap-tahap adopsi sebelum mengadopsi suatu inovasi teknologi sehingga menambah pengetahuan penulis bahwa media komunikasi dapat digunakan di segala aspek kegiatan petani khususnya dalam kegiatan usahatani.

Kebutuhan Informasi Petani Gurem [Kasus Desa Rowo, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung]

August 14, 2017
Kebutuhan Informasi Petani Gurem [Kasus Desa Rowo, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung]

Nama Penulis: Hanifah Ihsaniyati

Ringkasan Pustaka
Informasi yang dibutuhkan oleh setiap individu berbeda dan tidak dapat disamakan. Informasi sendiri selayaknya sesuai dengan kebutuhan yang ingin dicapai oleh individu tertentu, dalam hal ini adalah petani. Informasi yang datang harus sesuai dengan keinginan petani dalam menunjang produktivitas usahataninya. Namun, kenyataan dalam penelitian ini adalah masih banyak petani yang tidak memperoleh informasi sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini menyebabkan ketidakefektivan kegiatan pertanian yang dilakukan oleh petani gurem.

Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan kebutuhan informasi petani gurem dalam upaya memenuhi kebutuhan dasar, yaitu bekerja baik menjalankan usahatani maupun pekerjaan lain. Metode penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme, yaitu mengarah pada pendekatan kualitatif (qualitative approach). Lokasi dilakukan secara sengaja dan subyek penelitian dilakukan dengan teknik bola salju (snowball sampling).

Hasil dari penelitian ini adalah terdapat dua golongan petani gurem di Desa Rowo, yaitu petani gurem Pengambil Resiko Tinggi (PRT) dan Pengambil Resiko Rendah (PRR). Hal tersebut diindikasikan karena petani bukan masyarakat yang homogen dan melulu bekerja di pertanian. Petani gurem PRT membutuhkan informasi yang lebih bersifat fluktuatif, akurat, perlu pemenuhan segera (berkaitan dengan waktu), berkaitan dengan untung/rugi secara ekonomis maupun non ekonomis, perlu pemantauan terus menerus. Petani gurem PRR membutuhkan membutuhkan informasi yang cenderung lebih stabil, rutin dan biasa, relatif rendah resiko, dan bagi petani gurem relatif tidak mendesak.

Berdasarkan data dari penelitian tersebut, diketahui bahwa jumlah rumah tangga di Desa Rowo adalah 597 keluarga, 400 kepala keluarga berprofesi sebagai petani. Dari 400 rumahtangga petani (RTP) yang memiliki lahan, ada 370 rumahtangga petani (RTP) dengan kepemilikan lahan kurang dari 0,5 hektar. Selain memiliki lahan sempit, mereka juga dihadapkan pada keterbatasan alam, yaitu lahan sawah yang mereka garap sangat tergantung dari ada tidaknya air hujan (sawah tadah ujan).

Peneliti menggunakan definisi petani gurem dari Scott (1981) yang menyatakan bahwa petani gurem adalah golongan orang-orang pasif. Namun data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa petani gurem di Desa Rowo bukan orang yang pasif. Untuk bertahan hidup dan meningkatkan mereka aktif dan bersungguh-sungguh dalam bekerja baik menjalankan usahatani maupun pekerjaan lain di luar usahatani. Scott (1981) juga memberikan deskripsi bahwa petani tidak akan mengambil tindakan yang berbahaya, beresiko tinggi dan mengancam tingkat subsistensi mereka. Menurutnya mereka ini adalah masyarakat yang “mendahulukan selamat” dan lebih memusatkan diri pada usaha menghindarkan jatuhnya produksi, bukan kepada usaha memaksimumkan keuntungan-keuntungan harapan. Data dalam penelitian ini menggambarkan sebaliknya. Sebagian petani gurem di Desa Rowo berani mengambil resiko. Perilaku berani mengambil resiko dicirikan salah satunya dari jenis komoditi yang diusahakan dan pekerjaan di luar usahatani yang ditekuni.

Berdasar data penelitian diketahui bahwa petani gurem di Desa Rowo bukan masyarakat yang homogen dan melulu bekerja di pertanian. Untuk itu, peneliti menduga ada dua golongan petani gurem di Desa Rowo, yaitu petani gurem Pengambil Resiko Tinggi (PRT) dan Pengambil Resiko Rendah (PRR). Masing-masing golongan memiliki ciri khas dan sifat/karakter yang berbeda. Petani gurem PRT di antaranya cenderung memiliki sifat atau karakter berani mengambil resiko, berpikir lebih komersial, berani keluar dari zona aman, dan gigih dalam menyelesaikan masalah. Petani gurem PRT menekuni usahatani atau pekerjaan lain yang cenderung lebih komersial, beresiko tinggi, membutuhkan modal besar, garapan atau pekerjaan rumit, membutuhkan curahan pikiran, konsentrasi, dan tenaga yang lebih besar. Usahatani atau pekerjaan lain yang memiliki ciri-ciri tersebut antara lain usahatani cabai, usahatani tembakau, usahatani kembang kol, usahatani tomat, pengrajin atau pebisnis keranjang tembakau, usaha camilan, usaha warung. Petani gurem PRR menjalankan usahatani  atau pekerjaan lain yang cenderung lebih rendah resiko, tidak membutuhkan modal besar, garapan/pekerjaan relatif mudah, tidak membutuhkan banyak curahan pikiran dan konsentrasi. Usahatani atau pekerjaan lain yang memiliki ciri-ciri tersebut antara lain usahatani jagung, usahatani caisim, usahatani kacang panjang, usahatani ketela pohon, usahatani kacang tanah, usahatani ketela rambat, usahatani singkong, pengrajin keranjang sayur atau buah, sopir, ojek, tukang rongsok, tukang kayu, pengrajin batu bata, buruh tani, pedagang bibit, pedagang roti keliling (sales roti), guru honorer, TKI atau TKW, serabutan.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa Kebutuhan informasi petani gurem di Desa Rowo melekat pada masalah yang sedang dirasakan mereka pada saat bekerja baik menjalankan usahatani maupun pekerjaan lain di luar usahatani. Kebutuhan informasi dirasakan petani gurem di Desa Rowo sebagai suatu kondisi dimana pengetahuan mereka tidak cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak atau pikiran mereka saat mereka ingin menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi. Pertanyaan-pertanyaan di benak mereka tersebut membuat mereka ingin mengetahui, penasaran, gundah atau gelisah, dan tidak ada kepastian.

Dari data penelitian, peneliti menduga kebutuhan informasi petani gurem Pengambil Resiko Tinggi (PRT) dan petani gurem Pengambil Resiko Rendah (PRR) berbeda. Namun, berkaitan dengan permasalahan umum petani di Desa Rowo baik petani gurem PRT maupun PRR memiliki kebutuhan informasi yang sama. Kebutuhan informasi petani gurem di Desa Rowo secara umum antara lain cara membuat pupuk organik, tanaman yang cocok untuk lahan di Desa Rowo, dan pekerjaan atau usaha lain yang lebih menguntungkan. Kedua golongan petani gurem baik petani gurem PRT dan PRR sama-sama memiliki kebutuhan informasi berkaitan dengan komoditi padi.

Kebutuhan informasi petani gurem PRT meliputi informasi yang lebih bersifat fluktuatif, akurat, perlu pemenuhan segera (berkaitan dengan waktu), berkaitan dengan untung atau rugi secara ekonomis maupun non ekonomis, perlu pemantauan terus menerus. Informasi yang dibutuhkan petani gurem PRT antara lain informasi pinjaman modal (cabai, tembakau, keranjang tembakau, usaha camilan, usaha warung), hama penyakit tanaman (cabai, kembang kol, tomat, tembakau), perkembangan harga (cabai, kembang kol, tomat, tembakau, bahan baku camilan, barang dagangan, debog, keranjang tembakau), budidaya komoditi atau varietas pertanian yang sedang laku di pasaran, pembeli hasil panen, pemasaran (tenaga pemasaran camilan, perluasan pasar camilan dan roti).

Kebutuhan informasi petani gurem PRR meliputi informasi yang lebih stabil, rutin dan biasa, relatif rendah resiko, dan bagi petani gurem relatif tidak mendesak. Informasi yang dibutuhkan petani gurem PRR antara lain berkaitan dengan penunjang pekerjaan atau profesi sehari-hari (kendaraan yang rusak, teknik mengajar, kendaraan sewa, tempat kulakan, jenis keranjang sayur yang dipesan pembeli, upah atau honor terutang, premanisme penumpang ojek, keberadaan barang rongsok di rumahtangga, ketersediaan kayu bakar untuk batu bata, tumpangan transportasi), alternatif tempat bekerja sebagai buruh tani yang lebih dekat, hama penyakit tanaman jagung, teknologi (pemasaran sayuran yang lebih baik, peningkatan kualitas batu bata, pembakaran batu bata), perkembangan harga rutin (barang rongsok, keranjang sayur), pengguna jasa (tukang kayu, buruh tani).

Kebutuhan informasi petani gurem PRT berbeda dengan PRR. Jika informasi yang disajikan pada masing-masing mereka tidak tepat, maka kebijakan komunikasi menjadi kurang efektif dan efisien. Petani gurem PRT membutuhkan pemenuhan informasi segera karena berkaitan dengan untung rugi secara ekonomis dan non ekonomis (ketenangan hati), maka kebijakan informasi untuk mereka perlu memperhatikan unsur waktu tersebut. Meskipun kebutuhan informasi petani gurem PRR cenderung meliputi informasi yang stabil, tetapi mereka tetap membutuhkan informasi tertentu. Kebijakan komunikasi yang diterapkan lembaga informasi perlu tetap memperhatikan kebutuhan informasi petani gurem PRR.

Analisis Pustaka

Penelitian ini menambah pengetahuan mengenai pentingnya kebutuhan informasi yang diterima oleh petani harus sesuai dengan kebutuhan petani. Seperti yang diketanui, setiap petani memiliki kebutuhan yang berbeda-beda terhadap kebutuhan usahatani mereka, oleh karena itu informasi yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan petani tersebut. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sesungguhnya perilaku komunikasi petani sangat aktif dalam mencari informasi, namun ketersediaan informasi yang tidak sesuai menyebabkan petani sulit untuk bergerak lebih jauh lagi.

Analisis Efektivitas Komunikasi Model Prima Tani sebagai Diseminasi Teknologi Pertanian

August 13, 2017
Analisis Efektivitas Komunikasi Model Prima Tani sebagai Diseminasi Teknologi Pertanian

Nama Penulis : A. Saleh dan F.N. Suwanda

Penguasaan teknologi sumberdaya lahan pada prinsipnya memahami sumberdaya informasi sistem usaha pertanian. Oleh sebab itu, penguasaan informasi dan inovasi pertanian, sangat dibutuhkan dalam upaya merumuskan kebijakan pembangunan pertanian, mengantisipasi perubahan fundamental dalam lingkungan biofisik pertanian, politik dan sosial-ekonomi. Informasi dan teknologi komoditas pertanian yang diciptakan dan dikembangkan, adalah informasi dan teknologi yang memiliki karakter, antara lain berdaya saing tinggi, produk unggulan dan kompetitif, berwawasan lingkungan, terintegrasi dengan sektor-sektor lain, dan memenuhi permintaan pasar.

Prima Tani adalah suatu model atau konsep baru diseminasi teknologi yang dipandang dapat mempercepat penyampaian informasi dan bahan dasar inovasi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas komunikasi model Prima Tani usahatadi padi di Desa Citarik. Media komunikasi Prima Tani pada penelitian ini adalah gelar teknologi, penyuluhan, dan klinik prima tani.

Penelitian ini menyatakan bahwa keragaman kelembagaan tani yang dilihat dari keeratan dan kenyamanan hubungan, iklim komunikasi termasuk tinggi. Aksesibilitas yang paling baik dan kredibel menurut petani adalah kontak dengan para petani dimana terdapat kepercayaan yang tinggi dari petani kepada peneliti. Pemanfaatan media komunikasi Prima Tani adalah aktivitas petani menggunakan dan mengikuti kegiatan promosi, sosialisasi dan informasi melalui gelar teknologi, penyuluhan, dan klinik Prima Tani. Selain itu, hasil dari penelitian ini adalah diseminasi dikatakan efektif, jika penerima paham, mengerti, mendukung, menerima Prima Tani, menyukai, antusias, sudah menerapkan dan puas karena sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh sumber.

Terdapat hubungan sangat nyata antara keragaan kelembagaan tani (tujuan kelompok, fungsi kelompok, manfaat rencana kerja, iklim komunikasi kelompok, perilaku kepemimpinan), aksesibilitas (media massa, penyuluhan, kontak dengan peneliti, kontak dengan petani lain), serta syarat mutlak dan pelancar (teknologi, pendidikan pembangunan, kredit produksi, gotong-royong dan perencanaan nasional) dengan penyuluhan dalam pemanfaatan media komunikasi Prima Tani dan terdapat hubungan yang nyata antara aksesibilitas (kontak dengan petani di luar kelompok), serta syarat mutlak dan pelancar (pasar, pengangkutan serta lahan dan tanah pertanian) dengan penyuluhan dalam pemanfaatan media komunikasi Prima Tani.

Analisis Pustaka

Hasil penelitian tersebut tidak sepenuhnya relevan dengan topik penulis, akan tetapi mampu menambah pengetahuan penulis mengenai komunikasi model prima tani sebagai salah satu media komunikasi petani dalam menjalankan kegiatan pertaniannya. Komunikasi Prima Tani tidak lepas dari penggunaan media komunikasi dimana relevan dengan topik yang sedang diajukan oleh penulis, namun dalam penelitian tersebut kurang menjelaskan secara jelas terkait penggunaan media komunikasi sendiri. Terdapat kelemahan dalam penelitian tersebut karena kurang menjelaskan maksud atau pengertian dari model komunikasi prima tani tersebut.

Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Petani Bawang Merah dalam Penggunaan Pestisida [Studi Kasus]

August 12, 2017
Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Petani Bawang Merah dalam Penggunaan Pestisida [Studi Kasus]

Nama Penulis : Luluk Sulistiyono, Rudy C. Tarumingkeng, Bunasor Sanim, dan Dadang

Pemerintah telah melakukan beberapa langkah untuk melaksanakan pengelolaan penggunaan pestisida, diantaranya melalui program pengelolaan hama secara terpadu yang sebelumnya disebut pengendalian hama terpadu (PHT). Peneliti mengungkapkan bahwa terkait hal tersebut telah dimuat dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Pertanian dan Surat Keputusan Menteri Pertanian/Ketua Badan Pengendali BIMAS Nomor 14/SK/Mentan/Bimas.XII/1990 tentang pedoman pelaksanaan Pengendalian Hama Terpadu. Didalam peraturan, yang dimaksudkan dengan PHT adalah suatu konsep pengendalian hama yang memadukan beberapa cara pengendalian untuk mempertahankan hasil panen yang tinggi dan menguntungkan petani serta memelihara kelestarian lingkungan. Pemerintah mengharapkan dalam rangka penggunaan pestisida dilaksanakan secara benar sesuai dengan aturan yang telah direkomendasikan. Namun aplikasi pestisida secara langsung di lapangan masih terbentur oleh beberapa faktor diantaranya faktor pengetahuan petani tentang pestisida, sikap petani terhadap peraturan penggunaan pestisida dan tindakan penggunaannya.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjajaki pengetahuan petani tentang pestisida, sikap petani terhadap peraturan yang ditetapkan, tindakan petani dalam penggunaan pestisida dan menganalisis korelasi antar variabel serta mengetahui dampak negatifnya pada aktivitas Acetylcholinesterase. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Stratified Sampling yang didasarkan pada jenjang pendidikan formal dan sekolah lapang pengelolaan hama terpadu (SLPHT).

Secara umum petani SLPHT dan Non SLPHT pada masing-masing jenjang pendidikan memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda. Penelitian ini menyebutkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan dan keikutsertaannya dalam sekolah lapang hama terpadu memiliki pengetahuan yang lebih tinggi. Perbedaan ini sangat dimungkinkan oleh lamanya pendidikan dan bobot kurikulum yang diterima masing-masing petani selama menempuh jenjang pendidikan formal. Pada variabel sikap terhadap aturan penggunaan pestisida, petani SLPHT lebih tinggi jika dibandingkan dengan petani Non SLPHT. Tingginya jenjang pendidikan mempunyai relevansi positif terhadap penentuan sikap. Sesuai dengan konsep yang digunakan peneliti, yaitu menurut Mar’at (1994) yang menyatakan bahwa terbentuknya sikap sangat dipengaruhi oleh aspek kemampuan Cognitif yang berupa pengetahuan yang didasarkan pada informasi yang berhubungan dengan suatu obyek tertentu.

Penelitian ini menggunakan analisis Rank Spearman’s antara pengetahuan dan sikap petani SLPHT menunjukkan korelasi yang sangat signifikan (skor : 0.61) sebaliknya dengan petani Non SLPHT (skor : 0.28). Hal ini menunjukkan bahwa SLPHT telah mampu mempengaruhi petani untuk menentukan sikap terhadap aturan penggunaan pestisida. Muatan kurikulum yang diberikan dalam SLPHT dengan tegas memberikan pertimbangan bahwa dalam penggunaan pestisida di lahan oleh seorang petani harus mempertimbangkan tiga aspek meliputi aspek ekonomi, sosial dan ekologi. Rendahnya korelasi antara pengetahuan dan sikap pada petani Non SLPHT disebabkan oleh tidak ada kontribusi muatan SLPHT kepadanya, sehingga bentukan sikap yang diambil lebih banyak dipengaruhi oleh informasi yang diyakini kebenarannya secara turun temurun yang diperoleh secara pribadi ataupun komunikasi antar petani.

Hubungan antara sikap dan tindakan petani dalam penggunaan pestisida pada kedua kelompok tani menunjukkan korelasi yang tidak signifikan. Pada petani SLPHT (skor ; 0.37) sedangkan petani Non SLPHT (skor : 0.39). Tidak konsistennya petani ditandai dengan melakukan penyemprotan secara terjadwal, tidak tepatnya sasaran, tidak tepat dosis (kecenderungan mencampur beberapa pestisida), tidak menggunakan kelengkapan pengamanan diri dan kurang memperhatikan kelestarian lingkungan. Beberapa faktor yang mempengaruhi lemahnya hubungan antara sikap dan tindakan petani adalah (1) Anxienty artinya petani merasa cemas yang sangat hebat jika terjadi kegagalan panen yang mengakibatkan nilai investasi yang tidak kembali (Biaya per hektar bisa mencapai Rp. 36,6 juta/ha), (2) Forcasting, lemahnya kemampuan petani untuk memprediksi serangan hama dan penyakit kedepan selama musim tanam, hal ini khususnya bagi petani SLPHT sehingga kecenderungan melakukan penyemprotan secara terjadwal, (3) Rendahnya kesadaran petani dalam implementasi PHT hal ini didorong oleh kurangnya pengelolaan dan pemantauan berkesinambungan oleh pegawai Penyuluh Lapangan, (4) Behavior Intention, petani memiliki niat berperilaku PHT karena dukungan aspek Cognitif, namun implementasinya sangat dipengaruhi oleh situasi sekitarnya, sehingga keinginan berperilaku sesuai aturan menjadi terhambat, (5) Internal Conflic, faktor internal yang paling berpengaruh adalah antara pemenuhan kebutuhan dan kendala usahanya, gangguan OPT yang hebat menimbulkan kekawatiran yang selanjutnya menimbulkan kecemasan yang sangat hebat (kekalutan) sehingga mendorong petani bertindak yang tidak terarah dalam mengaplikasikan pestisida.
Dalam penelitian ini sebagai parameter terpapar oleh pestisida adalah gangguan aktivitas Acetylcholinesterase darah. Hasil pengujian darah petani pengguna pestisida di tiga kecamatan telah dinyatakan terpapar pestisida khususnya organofosfat dan karbamat terhadap aktivitas Acetylcholinesterase darah 19, 81% mengalami gangguan kategori sedang dan 34,67 % kategori ringan. Hasil tersebut sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang digunakan peneliti sebagai pembanding, yaitu bedasarkan hasil penelitian Nuryana (2005) petani bawang merah yang sering kontak dengan pestisida di wilayah Brebes telah terpapar pestisida yang ditandai dengan penurunan aktifitas Acetylcholinesterase pada kategori ringan sampai sedang.

Analisis Pustaka

Penelitian ini menambah pengetahuan terkait pengetahuan, sikap, dan tindakan petani dalam kegiatan pertanian yang dilakukan petani. Semakin tinggi jenjang pendidikan mempengaruhi pengetahuan dan sikap yang dilakukan oleh petani untuk tidak menggunakan pestisida. Namun, pembahasan mengenai apa itu Acetylcholinesterase kurang begitu dijelaskan pada penelitian ini. Penelitian ini juga kurang didukung oleh teori yang sesuai.

Pola Komunikasi Petani dalam Rangka Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani di Desa Ngabeyan, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri

August 11, 2017
Pola Komunikasi Petani dalam Rangka Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani di Desa Ngabeyan, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri

Sektor pertanian sebagai tumpuan utama dalam penyediaan pangan kini semakin berat dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya jumlah penduduk yang berarti pula peningkatan jumlah kebutuhan pangan, namun di sisi lain sektor pertanian semakin terpuruk akibat semakin rendahnya daya dukung lingkungan. Diantaranya adalah kerusakan lahan akibat revolusi hijau. Dilihat dari sisi produksi dan kelembagaan pangan, rumah tangga petani memegang peranan penting sebagai pelaku yang bergerak di sektor produksi bahan pangan dan di sisi lain sebagai sub sistem rumah tangga dan juga dalam pengaturan pola konsumsi dan pengadaan dan pola cadangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan pola komunikasi petani dalam rangka ketahanan pangan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan hasil penelitian ini adalah terdapat tiga pola komunikasi petani di Desa Ngabayen, yaitu komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, dan kemunikasi massa.

Hasil penelitian terkait pola komunikasi petani di Desa Ngabeyan disajikan dalam tiga pola komunikasi, yaitu (1) komunikasi interpersonal, (2) komunikasi kelompok, dan (3) komunikasi massa. Pola-pola komunikasi tersebut merupakan cara-cara berkomunikasi petani Desa Ngabeyan dalam memperbincangkan usahatani untuk ketahanan pangan rumah tangga mereka.

Pola komunikasi interpersonal petani melibatkan beberapa sumber informasi terdekat secara fisik maupun psikologis, seperti orang tua saudara atau kerabat dan tetangga yang sama-sama bekerja sebagai petani. Arus informasi yang terjadi dalam pola komunikasi interpersonal adalah dua arah (timbal balik), sumber (komunikator) dan penerima (komunikan) secara langsung saling berganti peran.

Komunikasi kelompok dapat terjadi pada kelompok formal maupun kelompok-kelompok informal yang ada dalam masyarakat Desa Ngabeyan, sebagai contoh komunikasi yang terjadi dalam pertemuan kelompok tani, percapakan dalam kelompok-kelompok ketetanggaan, dan dalam diskusi kelompok mengerjakan sawah dan sebagainya. Kelompok ketetangga di sini adalah ketetanggaan karena kedekatan tempat tinggal maupun ketetanggan karena berdekatan lahan garapan. Kelompok ini biasanya terdiri atas bapak-bapak dalam sebuah kelompok, sedangkan ibu-ibu juga mempunyai kelompok tersediri. Sedangkan kelompok ketetanggan lahan garapan adalah kumpulan orang-orang yang memiliki lahan garapan (sawah) saling berdekatan atau sehamparan.

Terdapat tiga arus informasi yang terjadi dalam komunikasi kelompok, pertama komunikasi ke bawah. Arus informasi ini terjadi ketika ketua kelompok tani dan PPL berperan sebagai sumber informasi yang menyampaikan pesan langsung ke anggota dalam pertemuan kelompok. Kedua, arus informasi ke atas, dalam arus informasi ini terjadi ketika anggota biasanya menanyakan kembali informasi yang disampaikan ketua kelompok tani atau yang berkaitan dengan adanya informasi bantuan benih. Ketiga adalah arus informasi yang bersifat lateral yang berlangsung antar anggota. Komunikasi lateral ini dapat terjadi di sela-sela kegiatan pertemuan kelompok tani atau pun dalam perbincangan di luar pertemuan.

Dalam kelompok ketetanggaan yang terdiri dari bapak-bapak ini terjadi komunikasi dimana sumber (komunikator) adalah mereka yang tergabung dalam kelompok tersebut. Semua anggotanya dapat berperan sebagai sumber informasi maupun penerima informasi (komunikan) secara bergantian. Dalam komunikasi kelompok ini arus komunikasi bersifat lateral, semua yang tergabung dalam kelompok mempunyai kedudukan sejajar dapat menyampaikan informasi.

Pesan atau informasi terkait usahatani untuk ketahanan pangan rumah tangga mereka yang diperbincangkan antara lain kondisi sawah mereka terutama menghadapi kemarau panjang yang baru saja terjadi. Pertemuan yang dilakukan hampir setiap malam hari merupakan media atau saluran yang digunakan kelompok- kelompok ketetanggaan ini untuk memperbincangkan usahatani terkait ketahanan pangan rumah tangga petani yang ada di Desa Ngabeyan.

Setiap pertemuan dalam sanja (berkunjung dan berkumpul di salah satu rumah tetangga) merupakan saluran interpersonal bagi kelompok ibu-ibu yang berdekatan tempat tinggal ini. Mereka selalu terlibat dalam pembicaraan. Setiap anggota dapat berperan sebagai sumber (komunikator) maupun sebagai komunikan secara bergantian (timbal balik).

Individu-individu yang tergabung dalam kelompok ketetanggaan lahan garapan berperan sebagai sumber (komunikator) maupun penerima pesan (komunikan) secara bergantian atau timbal balik. Arus komunikasi yang terjadi bersifat lateral, setiap individu menempati posisi yang sama dalam meyampaikan pesan. Oleh karena itu dengan kelompok inilah mereka berdiskusi sebelum mengolah lahan mereka terutama menjelang musim tanam. Mereka mendiskusikan jenis tanaman apa yang akan ditanam misalnya mereka sepakat untuk menanam padi jenis umbul-umbul dan melakukan tumpang sari jagung dan kacang tanah.

Penelitian ini mengungkapkan beberapa alasan yang disampaikan oleh 15 informan petani mengenai kurangnya mereka mengakses media massa radio dan televisi adalah sebagai berikut:
1) Terlalu letih dengan pekerjaannya di sawah membuat malas untuk mengkases media massa tersebut dan memilih untuk beristirahat.
2) Televisi lebih banyak dikuasai oleh anggota keluarga lain (anak) sehingga acara yang ditonton atau diikuti sesuai dengan selera mereka.
3) Jika ada waktu menonton, acara yang diakses sebatas untuk kepentingan hiburan dan mengetahui peristiwa terkini.
4) Tidak mengetahui waktu dan stasiun televisi atau radio yang menyajikan informasi pertanian.
5) Berita yang disampaikan tidak sesuai dengan kondisi pertanian mereka.

Berdasarkan teori atraksi interpersonal, penulis menggunakan teori yang dikemukakan oleh Dean C. Barlund yang dikutip oleh Rakhmat (1999) dimana menyatakan bahwa arus komunikasi interpersonal dapat diramalkan dengan mengetahui siapa tertarik kepada siapa atau siapa menghindari siapa. Atraksi interpersonal merupakan kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Masih mengutip dari Rakhmat (1999), menjelaskan bahwa bila individu-individu berinteraksi dan saling mempengaruhi, maka terjadilah (1) proses belajar yang meliputi aspek kognitif dan afektif (aspek berpikir dan aspek merasa), (2) proses penyampaian dan penerimaan lambang-lambang (komunikasi), dan (3) mekanisme penyesuian diri seperti sosialisasi, identifikasi dan sebagainya.

Pada kasus dalam penelitian ini, petani kurang tertarik mengakses televisi dan radio karena hanya menerima infomasi yang disampaikan oleh sumber tanpa bisa turut mengendalikan mana pesan yang sesuai untuknya misalnya informasi-informasi mengenai pertanian di lahan tadah hujan atau tentang permasalahan yang sesuai dengan apa yang dihadapinya. Oleh karena itu, dalam hal ini pengaksesan media massa hanya sebatas untuk mendapatkan berita terkini dan sebagai hiburan.

Analisis Pustaka:

Temuan dalam penelitian ini mampu menambah pengetahuan dimana perilaku komunikasi memiliki pengertian yang hampir sama dengan pola komunikasi. Perilaku komunikasi akan menentukan pola komunikasi apa yang sesuai untuk digunakan dalam memperoleh informasi. Pembahasan dalam penelitian ini sudah cukup jelas dan spesifik, bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami, dan kedalaman materi yang disajikan cukup dalam. Dari segi teori yang digunakan dalam penelitian ini sudah cukup dalam, terbukti dengan banyaknya teori yang digunakan dalam setiap sub bab pembahasan sehingga hasil yang diperoleh dapat langsung dibandingkan dengan teori yang ada sebagai penguat penelitian ini. Selain itu, hal yang dapat ditarik sebagai kesimpulan dari kasus penelitian tersebut adalah penggunaan komunikasi massa dalam kegiatan pertanian tidak selalu memberikan dampak positif bagi petani. Hal tersebut dikarenakan pesan yang disampaikan oleh media massa tidak sesuai dengan sistem pertanian setempat. Oleh karena itu, perlu adanya penyesuaian terlebih dahulu dalam penggunaan komunikasi massa terhadap lingkungan daerah setempat.

Peranan Media Massa dalam Penyebaran Informasi Pertanian di Kalangan Petani Sayuran di Lampung

August 10, 2017
Pola Komunikasi Petani dalam Rangka Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani di Desa Ngabeyan, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri Tahun : 2007 Jenis Pustaka : Jurnal Bentuk Pustaka : Elektronik Nama Penulis : Emi Widiyanti Nama Jurnal : M’Power Volume (edisi); hal :  Vol. V, No. 5; 24-35 Alamat URL/doi        : http://pppm.pasca.uns.ac.id/wp-  content/uploads/2012/09/Emi.pdf Tanggal diunduh : 20 Oktober 2014, pukul 09.35 WIB  Ringkasan Pustaka:  Sektor pertanian sebagai tumpuan utama dalam penyediaan pangan kini semakin berat dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya jumlah penduduk yang berarti pula peningkatan jumlah kebutuhan pangan, namun di sisi lain sektor pertanian semakin terpuruk akibat semakin rendahnya daya dukung lingkungan. Diantaranya adalah kerusakan lahan akibat revolusi hijau. Dilihat dari sisi produksi dan kelembagaan pangan, rumah tangga petani memegang peranan penting sebagai pelaku yang bergerak di sektor produksi bahan pangan dan di sisi lain sebagai sub sistem rumah tangga dan juga dalam pengaturan pola konsumsi dan pengadaan dan pola cadangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan pola komunikasi petani dalam rangka ketahanan pangan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan hasil penelitian ini adalah terdapat tiga pola komunikasi petani di Desa Ngabayen, yaitu komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, dan kemunikasi massa.  Hasil penelitian terkait pola komunikasi petani di Desa Ngabeyan disajikan dalam tiga pola komunikasi, yaitu (1) komunikasi interpersonal, (2) komunikasi kelompok, dan (3) komunikasi massa. Pola-pola komunikasi tersebut merupakan cara-cara berkomunikasi petani Desa Ngabeyan dalam memperbincangkan usahatani untuk ketahanan pangan rumah tangga mereka. Pola komunikasi interpersonal petani melibatkan beberapa sumber informasi terdekat secara fisik maupun psikologis, seperti orang tua saudara atau kerabat dan tetangga yang sama-sama bekerja sebagai petani. Arus informasi yang terjadi dalam pola komunikasi interpersonal adalah dua arah (timbal balik), sumber (komunikator) dan penerima (komunikan) secara langsung saling berganti peran. Komunikasi kelompok dapat terjadi pada kelompok formal maupun kelompok-kelompok informal yang ada dalam masyarakat Desa Ngabeyan, sebagai contoh komunikasi yang terjadi dalam pertemuan kelompok tani, percapakan dalam kelompok-kelompok ketetanggaan, dan dalam diskusi kelompok mengerjakan sawah dan sebagainya. Kelompok ketetangga di sini adalah ketetanggaan karena kedekatan tempat tinggal maupun ketetanggan karena berdekatan lahan garapan. Kelompok ini biasanya terdiri atas bapak-bapak dalam sebuah kelompok, sedangkan ibu-ibu juga mempunyai kelompok tersediri. Sedangkan kelompok ketetanggan lahan garapan adalah kumpulan orang-orang yang memiliki lahan garapan (sawah) saling berdekatan atau sehamparan. Terdapat tiga arus informasi yang terjadi dalam komunikasi kelompok, pertama komunikasi ke bawah. Arus informasi ini terjadi ketika ketua kelompok tani dan PPL berperan sebagai sumber informasi yang menyampaikan pesan langsung ke anggota dalam pertemuan kelompok. Kedua, arus informasi ke atas, dalam arus informasi ini terjadi ketika anggota biasanya menanyakan kembali informasi yang disampaikan ketua kelompok tani atau yang berkaitan dengan adanya informasi bantuan benih. Ketiga adalah arus informasi yang bersifat lateral yang berlangsung antar anggota. Komunikasi lateral ini dapat terjadi di sela-sela kegiatan pertemuan kelompok tani atau pun dalam perbincangan di luar pertemuan. Dalam kelompok ketetanggaan yang terdiri dari bapak-bapak ini terjadi komunikasi dimana sumber (komunikator) adalah mereka yang tergabung dalam kelompok tersebut. Semua anggotanya dapat berperan sebagai sumber informasi maupun penerima informasi (komunikan) secara bergantian. Dalam komunikasi kelompok ini arus komunikasi bersifat lateral, semua yang tergabung dalam kelompok mempunyai kedudukan sejajar dapat menyampaikan informasi. Pesan atau informasi terkait usahatani untuk ketahanan pangan rumah tangga mereka yang diperbincangkan antara lain kondisi sawah mereka terutama menghadapi kemarau panjang yang baru saja terjadi. Pertemuan yang dilakukan hampir setiap malam hari merupakan media atau saluran yang digunakan kelompok- kelompok ketetanggaan ini untuk memperbincangkan usahatani terkait ketahanan pangan rumah tangga petani yang ada di Desa Ngabeyan. Setiap pertemuan dalam sanja (berkunjung dan berkumpul di salah satu rumah tetangga) merupakan saluran interpersonal bagi kelompok ibu-ibu yang berdekatan tempat tinggal ini. Mereka selalu terlibat dalam pembicaraan. Setiap anggota dapat berperan sebagai sumber (komunikator) maupun sebagai komunikan secara bergantian (timbal balik). Individu-individu yang tergabung dalam kelompok ketetanggaan lahan garapan berperan sebagai sumber (komunikator) maupun penerima pesan (komunikan) secara bergantian atau timbal balik. Arus komunikasi yang terjadi bersifat lateral, setiap individu menempati posisi yang sama dalam meyampaikan pesan. Oleh karena itu dengan kelompok inilah mereka berdiskusi sebelum mengolah lahan mereka terutama menjelang musim tanam. Mereka mendiskusikan jenis tanaman apa yang akan ditanam misalnya mereka sepakat untuk menanam padi jenis umbul-umbul dan melakukan tumpang sari jagung dan kacang tanah. Penelitian ini mengungkapkan beberapa alasan yang disampaikan oleh 15 informan petani mengenai kurangnya mereka mengakses media massa radio dan televisi adalah sebagai berikut: 1) Terlalu letih dengan pekerjaannya di sawah membuat malas untuk mengkases media massa tersebut dan memilih untuk beristirahat. 2) Televisi lebih banyak dikuasai oleh anggota keluarga lain (anak) sehingga acara yang ditonton atau diikuti sesuai dengan selera mereka. 3) Jika ada waktu menonton, acara yang diakses sebatas untuk kepentingan hiburan dan mengetahui peristiwa terkini. 4) Tidak mengetahui waktu dan stasiun televisi atau radio yang menyajikan informasi pertanian. 5) Berita yang disampaikan tidak sesuai dengan kondisi pertanian mereka. Berdasarkan teori atraksi interpersonal, penulis menggunakan teori yang dikemukakan oleh Dean C. Barlund yang dikutip oleh Rakhmat (1999) dimana menyatakan bahwa arus komunikasi interpersonal dapat diramalkan dengan mengetahui siapa tertarik kepada siapa atau siapa menghindari siapa. Atraksi interpersonal merupakan kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Masih mengutip dari Rakhmat (1999), menjelaskan bahwa bila individu-individu berinteraksi dan saling mempengaruhi, maka terjadilah (1) proses belajar yang meliputi aspek kognitif dan afektif (aspek berpikir dan aspek merasa), (2) proses penyampaian dan penerimaan lambang-lambang (komunikasi), dan (3) mekanisme penyesuian diri seperti sosialisasi, identifikasi dan sebagainya. Pada kasus dalam penelitian ini, petani kurang tertarik mengakses televisi dan radio karena hanya menerima infomasi yang disampaikan oleh sumber tanpa bisa turut mengendalikan mana pesan yang sesuai untuknya misalnya informasi-informasi mengenai pertanian di lahan tadah hujan atau tentang permasalahan yang sesuai dengan apa yang dihadapinya. Oleh karena itu, dalam hal ini pengaksesan media massa hanya sebatas untuk mendapatkan berita terkini dan sebagai hiburan.  Analisis Pustaka:  Temuan dalam penelitian ini mampu menambah pengetahuan dimana perilaku komunikasi memiliki pengertian yang hampir sama dengan pola komunikasi. Perilaku komunikasi akan menentukan pola komunikasi apa yang sesuai untuk digunakan dalam memperoleh informasi. Pembahasan dalam penelitian ini sudah cukup jelas dan spesifik, bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami, dan kedalaman materi yang disajikan cukup dalam. Dari segi teori yang digunakan dalam penelitian ini sudah cukup dalam, terbukti dengan banyaknya teori yang digunakan dalam setiap sub bab pembahasan sehingga hasil yang diperoleh dapat langsung dibandingkan dengan teori yang ada sebagai penguat penelitian ini. Selain itu, hal yang dapat ditarik sebagai kesimpulan dari kasus penelitian tersebut adalah penggunaan komunikasi massa dalam kegiatan pertanian tidak selalu memberikan dampak positif bagi petani. Hal tersebut dikarenakan pesan yang disampaikan oleh media massa tidak sesuai dengan sistem pertanian setempat. Oleh karena itu, perlu adanya penyesuaian terlebih dahulu dalam penggunaan komunikasi massa terhadap lingkungan daerah setempat.

Media massa merupakan sebuah media dimana menghadirkan realitas sosial yang penting bagi manusia. Realita tersebut mungkin berupa perilaku, mode, bahkan sikap pada ideologi tertentu. Respon yang akan timbul tersebut tergantung pada kesiapan yang bersangkutan ketika menerima informasi dari televisi. Pendidikan dapat berperan sebagai filter untuk mencegah timbulnya efek negatif dari sebuah media massa. Selain itu, kualitas informasi yang dihadirkan juga dapat dipakai sebagai tolok ukur untuk memantau sampai sejauh mana informasi tersebut menimbulkan dampak positif pada kehidupan manusia, baik pada aspek moral maupun pada aspek lain.

Sebagai suatu media massa audiovisual moderen, televisi memiliki daya tarik luar biasa. Televisi mampu mengantarkan pesan-pesan kepada pemirsa di rumah atau di tempat lain secara langsung. Berbagai suguhan informasi atau hiburan itu membuka mata pemirsa. Lokasi penelitian di Provinsi Lampung dengan mengambil dua desa sebagai sampel penelitian, yaitu Desa Sumber Agung dan Desa Tanjung Raya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan kepemilikan media massa, perbedaan aktivitas menonton televisi, perbedaan acara televisi yang diminati, perbedaan peranan televisi dalam penyebaran informasi pertanian, dan faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan peranan televisi dalam penyebaran informasi pertanian oleh petani hortikultura di dua desa tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan media massa di kedua desa tersebut berbeda dikarenakan faktor kedekatan dengan sumber informasi, yaitu pasar. Diketahui bahwa Desa Sumber Agung lebih memiliki akses untuk memiliki media massa karena letaknya yang tidak jauh dari pasar. Aktivitas mengikuti acara televisi juga lebih banyak dilaksanakan oleh petani di Kelurahan Sumber Agung karena berdekatan dengan pusat informasi. Peranan televisi dalam penyebaran informasi pertanian di Desa Tanjung Raya tergolong rendah karena petani di daerah tersebut kurang tertarik untuk menyaksikan acara informasi pertanian dengan alasan tidak sesuai dengan waktu istirahat mereka. Penelitian ini mengungkapkan bahwa tidak adanya hubungan antara kepemilikan media komunikasi dengan peranan televisi karena acara yang ditonton oleh petani bukanlah acara informasi pertanian. Selain itu, penelitian ini juga menyatakan bahwa tidak adanya hubungan antara aktivitas petani menonton televisi dengan persepsi petani tentang peranan televisi sebagai sumber informasi. Hal ini terjadi karena petani lebih banyak menonton hiburan ketika melepas lelah. Akan tetapi, terdapat hubungan antara jenis siaran yang diminati petani dengan persepsi petani tentang peranan media massa sebagai sumber informasi. Semakin besar minat petani untuk menyaksikan acara informasi pertanian maka akan semakin besar pula persepsi responden tentang peranan televisi dalam penyebaran informasi pertanian.

Dalam penelitian ini juga menyebutkan bahwa orang cenderung menerima dan mencari informasi dengan cara yang berbeda. Raymond (dalam Depari, 1991) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut ialah pendidikan atau intelegensia seseorang. Orang yang terdidik dan intelegensianya baik, cenderung lebih menyukai media cetak. Orang tersebut memiliki lebih banyak informasi. Karena itu ia tidak mudah dipengaruhi atau mengubah sikapnya. Untuk meyakinkan orang yang itu, perlu argumentasi atau alasan yang kuat dan logis.

Analisis Pustaka
Penelitian tersebut mampu menambah pengetahuan penulis terkait hubungan media massa dengan penyebaran informasi pertanian di kalangan petani dimana jangkauan media massa belum terlalu luas dalam menjangkau petani untuk memanfaatkannya. Hal tersebut berkaitan dengan lokasi tempat tinggal petani yang jauh dari kota sebagai pusat informasi. Hasil penelitian yang disajikan sudah terbilang lengkap, akan tetapi dalam penulisan akhir tidak dijelaskan secara rinci definisi-definisi yang jelas untuk memudahkan pembaca dalam menganalisis maksud dari penulisan tersebut dan kurang didukung teori yang sesuai.


Pengertian Fungi (Jamur) dan Peranannya Dibidang Pertanian

January 20, 2017
Jamur pada umumnya adalah jasad yang berbentuk benang, multiseluler, tidak berkhlorofil dan belum mempunyai diferensiasi dalam jaringan. Ada pula yang hanya terdiri dari satu sel.  Diperkirakan >100.000 jenis fungi yang berbeda mengambil bagian dalam daur alam, untunglah hanya sedikit yang menyebabkan penyakit.

Pengertian Fungi (Jamur) dan Peranannya Dibidang Pertanian

Peranan jamur dalam alam sangat besar, ada yang merugikan, berbahaya dan ada yang menguntungkan.  Spesies jamur yang nonpatogen meliputi spesies yang melakukan perombakan bahan organik dalam tanah, perusak kayu dan bahan lain.

Habitat jamur, Penyebaran jamur di alam sangat luas. Jamur terdapat dalam tanah, buah-buahan, dalam air, bahan organik, bahan makanan, sebagai saprofit atau parasit pada tanaman, hewan dan manusia.  Spora jamur beterbangan diudara dan spora tersebut akan berkecambah menjadi sel vegetatif jika jatuh di tempat yang memungkinkan untuk hidupnya.

Struktur jamur.  Walaupun jamur dapat dilihat, namun masing-masing sel adalah mikroskopik.  Jamur tersusun atas benang-benang sel yang disebut hifa. Jika jamur tumbuh, hifa saling membelit untuk membentuk massa benang yang disebut miselium yang cukup besar untuk dilihat dengan mata.

Ada dua tipe hyfa, yaitu a. Hifa fertil (hifa yang dapat membentuk sel reproduksi atau spora dan b. Hifa vegetatif (hifa yang berfungsi untuk menyerap makanan dari substrat.
Hifa juga ada yang mempunyai dinding penyekat (septa) yang membagi masing-masing hifa menjadi banyak sel dengan nukleus masing-masing. Hifa yang tidak bersepta kelihatan seperti satu sel panjang yang mengandung banyak nukleus yang disebut hifa senosit.  Ukuran sel yang menyusun hifa berbeda dari satu jamur dengan yang lain. Yang besar diameternya 10 – 20 µm (sel bakteri  ±1 µm),panjang benang juga berbeda-beda.




Perkembang biakan jamur adalah dengan spora, cara bagaimana spora dibuat dapat bersifat  vegetatif (aseksual) dan generatif (seksual).  Secara vegetatif dapat dilakukan dengan fragmentasi miselium, pembentukan tunas dan pembentukan spora aseksual (dihasilkan oleh satu sel tanpa fertilisasi) ex. Pycomycetes, Ascomycetes.  Secara generatif, adalah dengan fusi 2 sel. Proses seksuil hanya terjadi antara hifa atau spora  yang tipe kelaminnya berbeda.
Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap fungi adalah status bahan organik, pH, pupuk, kelengasan, aerasi, temperatur, letak dalam profil.
Diantara beberapa jenis mikro biologi / mikroorganisme yang bermanfaat bagi dunia pertanian tersebut antara lain :
1.                  Acetobacter sp, penghasil vitamin dan fitohormon (ZPT) yang dibutuhkan tanaman.
2.                  Actinomycetes sp,Aeromonas puncata,Alcaligenes sp,Aspergillus niger, pelarut phospat Azospirillum lipoverum, penambat N, pelarut P,penghasil vitamin dan fitohormon (ZPT) yang dibutuhkan tanaman
3.                  Azotobacter beijerinckii, penambat N, pelarut P, penghasil vitamin dan fitohormon (ZPT) yang dibutuhkan tanaman Bacillus cereus, pelarut phospat

4.                  Bacillus megatherium, pelarut phosphat dari ikatan phospor dengan mineral liat Bacillus mojavensis, bersama Streptomyces meningkatkan kemampuan tanah memegang air dan hara.  Bacillus penetrans, biasa nempel di kutikula larva, betina, dewasa, telur Meloidogyne incognita (penyebab puru akar pada tanaman tomat, kubis, buncis, dan kentang). Bacillus polymyxa, pelarut phospat.Bacillus subtilis, pelarut phospat Bacillus thuringiensis, menginfeksi hama melalui kulit tubuhnya
5.                  Beauveria bassiana, mengatasi hama walang sangit,wereng coklat, kutu
6.                  Bradyrizobium sp, Flavobacterium sp, pelarut phospat Gliocadium sp, mengatasi penyakit tular tanah (Phytium sp)
7.                  Glomus agregatum, menaikkan produksi bawang merah
8.                  Lactobacillus sp, penghasil enzim selulosa yang membantu penguraian bahan organik. Metharizium anisopliae, jamur menginfeksi hama melalui kulit tubuhnya
9.                  Methylobacterium sp, penghasil vitamin dan fitohormon (ZPT) yang dibutuhkan tanaman.
10.              Nitrosococcus sp, mengubah amonia menjadi N yg dpt diserap tanaman (NH4+ & NO3?) Nitrosomonas sp, mengubah amonia menjadi N yg dpt diserap tanaman (NH4+ & NO3?)
11.              Penicillium sp, pelarut phospat dari ikatan phospor dengan mineral liat
12.              Pseudomonas fluorescens, mengatasi penyakit tular tanah (Phytium sp). Pseudomonas striata, pelarut phospat, penghasil vitamin dan fitohormon (ZPT) yang dibutuhkan tanaman
13.              Rizobium sp, menambat N setelah menginfeksi akar tanaman (simbiotik), menaikkan produksi kedelai
14.              Saccaromyces sp, perombak selulosa Serratia sp, penghasil vitamin dan fitohormon (ZPT) yang dibutuhkan tanaman
15.              Streptomyces sp, bersama Bacillus mojavensis meningkatkan kemampuan tanah memegang air dan  hara.   Thiobacillus sp, Tricoderma harzianum, mencegah cendawan patogen seperti Plasmodiophora brassicae (akar gada) dan Fusarium sp menyebar di sekitar tanaman
16.              Vertisillium sp, pelindung tanaman dari hama kutu putih