Tingkat Penggunaan Media Massa Kelompok Peternak dalam Jaringan Komunikasi Penyuluhan Sapi Potong

Tingkat Penggunaan Media Massa Kelompok Peternak dalam Jaringan Komunikasi Penyuluhan Sapi Potong

Penelitian ini didesain sebagai penelitian survei deskriptif korelasional dengan analisis menggunakan analisis jaringan komunikasi dan analisis statistik deskriptif. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah telah terjadi pergeseran pola komunikasi peternak anggota kelompok jaringan komunikasi sapi potong dari mengutamakan hubungan komunikasi interpersonal dalam menerima dan menyebarkan informasi ke perilaku komunikasi bermedia, terutama pada perilaku keterdedahan siaran televisi dan surat kabar. Perilaku pemanfaatan media massa di kelompok peternak cenderung telah berubah, yakni dominan terdedah televisi dan radio, yang bukan sepenuhnya dalam mendapatkan informasi teknologi sapi potong tetapi lebih untuk memperoleh berita dan hiburan, karena informasi teknis peternakan tidak disajikan.

Kepemilikan media massa (radio, tv, telepon atau hp, berlangganan koran dan majalah) kelompok peternak kurang maju dan maju cukup beragam. Secara keseluruhan, 71% peternak masuk kategori memiliki dua macam media massa, 11% memiliki satu macam (radio atau televisi) dan 8% memiliki tiga atau lebih (kombinasi radio, tv, telepon/hp, suratkabar, majalah), hampir 10% sama sekali tidak punya media massa di rumahnya. Meski demikian peternak menyatakan tetap menyukai menonton tv atau mendengar radio bersama di rumah sanak keluarga atau menumpang di tetangga. Tidak seorangpun peternak kelompok maju yang tidak memiliki media massa. Terdapat 19% peternak yang tak memiliki media massa pada kelompok kurang maju, dengan proporsi terbesar di Surade (23%). Hal ini karena lokasi kelompok pada penelitian ini berada di dataran tinggi sulit mengakses siaran televisi, hanya stasiun RCTI, SCTV dan Indosiar yang bisa ditangkap melalui parabola, karena stasiun relay hanya terdapat di Cibungur yang jaraknya hampir 7 km dari lokasi kelompok.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa media massa yang hampir dimiliki semua peternak ialah televisi (87%) dan radio (76%), media massa lainnya dengan kepemilikan yang masih masih kecil antara lain: handphone (8%), telepon dan koran (masing-masing 6%) dan majalah (hampir 5%). Peternak kelompok maju lebih banyak memiliki tv, telepon, berlangganan surat kabar dan majalah, sedangkan kepemilikan radio lebih sedikit. Terdapat 71% peternak yang mempunyai kedua macam media (radio dan tv) atau kombinasi dengan surat kabar. Dibandingkan kelompok maju, peternak kelompok kurang maju berperilaku mendengarkan siaran radio lebih besar. Bahkan intensitas dengar radio peternak kelompok maju pun jauh lebih banyak. Penelitian ini sedikitnya mengungkapkan, di tengah maraknya kehadiran tv swasta maupun lokal karena adanya otonomi daerah, radio masih relevan bagi banyak orang desa. Penyebab fenomena ini, di antaranya karena harga sebuah pesawat radio relatif murah dan terjangkau oleh daya beli masyarakat, tidak tergantung arus listrik cukup menggunakan baterei, jam siaran sepanjang hari, dan karena kespesifikan dan kefleksibelan program radio.
Data preferensi yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan, 45% peternak menyukai hiburan, 39% berita, masing-masing delapan persen menyukai kuliah subuh dan siaran pedesaan. Program berita tersebut antara lain berita nasional, manca negara, daerah, aneka berita, desaku maju, desa membangun, dialog dan pengumuman. Program hiburan yang dikenal responden, mencakup wayang, sandiwara, musik (melayu, nasyid, irama padang pasir), dongeng, ludruk, ketoprak, seni tradisional, keroncong, wayang kulit, kasidah, lagu sunda, langgam jawa dan olahraga.

Jika dibandingkan, pada peternak kelompok maju, secara berurutan lebih menyukai berita (42%), hiburan (37%), siaran pedesaan (14%) dan terendah ceramah subuh (7%). Peternak kelompok kurang maju, tendensinya lebih menyukai hiburan/kesenian (53%), berita (36%), ceramah atau kuliah subuh (9%) dan terendah siaran perdesaan (2%).

Penelitian ini menyebutkan bahwa umumnya, interaksi komunikasi yang dilakukan setiap anggota telah membentuk jaringan komunikasi dengan pola cenderung bersifat semi terbuka. Selain melakukan komunikasi penyuluhan sapi potong dengan sesama anggota di dalam jaringan, juga berkomunikasi dengan masyarakat lain.

Hasil penelitian menunjukkan, rata-rata peternak kelompok kurang maju berperilaku menerima informasi agribisnis sapi potong sedikit lebih tinggi dibanding anggota kelompok peternak maju. Begitu pun, perilaku menyebarkan informasi sapi potong yang diperoleh atau dimiliki kepada anggota kelompok maupun tetangga yang berada dalam sistem sosialnya, terlihat bahwa rata-rata peternak kelompok kurang maju berperilaku menyebarkan informasi agribisnis sapi potong lebih tinggi dibanding rata-rata peternak kelompok maju.

Nama Penulis : A. Saleh

Analisis Pustaka:
Temuan dalam penelitian ini mampu menambah pengetahuan dari segi keterdedahan petani dalam penggunaan media massa dalam memperoleh informasi. Dalam hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku komunikasi petani dalam memperoleh informasi tak luput dari peran media massa sendiri yang mampu menyediakan informasi secara praktis kepada khalayak. Namun, kekurangan dalam penelitian ini adalah pemaparan teori-teori yang bersangkutan dengan hasil pembahasan yang kurang terpapar sehingga hasil yang diperoleh tidak mampu dikuatkan dengan teori yang ada. Pembahasan pada penelitian tersebut juga sudah rinci dilihat dari penggunaan media massa di kalangan peternak dipaparkan berdasarkan persentase penggunaan media massa tersebut, dikaitkan pula dengan status ekonomi peternak dalam kepemilikan media massa, dan penggunaan media massa berdasarkan waktu peternak menggunakan media massa.