Faktor Dalam dan Faktor Luar yang Mempengaruhi Proses Perkecambahan

Secara umum jagung mempunyai pola pertumbuhan yang sama, namun interval waktu antartahap pertumbuhan dan jumlah daun yang berkembang dapat berbeda. Pertumbuhan jagung dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu:
(1) fase perkecambahan, saat proses imbibisi air yang ditandai dengan pembengkakan biji sampai dengan sebelum munculnya daun pertama;

(2) fase pertumbuhan vegetatif, yaitu fase mulai munculnya daun pertama yang terbuka sempurna sampai tasseling dan sebelum keluarnya bunga betina (silking), fase ini diidentifiksi dengan jumlah daun yang terbentuk; dan

(3) fase reproduktif, yaitu fase pertumbuhan setelah silking sampai masak fisiologis.

Faktor Dalam dan Faktor Luar yang Mempengaruhi Proses Perkecambahan

Perkecambahan benih jagung terjadi ketika radikula muncul dari kulit biji. Benih jagung akan berkecambah jika kadar air benih pada saat di dalam tanah meningkat >30% (McWilliams et al. 1999). Proses perkecambahan benih jagung, mula-mula benih menyerap air melalui proses imbibisi dan benih membengkak yang diikuti oleh kenaikan aktivitas enzim dan respirasi yang tinggi. Perubahan awal sebagian besar adalah katabolisme pati, lemak, dan protein yang tersimpan dihidrolisis menjadi zat-zat yang mobil, gula, asam-asam lemak, dan asam amino yang dapat diangkut ke bagian embrio yang tumbuh aktif.

Artikel terkait tentang 'perkecambahan':
• Materi Lengkap Tentang Teknologi Benih
• Proses - Proses Perkecambahan
• Faktor Yang Mempengaruhi Proses Perkecambahan Benih

Pada awal perkecambahan, koleoriza memanjang menembus pericarp, kemudian radikel menembus koleoriza. Setelah radikel muncul, kemudian empat akar seminal lateral juga muncul. Pada waktuyang sama atau sesaat kemudian plumule tertutupi oleh koleoptil. Koleoptil terdorong ke atas oleh pemanjangan mesokotil, yang mendorong koleoptil ke permukaan tanah. Mesokotil berperan penting dalam pemunculan kecambah ke atas tanah. Ketika ujung koleoptil muncul ke luar permukaan tanah, pemanjangan mesokotil terhenti dan plumul muncul dari koleoptil dan menembus permukaan tanah.

Benih jagung umumnya ditanam pada kedalaman 5-8 cm. Bila kelembaban tepat, pemunculan kecambah seragam dalam 2-3 hari setelah tanam. Semakin dalam lubang tanam semakin lama pemunculan kecambah ke atas permukaan tanah. Pada kondisi lingkungan yang kurang optimal, tahap pemunculan berlangsung 4-5 hari setelah tanam, namun pada kondisi yang dingin atau kering, pemunculan tanaman dapat berlangsung hingga dua minggu setelah tanam atau lebih.

Keseragaman perkecambahan sangat penting untuk mendapatkan hasil yang tinggi. Perkecambahan tidak seragam jika daya tumbuh benih rendah yang jika kondisi dan faktor yang mempengaruhi perkecambahan dan pertumbuhan tidak optimal akibatnya tanaman yang terlambat tumbuh tidak normal dan tongkolnya relatif lebih kecil dibanding tanaman yang tumbuh lebih awal dan seragam.

Pada praktikum ini juga dapat dideskripsikan bahwa hal yang terpenting dalam membantu proses perkecambahan jagung adalah pematahan dormansi benih dengan perlakuan perendaman benih terlebih dahulu ± selama 1 x 24 jam. Dikatakan oleh penjual benih, jika tidak dilakukan perendaman terlebih dahulu, maka proses perkecambahan akan lebih lama, sedangkan benih yang digunakan bukan varietas unggul sehingga akan rentan terhadap serangan penyakit selama menunggu kecambah muncul dalam bentuk plumul.

Tipe perkecambahan benih jagung ini tergolong ke dalam tipe hipogeal (hypogeous), di mana munculnya radikel diikuti dengan pemanjangan plumula, hipokotil tidak memanjang ke atas permukaan tanah, sedangkan kotiledon tetap berada di dalam kulit biji di bawah permukaan tanah.

Proses perkecambahan juga memiliki faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Tingkat kemasakan benih
Benih yang memiliki tingkat kemasakan yang optimal akan menghasilkan kecambah yang maksimal, sedangkan benih yang belum mencapai tingkat kemasakan fisiologis yang matang tidak akan mempunyai viabilitas yang tinggi.

Jika dilhat dari kecepatan perkecambahan dan persentase perkecambahan yang dilakukan praktikan, maka dapat disimpulkan bahwa benih yang digunakan cukup baik tingkat kemasakannya.

2. Ukuran benih
Di dalam jaringan penyimpan cadangan makanan terdapat karbohidrat, protein, lemak dan mineral. Di mana bahan-bahan ini diperlukan sebagai bahan baku dan energi bagi embrio pada saat perkecambahan. Di duga bahwa benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan lebih banyak dibandingakan dengan benih yang kecil, dan kemungkinan pula embrionya juga lebih besar.

Oleh karena itu biji jagung yang dipilih praktikan dalam praktik ini pun juga biji-biji yang berkuran lebih besar dari semua biji yang tersedia. Mengenai pengaruh ukuran benih terhadap besarnya kecambah ini sesuai dengan pendapat Kuroiwa (1960; dalam Soetono, 1975) yang menyatakan bahwa dari benih yang lebih besar/berat biasanya dihasilkan kecambah tanaman yang lebih besar.

3. Dormansi
Dormansi dapat disebabakan oleh berbagai faktor antara lain: impermeabilitas kulit biji baik terhadap air atau gas ataupun karena resistensi kulit biji terhadap pengaruh mekanis, embrio yang rudimenter, ”after ripening”, dormansi sekunder dan bahan-bahan penghambat perkecambahan.

Tetapi dengan perlakuan yang dilakukan paraktikan yaitu dengan melakukan perendaman biji di dalam air maka benih jagung yang dorman dapat dirangsang untuk berkecambah lebih cepat.

4. Penghambat perkecambahan
Banyak zat-zat yang diketahui dapat menghambat perkecambahan benih seperti Auxin dan bahan-bahan yang terkandung dalam biji/buah itu sendiri. Tetapi mengingat setelah dilakukan pematahan dormansi benih yang berkecambah cukup cepat dan persentasenya pun hampir 100% pada hari ke dua setelah tanam maka kemungkinan untuk faktor penghambat perkecambahan dalam biji yang digunakan tidak ada atau sangat rendah.

Faktor luar yang mempengaruhi perkecambahan suatu benih antara lain adalah:
1. Air
Air merupakan salah satu syarat penting bagi berlangsungnya proses perkecambahan benih. Dua faktor penting yang mempengaruhi peyerapan air oleh benih adalah: (a). Sifat dari benih itu sendiri, terutama kulit pelindungnya, dan (b). Jumlah air yang tersedia pada medium di sekitarnya.
Jagung merupakan benih yang berkecambah pada kandungan air tanah dari titik layu permanen (atau sedikit di atasnya) sampai batas kapasitas lapangan.

2. Temperatur
Temperatur merupakan syarat penting bagi perkecambahan benih. Jagung merupakan tanaman yang benihnya hanya akan berkecambah pada temperatur yang relatif tinggi, yakni dengan suhu optimum berkisar antara 23 º C - 27 º C.

3. Cahaya
Kebutuhan benih terhadap cahaya untuk perkecambahannya berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman. Tempat penanaman jagung seharusnya mendapatkan sinar matahari cukup dan jangan terlindung oleh naungan apalagi tempat tumbuh yang tidak mendapatkan cahaya sama sekali.

4. Oksigen
Oksigen diperlukan tanaman dalam proses fotosintesis dan respirasi, jika oksigen tidak tersedia maka tentu saja perkecambahan tidak akan berlangsung dengan maksimal.

5. Medium
Medium yang baik untuk perkecambahan benih haruslah mempunyai sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai kemampuan menyimpan air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama cendawan.

Selain medium, tingkat kedalaman penanaman benih juga dapat mempengaruhi perkecambahan benih, dalam hal ini praktikan menamam biji jagung sesuai dengan aturan teknik budidayanya yaitu 2–3 cm.

Untuk membuktikan berpengaruh tidaknya faktor-faktor di atas terhadap perkecambahan benih bisa dilakukan dengan melakukan perhitungan kecepatan berkecambah benih dan persentase perkecambahannya. Perhitungan ini dilakukan untuk benih dengan hasil terbaik menurut pengamatan praktikan, yakni perlakuan A (meletakkan tempat tumbuh pada tempat yang terang (teras rumah, tetapi tidak memiliki penghalang cahaya).

Seperti yang sudah diketahui bahwa ada tiga parameter yang sangat menetukan keberhasilan suatu perkecambahan, yaitu:
a. Kecepatan perkecambahan
b. Persentase perkecambahan
c. Nilai perkecambahan

Pada praktikum kali ini didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Kecepatan Perkecambahan
Di mana semakin cepat suatu benih berkecambah, maka semakin cepat pula benih tersebut terbebas dari kondisi dan faktor lingkungan yang tidak menguntungkan. Kecepatan berkecambah merupakan berapa hari yang diperlukan benih untuk berkecambah.
Perhitungan kecepatan perkecambahan terhadap perlakuan yang dianggap terbaik (perlakuan A)               
2. Persentase Perkecambahan
Bila persentase perkecambahan tinggi, maka peluang untuk menjadi tanaman adalah lebih besar, dan sebaliknya. Perhitungan persentase perkecambahan terhadap perlakuan yang dianggap terbaik (perlakuan A) adalah:

Berdasarkan analisa secara keselurahan, alasan praktikan menetapkan perlakuan A  sebagai perlakukan terbaik dari tiga jenis perlakuan disebabkan karena selain kecepatan berkecambah dan persentase perkecambahannya ”sempurna” juga disebabkan karena penampakan secara fisik kecambah yang tumbuh dalam kondisi bagus, yakni tanaman tampak segar, batang lebih besar, daun lebih banyak dan hijau dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh pada perlakuan C apalagi terhadap perlakuan B.

Tanaman yang tumbuh pada perlakuan C memang lebih tinggi dibanding dengan tanaman yang tumbuh pada perlakuan A, tetapi kondisi fisik tanaman terlihat kurang subur dan kurus, daunnya pun tidak sehijau dan selebar daun tanaman pada perlakuan A. Sedangkan tanaman pada perlakuan B memang tumbuh jauh lebih tinggi dibanding tanaman pada  perlakuan A dan perlakuan C, tetapi kenampakan fisik tanaman sangat jauh dari istilah ”subur”, tanaman pada perlakuan B sangat kurus, daun sangat kuning bahkan hampir putih dan batangnya pun tidak kuat/rebah atau disebut dengan etiolasi, yaitu terjadinya pemanjangan yang tidak normal pada hipokotil atau epikotilnya, dengan kecambah berwarna pucat serta lemah.

Jika dilihat dari semua faktor pemeliharaan, maka semua perlakuan mendapatkan pemeliharaan yang sama persis, jadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya perbedaan kenampakan fisik tanaman tersebut adalah ”cahaya”.

Cahaya merupakan sumber energi dalam fotosintesis. Tanpa cahaya, tumbuhan tidak akan mampu berfotosintesis dengan baik dan menyebabkan tumbuhan terganggu pertumbuhannya. Cahaya juga merupakan faktor penghambat pertumbuhan. Hormon auksin menjadi tidak aktif ketika ada cahaya. Hal ini menyebabkan tumbuhan yang ditanam di tempat terkena cahaya matahari menjadi lebih pendek dibandingkan tumbuhan yang ditanam di tempat gelap.

Kekurangan cahaya pada saat perkecambahan akan menyebabkan gejala etiolasi di mana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat tetapi lemah dan berwarna kuning pucat. Selain itu cahaya juga mempengaruhi arah tumbuh tumbuhan. Peristiwa ini dikenal sebagai fototropisme. Tumbuhan akan tumbuh mengikuti arah datangnya cahaya. Hal ini ada kaitannya dengan kerja hormon auksin.

Hubungan antara pengaruh cahaya dan perkecambahan benih dikontrol oleh suatu sistem pigmen yang dikenal dengan ”Phytochrome”, yang tersusun dari chromophore dan protein, di mana chromophore adalah bagian yang peka terhadap cahaya.

Selain cahaya maka faktor yang kemungkinan memmicu perbedaan fisik antar tanaman tersebut adalah ”oksigen”, dalam perkecambahan terjadi proses respirasi dan akan terus berlangsung selama benih masih hidup. Pada saat perkecambahan berlangsung proses rspirasi akan meningkat disertai pula dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbondioksida, air dan energi yang berupa panas. Terbatasnya oksigen akibat diletakkannya tempat tumbuh bagi biji dengan perlakuan B di dalam kardus tertutup rapat tentu saja akan mengakibatkan pertumbuhannya menjadi tidak normal, sebab proses respirasi dan fotosintesis juga berlangsung tidak dalam kondisi optimal.

Untuk itulah mengapa ilmu teknologi benih sangat penting untuk dipelajari oleh seorang mahasiswa pertanian khususnya dan para pelaku usahatani pada umumnya.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian/praktikum dapat diambil kesimpulan, yaitu:
1. Proses perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah.

Fase perkecambahan dimulai dari proses penyerapan air oleh benih, kemudian terjadinya kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi benih dan terjadinya penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk melarut dan ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh. Setelah itu dihasilkan energi bagi kegiatan pembentukan komponen dan pertumbuhan sel-sel baru. Dan, terjadilah proses pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik-titik tumbuh.

2. Faktor yang mempengaruhi perkecambahan ada 2 yaitu: (1). Faktor dalam: tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan penghambat perkecambahan. (2). Faktor luar meliputi: air, temperatur, oksigen, cahaya, dan medium.

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda akan langsung ditampilkan, namun Anda perlu memperhatikan tata tertib berkomentar:
1. Komentar harus relevan dengan konten yang dibaca
2. Tidak mengandung unsur SARA dan Provokasi.
3. Tidak menyisipkan link pada isi komentar, link aktif maupun tidak.

Komentar yang tidak memenuhi ketiga syarat tersebut pasti akan kami HAPUS, terima kasih