Pengertian Pohon Beringin Menurut Para Ahli

Pengertian Pohon Beringin Menurut Para Ahli

Beringin  (Ficus benjamina Linn.) adalah salah satu jenis pohon cepat tumbuh  yang  banyak ditemukan  di Indonesia.  Pohon  beringin  tumbuh  dengan  akar  gantung  yang  berkembang  semakin  membesar  dan  kadang menyatu dengan batang utamanya, sehingga batang pohon beringin berbentuk tidak beraturan dan kayunya kurang dimanfaatkan secara optimal. Tulisan ini mempelajari struktur anatomi dan kualitas serat batang utama dan akar gantung pohon beringin (Krisdianto, 2016).


Pohon beringin (Ficus benjamina Linn.) merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak dijumpai di berbagai wilayah Indonesia. Pohon beringin yang merupakan tanaman asli Asia Tenggara termasuk dari Indonesia dan sebagian Australia ini banyak ditanam sebagai tanaman dekoratif di fasilitas umum seperti alun-alun, lapangan umum, perindang jalan maupun tanaman dekoratif di halaman kantor dan rumah (Heyne 1987, Bauer & Speck 2012).

Beringin yang disebut juga waringin atau (agak keliru) ara (ki ara, ki berarti “pohon”), dikenal sebagai tumbuhan pekarangan dan tumbuhan hias pot. Pemulia telah mengembangkan beringin berdaun loreng (variegata) yang populer sebagai tanaman hias ruangan. Beringin juga sering digunakan sebagai objek bonsai.

Beringin (Ficus benjamina dan beberapa jenis lain, suku ara-araan atau Moraceae) sangat akrab dengan budaya asli Indonesia. Tumbuhan berbentuk pohon besar ini sering kali dianggap suci dan melindungi penduduk setempat. Sesaji sering diberikan di bawah pohon beringin yang telah tua dan berukuran besar karena dianggap sebagai tempat kekuatan magis berkumpul. Beberapa orang menganggap tempat di sekitar pohon beringin adalah tempat yang “angker” dan perlu dijauhi

Ficus benjamina termasuk  salah  satu tanaman  dari  famili  Moraceae yang   mudah   tumbuh   di   berbagai   kondisi   lahan termasuk lahan kering (Veneklaas et al. 2002). Pertumbuhan pohon beringin dapat mencapai tinggi hingga 4050 m dengan diameter batang mencapai
100190 cm. Veneklaas et al. (2002) menyebutkan bahwa pohon beringin termasuk tanaman cepat tumbuh dengan kecepatan pertumbuhan 65 mg-1/hari.

Tumbuh di lingkungan terbuka, pohon beringin memiliki banir tinggi yang cukup keras dan menyebar ke berbagai arah, kadang tidak tampak di bawah tanah kemudian muncul kembali di atas permukaan tanah (Boer & Sosef 1998).

Pohon beringin yang secara internasional dikenal dengan nama Benjamin’s fig atau weeping fig ini juga dikembangkan sebagai tanaman hias di dalam rua- ngan dalam pot atau tanaman bonsai. Dalam bentuk tanaman kecil beringin sedikit menghasilkan getah, sehingga mengurangi resiko alergi kulit dan per- nafasan akibat terkontaminasi getah pohon beringin (Frankland 1999; Hemmer et al. 2004). Pengem- bangan tanaman beringin untuk di luar ruangan relatif lebih disukai, karena bentuk tajuknya menarik dan mampu berfungsi sebagai peneduh dan perbanyakan tanamannya relatif mudah dengan mengandalkan penyerbukan dari lebah. Namun demikian, perbanya- kan alami Ficus benjamina telah dilaporkan tidak terkendali di beberapa negara dan menggolongkan tanaman ini sebagai tanaman yang bersifat invasif (invasive species) (Starr et al. 2003).

Beringin (Ficus benjamina L) itu adalah pohon yang memulai hidupnya sebagai epifit ketika bijinya bersemai di celah atau retakan pohon induknya (atau struktur seperti bangunan dan jembatan). Biasanya beringin merupakan jenis umum yang berasal dari India bernama Ficus benghalensis, pohon nasional India, kemudian dipakai untuk semua pohon besar yang siklus hidupnya sama dan secara sistematis tergolong subgenus Urostigma. Biji beringin disebarkan oleh burung pemakan buah. Bijinya tumbuh dan menurunkan akarnya ke tanah dan dapat menyelubungi sebagian pohon inang atau struktur bangunan dengan akarnya, memberinya kesan sebagai pohon pencekik. Kebiasaan tumbuh mencekik ini ditemukan pada sejumlah pohon tropis, khususnya genus Ficus, yang berkompetisi mendapatkan cahaya. Setiap spesies Ficus yang menunjukkan sifat ini bisa disebut pohon pencekik.

Daun pohon beringin besar, berkulit, hijau polos dan bentuknya lonjong. Seperti semua pohon besar, pucuk daun ditutupi oleh dua sisik besar. Saat daun berkembang, sisik ini jatuh. Daun muda memiliki warna kemerahan yang menarik.

Pohon beringin yang lebih tua dicirikan oleh akar gantung yang tumbuh menjadi tunggul kayu tebal yang seiring berjalannya waktu menjadi tidak terbedakan dengan pokok utama pohon. Pohon beringin dapat menyebar menggunakan akar gantung ini untuk menutupi daerahnya. Seperti spesies pohon besar (yang termasuk pohon Ficus carica), beringin memiliki struktur buah yang unik dan tergantung pada ngengat Ficus untuk reproduksinya.

Pengertian Pohon Beringin Menurut Para Ahli

Pohon beringin memiliki ciri khas berupa akar gantung yang menjulur dari atas ke bawah dalam jumlah banyak, sehingga tampak seperti garis-garis vertikal yang menopang pohon tersebut (Hemmer et al. 2004). Akar gantung yang berasal dari cabang pohon beringin ini bervariasi diameternya menjuntai menutupi batang utama. Akar gantung yang semula berdiameter kecil ini tumbuh berkembang menjadi besar menutupi batang utama. Akar yang berada paling dekat dengan batang utama berdiameter lebih besar dibandingkan dengan akar gantung yang tumbuh kemudian dan terletak jauh dari batang utama (Boer & Sosef 1998). Akar gantung yang besar dan terletak  dekat  batang  utama  ini  kadang  menempel dan menyatu dengan batang utama, sehingga dalam pertumbuhannya menyatu dengan batang utama, sehingga batang utama pohon beringin tampak tidak beraturan.


Ficus benjamina banyak tumbuh tersebar di ber- bagai lokasi di Indonesia baik di tempat umum mau- pun milik pribadi. Masyarakat beranggapan pohon beringin merupakan pohon yang sakral, sehingga pohon beringin jarang ditebang untuk dimanfaatkan kayunya. Pohon beringin yang tua dan tumbang di daerah pedesaan pada umumnya hanya dimanfaat- kan sebagai kayu bakar, namun pohon beringin yang tumbang di sekitar wilayah perkotaan dibiarkan mem- busuk  tanpa  manfaat. Pohon  beringin yang tumbang tidak dimanfaatkan karena selain menghindari   penggunaan   pohon   yang   dianggap sakral, pohon beringin juga memiliki bentuk batang utama tidak teratur dengan adanya akar gantung. Berbeda dengan jenis pohon Ficus lain dalam satu famili seperti Ficus callosa dan variegata yang me- miliki batang soliter dan silindris tanpa adanya kehadiran akar gantung, kayunya telah dimanfaatkan masyarakat menjadi berbagai produk seperti rangka gambar (picture frame), moulding, dan fancy plywood (Boer & Sosef 1998). Selain itu, keterbatasan infor- masi mengenai karakteristik dasar kayu beringin beserta komponen akar gantungnya dapat menjadi faktor pembatas lain dalam upaya pemanfaatan kayu beringin. Tulisan ini mempelajari struktur anatomi bagian   batang   utama   dan   akar   gantung   pohon beringin sebagai dasar dalam pemanfaatan kayu dan akar gantungnya. 

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda akan langsung ditampilkan, namun Anda perlu memperhatikan tata tertib berkomentar:
1. Komentar harus relevan dengan konten yang dibaca
2. Tidak mengandung unsur SARA dan Provokasi.
3. Tidak menyisipkan link pada isi komentar, link aktif maupun tidak.

Komentar yang tidak memenuhi ketiga syarat tersebut pasti akan kami HAPUS, terima kasih