Faktor Yang Mempengaruhi Proses Perkecambahan Benih

Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi. Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun dari udara (dalam bentuk uap air ataupun embun). Efek yang terjadi membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrio membesar dan biji yang melunak (Latunra, dkk., 2009).
Perkecambahan (Ing. germination) sendiri merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah.
Secara umum, maka proses perkecambahan dirangkaikan sebagai berikut:
1.      Dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih, sehingga melunaknya kulit benih dan hidrasi darip protoplasma.
2.      Terjadinya kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi benih.
3.      Terjadinya penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk melarut dan ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh.
4.      Kemudian, asimilasi dari bahan-bahan yang telah diuraikan tadi di daerah meristematik untuk menghasilkan energi bagi kegiatan pembentukan komponen dan pertumbuhan sel-sel baru.
5.      Dan, terjadilah proses pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik-titik tumbuh.
Pentingnya perkecambahan dalam suatu kegiatan budidaya/usahatani tidak dapat dielakkan dan dipungkiri, tanpa perkecambahan bagaimana mungkin tanaman dapat tumbuh dan berkembang. Kemampuan benih untuk melakukan perkecambahan juga sangat menentukan bagi pengukuran standar minimum sebagai dasar dari kalsifikasi atau penuntun pengukuran untuk menentukan tinggi rendahnya mutu suatu benih. Kepentingan dalam melakukan uji daya kecambah dan kekuatan tumbuh kecambah ini pada akhirnya kan selalu bermuara untuk memenuhi perkembangan bidang teknologi benih yang berorientasi pada pencarian varietas unggul.
Tipe perkecambahan benih jagung ini tergolong ke dalam tipe hipogeal (hypogeous), di mana munculnya radikel diikuti dengan pemanjangan plumula, hipokotil tidak memanjang ke atas permukaan tanah, sedangkan kotiledon tetap berada di dalam kulit biji di bawah permukaan tanah.

Faktor Yang Mempengaruhi Proses Perkecambahan Benih

Proses perkecambahan juga memiliki faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor dalam dan faktor luar:

Faktor dalam meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.      Tingkat kemasakan benih
Benih yang memiliki tingkat kemasakan yang optimal akan menghasilkan kecambah yang maksimal, sedangkan benih yang belum mencapai tingkat kemasakan fisiologis yang matang tidak akan mempunyai viabilitas yang tinggi.
Jika dilhat dari kecepatan perkecambahan dan persentase perkecambahan yang dilakukan praktikan, maka dapat disimpulkan bahwa benih yang digunakan cukup baik tingkat kemasakannya.
2.      Ukuran benih
Di dalam jaringan penyimpan cadangan makanan terdapat karbohidrat, protein, lemak dan mineral. Di mana bahan-bahan ini diperlukan sebagai bahan baku dan energi bagi embrio pada saat perkecambahan. Di duga bahwa benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan lebih banyak dibandingakan dengan benih yang kecil, dan kemungkinan pula embrionya juga lebih besar.
Oleh karena itu biji jagung yang dipilih praktikan dalam praktik ini pun juga biji-biji yang berkuran lebih besar dari semua biji yang tersedia. Mengenai pengaruh ukuran benih terhadap besarnya kecambah ini sesuai dengan pendapat Kuroiwa (1960; dalam Soetono, 1975) yang menyatakan bahwa dari benih yang lebih besar/berat biasanya dihasilkan kecambah tanaman yang lebih besar.
3.      Dormansi
Dormansi dapat disebabakan oleh berbagai faktor antara lain: impermeabilitas kulit biji baik terhadap air atau gas ataupun karena resistensi kulit biji terhadap pengaruh mekanis, embrio yang rudimenter, ”after ripening”, dormansi sekunder dan bahan-bahan penghambat perkecambahan.
Tetapi dengan perlakuan yang dilakukan paraktikan yaitu dengan melakukan perendaman biji di dalam air maka benih jagung yang dorman dapat dirangsang untuk berkecambah lebih cepat.
4.      Penghambat perkecambahan
Banyak zat-zat yang diketahui dapat menghambat perkecambahan benih seperti Auxin dan bahan-bahan yang terkandung dalam biji/buah itu sendiri. Tetapi mengingat setelah dilakukan pematahan dormansi benih yang berkecambah cukup cepat dan persentasenya pun hampir 100% pada hari ke dua setelah tanam maka kemungkinan untuk faktor penghambat perkecambahan dalam biji yang digunakan tidak ada atau sangat rendah.

Faktor luar yang mempengaruhi perkecambahan suatu benih antara lain adalah:
1.      Air
Air merupakan salah satu syarat penting bagi berlangsungnya proses perkecambahan benih. Dua faktor penting yang mempengaruhi peyerapan air oleh benih adalah: (a). Sifat dari benih itu sendiri, terutama kulit pelindungnya, dan (b). Jumlah air yang tersedia pada medium di sekitarnya.
Jagung merupakan benih yang berkecambah pada kandungan air tanah dari titik layu permanen (atau sedikit di atasnya) sampai batas kapasitas lapangan.
2.      Temperatur
Temperatur merupakan syarat penting bagi perkecambahan benih. Jagung merupakan tanaman yang benihnya hanya akan berkecambah pada temperatur yang relatif tinggi, yakni dengan suhu optimum berkisar antara 23 º C - 27 º C.
3.      Cahaya
Kebutuhan benih terhadap cahaya untuk perkecambahannya berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman. Tempat penanaman jagung seharusnya mendapatkan sinar matahari cukup dan jangan terlindung oleh naungan apalagi tempat tumbuh yang tidak mendapatkan cahaya sama sekali.
4.      Oksigen
Oksigen diperlukan tanaman dalam proses fotosintesis dan respirasi, jika oksigen tidak tersedia maka tentu saja perkecambahan tidak akan berlangsung dengan maksimal.
5.      Medium
Medium yang baik untuk perkecambahan benih haruslah mempunyai sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai kemampuan menyimpan air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama cendawan.
Selain medium, tingkat kedalaman penanaman benih juga dapat mempengaruhi perkecambahan benih, dalam hal ini praktikan menamam biji jagung sesuai dengan aturan teknik budidayanya yaitu 2–3 cm.

1.      Kecepatan Perkecambahan
Di mana semakin cepat suatu benih berkecambah, maka semakin cepat pula benih tersebut terbebas dari kondisi dan faktor lingkungan yang tidak menguntungkan. Kecepatan berkecambah merupakan berapa hari yang diperlukan benih untuk berkecambah.
Perhitungan kecepatan perkecambahan terhadap perlakuan yang dianggap terbaik (perlakuan A) adalah:

Kecepatan perkecambahan           = N1T1 + N2T2 + ........ + N10T10
                    Σ  Benih berkecambah
Keterangan:
N   : banyaknya benih yang berkecambah pada hari tertentu
T    : jumlah waktu yang diperlukan untuk berkecambah suatu
  benih (jumlah waktu antara awal pengamatan sampai akhir
  interval tertentu dengan pengamatan perkecambahan).

2.      Persentase Perkecambahan
Yaitu menunjukkan jumlah kecambah normal yang dapat dihasilkan oleh benih murni pada kondisi lingkungan tertentu dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Bila persentase perkecambahan tinggi, maka peluang untuk menjadi tanaman adalah lebih besar, dan sebaliknya.

%   = Σ yang tumbuh     x    100%
         Σ yang ditanam
Vigor (kekuatan tumbuh) adalah kemampuan benih untuk tumbuh normal pada keadaan lingkungan yang sub optimal.
Vigor benih yang tinggi memiliki ciri-ciri: 1). Tahan disimpan lama, 2). Tahan hama penyakit, 3). Cepat dan merata tumbuhnya, 4). Mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam keadaan linkungan tumbuh yang sub optimal.
Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya vigor: 1). Genetis, 2). Fisiologis, 3). Morfologis, 40. Sitologis, 5). Mekanis, 6). Mikrobia
Viabilitas (daya hidup benih) dimana parameternya adalah persentase perkecambahan, perkecambahan harus  cepat dan pertumbuhan kecambahnya kuat.
Untuk menjaga viabilitas benih yang sebaik-baiknya maka benih harus sehat, cukup masak, dipanen dengan hati-hati dan pada saat cuaca kering.
Tipe Epigeal (Epigeous) yaitu perkecambahan suatu benih di mana munculnya radikel diikuti dengan memanjangnya hipokotil secara keseluruhan dan membawa serta kotiledon dan plumula ke atas permukaan tanah.

Artikel Faktor Yang Mempengaruhi Proses Perkecambahan Benih ini dibuat berdasarkan referensi dari materi bahan kuliah saya, semoga membantu dan dapat menambah wawasan Anda.

Comments

Popular posts from this blog

Ketahui 4 Poin Penting Perbedaan Antara BRI Simpedes dan BRI Britama Agar Anda Tidak Salah Pilih

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Radiasi Matahari

Deskripsi dan Klasifikasi Pohon Beringin